Oleh : Aris Sururi
IAINUonline – Menghapus jejakmu : Ini bukan tentang seberapa sering seseorang menghapus jejak, melainkan seberapa banyak kita belajar untuk tidak meninggalkan kotoran.
Pukul lima kurang sepuluh menit. Langit masih menyisakan warna kelabu. Embun menggantung di ujung daun ketapang yang tumbuh di halaman sekolah. Udara pagi terasa dingin, menyusup melalui sela-sela kemeja lusuh yang dikenakan Pak Budi.
Seperti pagi-pagi sebelumnya, ia datang ketika gerbang sekolah belum sepenuhnya terbuka. Sepeda motornya berhenti di dekat gudang kecil di samping bangunan utama. Setelah meletakkan tas di sudut ruangan, ia mengambil sapu lidi, sapu ijuk, kain pel, dan ember berwarna biru yang catnya mulai mengelupas.
Tidak ada yang berubah dari rutinitasnya.
Menyapu halaman. Mengumpulkan dedaunan. Membersihkan teras. Mengelap kaca jendela. Menyapu lorong kelas. Mengepel lantai. Memeriksa toilet. Kemudian mengulanginya lagi jika diperlukan.
Begitulah hari-hari Pak Budi berjalan.
Ia memulai pekerjaannya dari halaman depan. Daun-daun kering yang jatuh semalaman berkeresekan ketika disapu. Sesekali angin membawa beberapa lembar daun kembali ke tempat yang baru saja dibersihkannya.
Pak Budi tersenyum kecil.
“Belum selesai rupanya,” gumamnya.
Ia mengumpulkan daun-daun itu, memasukkannya ke dalam karung, kemudian mendorong gerobak kecil menuju tempat pembuangan sampah.
Setelah halaman bersih, ia beralih ke teras. Kemudian lorong utama yang menghubungkan ruang guru dengan deretan kelas.
Lantai keramik berwarna putih gading memantulkan cahaya lampu yang masih menyala. Di beberapa sudut, debu tipis terlihat seperti selimut yang menutupi permukaan lantai.
Pak Budi membungkuk. Tangannya bergerak teratur, menyapu setiap sudut, termasuk bagian bawah bangku panjang yang jarang diperhatikan orang.
Satu demi satu sampah kecil dikumpulkannya. Bungkus permen, potongan kertas, sedotan plastik, hingga serpihan daun yang terbawa angin masuk ke lorong.
Setelah selesai menyapu, ia mengambil ember. Air bercampur cairan pembersih dituangkan ke lantai. Aroma karbol perlahan memenuhi udara pagi.
Kain pel bergerak maju dan mundur. Dari ujung lorong menuju pintu kelas, kemudian kembali lagi. Sesekali ia memeras kain pel hingga air keruh menetes ke dalam ember.
Ketika matahari mulai menyembul dari balik bangunan, lantai itu telah bersih. Pak Budi berdiri sejenak. Ia memperhatikan hasil pekerjaannya dengan kedua tangan bertumpu pada pinggang.
Tidak ada sampah. Tidak ada debu. Tidak ada bekas telapak sepatu.
Lorong itu tampak seperti baru saja disiapkan untuk menyambut sesuatu yang istimewa.
Namun, keindahan itu tidak bertahan lama.
Pukul enam lewat tiga puluh menit, suara kendaraan mulai memenuhi halaman sekolah. Sepeda motor orang tua berdatangan. Beberapa siswa turun sambil berlari kecil, sebagian lainnya berjalan bergerombol dengan cerita masing-masing.
Suasana yang semula lengang berubah ramai.
Pak Budi sedang merapikan peralatan di gudang ketika sekelompok siswa melintas di lorong utama. Beberapa di antaranya baru saja melewati halaman yang masih basah akibat hujan semalam.
Sepatu mereka meninggalkan jejak cokelat di atas keramik.
Satu jejak. Dua jejak. Kemudian semakin banyak.
Di dekat pintu kelas, seorang siswa membuka bungkus makanan ringan. Tanpa menoleh, ia menjatuhkan bungkusnya begitu saja di samping pot bunga.
Temannya yang lain menginjak bungkus itu hingga terlipat, lalu terus berjalan.
Di ujung lorong, seorang siswa meminum air kemasan. Setelah habis, botol plastiknya diletakkan di atas ambang jendela.
Pak Budi melihat semuanya.
Ia menarik napas panjang. Kemudian berjalan mendekati pot bunga, mengambil bungkus makanan, dan memasukkannya ke tempat sampah.
Botol plastik di ambang jendela pun ia ambil.
Belum sempat kembali ke gudang, terdengar suara seorang siswa dari belakang.
“Pak, lantainya masih basah, ya?”
Pak Budi menoleh.
“Iya, Nak. Hati-hati, jangan berlari.”
“Iya, Pak.”
Siswa itu menjawab sambil berlalu. Beberapa langkah kemudian, ia kembali berlari mengejar temannya.
Pak Budi hanya menggeleng pelan.
Ia mengambil kain pel dan mengeringkan bagian lantai yang terkena jejak sepatu. Tangannya kembali bekerja, menghapus noda yang baru saja muncul beberapa menit sebelumnya.
Di dalam hatinya, ada sesuatu yang perlahan mengendap.
Pekerjaannya belum genap satu jam, tetapi sebagian harus diulang kembali.
Pukul sembilan pagi, bel istirahat berbunyi. Suara kursi bergeser terdengar bersahutan. Pintu-pintu kelas terbuka. Siswa berhamburan menuju kantin dengan wajah riang.
Lorong yang sebelumnya menjadi jalur lalu-lalang berubah seperti pasar kecil. Ada yang berlari, bercanda, saling memanggil, bahkan bermain kejar-kejaran.
Pak Budi sedang membersihkan toilet siswa ketika suara gaduh itu terdengar.
Ia baru saja selesai menyikat lantai kamar mandi. Aroma pembersih menyengat hidung. Air mengalir dari selang kecil, membawa sisa busa menuju lubang pembuangan.
Ia mengelap tangannya dengan kain, kemudian keluar untuk memeriksa lorong.
Pemandangan yang menyambutnya membuat langkahnya terhenti.
Di depan kelas, beberapa bungkus makanan berserakan. Ada remah-remah roti di dekat tangga. Bekas tumpahan minuman membentuk noda lengket di lantai. Sebuah sedotan plastik terselip di bawah bangku.
Di dekat pintu kantin, jejak sepatu berlumpur membentuk garis panjang yang saling bertumpuk.
Pak Budi memandangi lantai itu beberapa saat.
Rasanya seperti menyaksikan seseorang merobohkan rumah yang baru saja ia bangun.
Ia mengambil sapu.
Satu demi satu sampah dikumpulkannya. Bungkus makanan yang terselip di bawah bangku harus dijangkau dengan tangan. Remah roti disapu perlahan agar tidak menyebar ke sudut lain.
Tumpahan minuman dibersihkan menggunakan kain lap. Lantai yang lengket disiram sedikit air, kemudian dipel kembali.
Sementara itu, beberapa siswa masih berlalu-lalang di dekatnya.
“Pak Budi, numpang lewat.”
“Iya, silakan.”
“Pak, sampahnya nanti saja dibersihkan. Kami mau masuk kelas.”
Pak Budi tersenyum tipis.
“Justru sekarang harus dibersihkan, Nak. Kalau dibiarkan, nanti semakin banyak.”
Siswa itu tidak menjawab. Ia berjalan melewati Pak Budi sambil menyeret sedikit kakinya.
Jejak sepatu baru kembali terlihat.
Pak Budi memandangi bekas tapak itu. Tangannya yang memegang kain pel berhenti sejenak.
Ia ingin mengatakan sesuatu. Barangkali mengingatkan bahwa lantai yang bersih bukan hanya tanggung jawab orang yang memegang sapu. Namun, kalimat itu kembali ditelannya.
Ia tahu, menegur satu siswa belum tentu mengubah kebiasaan puluhan siswa lainnya.
Akhirnya, ia kembali mengepel.
Maju. Mundur. Memeras kain. Mengusap. Mengulang.
Seperti jarum jam yang terus berputar pada lingkaran yang sama.
Menjelang siang, matahari mulai terasa menyengat. Udara di lorong sekolah menjadi pengap. Keringat mengalir dari pelipis Pak Budi, membasahi kerah bajunya.
Ia duduk sebentar di bangku dekat ruang guru. Sebotol air putih dikeluarkannya dari tas. Ia meneguknya perlahan.
Dari tempat duduknya, ia dapat melihat lorong yang baru saja dibersihkan.
Beberapa menit lalu lantai itu mengilap. Sekarang, ada dua bungkus permen di dekat pintu kelas. Sebuah kertas bekas coretan tergeletak di bawah jendela. Jejak sepatu kembali menghiasi keramik.
Pak Budi mengusap wajahnya.
“Setiap hari begini,” gumamnya.
Ia menunduk, memperhatikan telapak tangannya. Kulit di bagian jari mulai mengeras. Ada bekas goresan kecil akibat terlalu sering memegang gagang sapu dan peralatan kebersihan.
Ia tidak keberatan bekerja keras. Baginya, membersihkan sekolah adalah pekerjaan yang harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab.
Namun, ada satu hal yang mulai mengganggu pikirannya.
Mengapa pekerjaan yang sama harus terus diulang, sementara perilaku yang membuat pekerjaan itu berulang tidak pernah berubah?
Mengapa setiap pagi ia harus menghapus jejak yang sama?
Mengapa sampah selalu kembali ditemukan di tempat yang sama?
Apakah kebersihan sekolah memang hanya menjadi urusan orang yang bertugas membersihkan?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya.
Pak Budi teringat sebuah kejadian beberapa hari sebelumnya. Saat membersihkan lorong, ia pernah melihat seorang siswa membuang bungkus makanan tepat di samping tempat sampah.
“Kenapa tidak dimasukkan ke tempat sampah, Nak?” tanyanya waktu itu.
Siswa tersebut menjawab santai.
“Kan ada Pak Budi, Pak.”
Jawaban itu masih terngiang di telinganya.
Bukan karena kalimat itu kasar. Bukan pula karena siswa tersebut bermaksud merendahkan pekerjaannya. Namun, ada sesuatu yang terasa keliru dari cara berpikir semacam itu.
Seolah-olah keberadaan dirinya membuat orang lain tidak perlu menjaga kebersihan.
Seolah-olah selama ada Pak Budi, sampah boleh diletakkan di mana saja.
Ia mengembuskan napas panjang.
“Kalau begini terus, kapan bersihnya?” bisiknya.
Pukul dua belas siang, sebagian siswa mulai meninggalkan sekolah. Beberapa guru masih berada di ruang kerja. Suasana perlahan kembali lengang.
Pak Budi mengambil sapu dan mulai membersihkan lorong sekali lagi.
Kali ini, ia tidak terburu-buru.
Ia menyapu setiap sudut dengan teliti. Mengangkat sampah yang terselip di bawah meja. Mengelap kaca pintu yang terkena bekas telapak tangan. Membersihkan noda sepatu di dekat tangga.
Setelah itu, ia mengepel seluruh lorong.
Suara kain pel yang bergesekan dengan keramik terdengar berulang di antara dinding-dinding kelas yang mulai sepi.
Satu lorong selesai.
Ia berpindah ke lorong berikutnya.
Satu toilet selesai.
Ia memeriksa toilet yang lain.
Halaman selesai.
Ia kembali memungut daun yang baru saja jatuh.
Tidak ada pekerjaan yang benar-benar selesai selama masih ada aktivitas di sekolah. Selalu ada sesuatu yang harus dibersihkan, dirapikan, atau diperbaiki.
Ketika melewati ruang kelas empat, ia melihat sebuah tempat sampah kecil berada di sudut ruangan. Tutupnya terbuka. Beberapa bungkus makanan tampak menumpuk di dalamnya, sementara dua lembar kertas justru tergeletak di lantai.
Pak Budi berhenti.
Ia mengambil kertas itu, lalu memasukkannya ke tempat sampah.
Kemudian ia memperhatikan posisi tempat sampah tersebut. Letaknya cukup jauh dari bangku siswa yang berada di sisi belakang.
Ia menggesernya sedikit lebih dekat.
“Barangkali terlalu jauh,” gumamnya.
Ia kemudian merapikan posisi meja dan kursi. Sebuah penghapus papan tulis yang tergeletak di lantai dikembalikan ke meja guru.
Ada perubahan kecil yang bisa ia lakukan, pikirnya.
Namun, ia juga sadar bahwa memindahkan tempat sampah saja tidak cukup. Kebersihan tidak akan bertahan hanya karena seseorang rajin menyapu.
Ia teringat pesan Mbah Bejo, guru ngajinya di musala kecil dekat pemakaman kampungnya dahulu.
Dulu, ketika Pak Budi masih kecil, Mbah Bejo sering mengingatkan anak-anak yang selesai mengaji untuk merapikan tikar dan meletakkan kembali Al-Qur’an di tempatnya.
“Barang yang sudah kita gunakan, kembalikan ke tempatnya. Jangan menunggu orang lain membereskan.”
Kalimat sederhana itu masih tersimpan kuat dalam ingatannya.
Mbah Bejo tidak pernah berbicara panjang lebar tentang kebersihan. Ia mengajarkannya melalui kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang.
Menggulung tikar. Menyusun kitab. Menyapu lantai musala. Menutup kembali pintu setelah digunakan.
Dari sana Pak Budi belajar bahwa kebersihan bukan sekadar pekerjaan tangan. Ia adalah kebiasaan yang tumbuh dari kesadaran.
Pak Budi tersenyum samar.
Mungkin, yang perlu dibersihkan di sekolah ini bukan hanya lantainya.
Sore mulai merayap. Cahaya matahari masuk melalui jendela lorong, membentuk garis-garis keemasan di atas keramik.
Pak Budi kembali ke gudang untuk menyimpan peralatan. Ia mencuci kain pel, membilas ember, kemudian menggantungkan sapu pada paku di dinding.
Sebelum menutup gudang, ia menoleh sekali lagi ke arah lorong.
Bersih.
Rapi.
Tidak ada sampah yang terlihat.
Namun, ia tahu besok pagi pemandangan yang sama akan kembali hadir. Ada daun yang jatuh, debu yang menempel, sampah yang tertinggal, dan jejak sepatu yang melintasi lantai.
Ia tidak pernah berharap sekolah menjadi tempat yang selalu bersih tanpa aktivitas manusia. Sekolah memang harus hidup. Anak-anak harus bergerak, bermain, belajar, dan berinteraksi.
Yang membuatnya gelisah bukanlah lantai yang kembali kotor. Melainkan ketika orang-orang mulai menganggap kekotoran sebagai sesuatu yang wajar karena selalu ada orang lain yang akan membersihkannya.
Pak Budi mengambil sapu yang bersandar di dinding. Ia mengelus gagangnya sebentar, lalu meletakkannya kembali.
“Besok kita mulai lagi,” katanya pelan.
Kalimat itu terdengar seperti percakapan seorang pekerja dengan peralatannya sendiri.
Ia kemudian mematikan lampu gudang dan menutup pintu.
Keesokan paginya, Pak Budi kembali datang sebelum matahari terbit.
Seperti biasa, ia mengambil sapu, membersihkan halaman, mengumpulkan dedaunan, menyapu lorong, dan mengepel lantai.
Rutinitas itu kembali berulang.
Tetapi pagi itu, ada sesuatu yang berbeda.
Ketika sedang membersihkan lorong kelas, ia melihat seorang siswa berjalan mendekati tempat sampah. Anak itu baru saja selesai memakan roti. Bungkusnya diremas, kemudian dimasukkan ke tempat sampah.
Pak Budi memperhatikan dari kejauhan.
Tidak ada yang istimewa dari kejadian itu. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada pujian. Hanya seorang anak yang membuang sampah pada tempatnya.
Namun, bagi Pak Budi, pemandangan sederhana itu terasa seperti setitik cahaya di lorong yang panjang.
Ia tersenyum.
“Terima kasih, Nak.”
Siswa itu menoleh.
“Sama-sama, Pak.”
Pak Budi kembali menyapu.
Kali ini, sapu di tangannya terasa sedikit lebih ringan.
Ia mulai memahami bahwa pekerjaan membersihkan sekolah memang tidak akan pernah selesai. Namun, bukan berarti semuanya harus terus dikerjakan dengan cara yang sama.
Ada yang perlu dibersihkan dengan sapu.
Ada yang perlu dibersihkan dengan kain pel.
Tetapi ada pula yang hanya bisa dibersihkan melalui pendidikan, keteladanan, dan pembiasaan.
Sebab, lantai yang bersih hanya bertahan beberapa saat jika orang-orang di atasnya tidak memiliki kesadaran untuk menjaganya.
Pak Budi kembali mengayunkan sapunya. Di belakangnya, jejak-jejak sepatu perlahan menghilang. Di depannya, lorong masih membentang panjang.
Ia tahu, esok mungkin akan ada jejak yang sama.
Namun, ia mulai berharap suatu hari nanti, anak-anak tidak lagi sekadar melewati lantai yang bersih. Mereka juga belajar untuk tidak mengotorinya.
Sebab, kebersihan bukan tentang seberapa sering seseorang menghapus jejak, melainkan seberapa banyak orang yang belajar untuk tidak meninggalkan kotoran.
