Oleh : Aris Sururi
Akar yang Tak Terlihat – Ada orang-orang yang menjaga sekolah tetap berdiri, meskipun nama mereka jarang disebut dalam doa dan pidato penghargaan.
Pukul lima pagi, ketika sebagian besar warga kota di ujung kota kecil masih bersembunyi di balik selimut, Pak Budi sudah membuka gerbang kecil sebuah sekolah di pojok kota.
Udara masih dingin. Jalanan lengang. Lampu-lampu koridor menyala separuh, sementara beberapa daun kering berserakan di halaman akibat angin semalam.
Pak Budi meletakkan tas lusuhnya di ruang kecil dekat gudang, menggulung lengan baju, lalu mengambil sapu.
Usianya lima puluh lima tahun. Rambutnya mulai memutih, langkahnya tidak lagi secepat dua puluh tahun lalu, tetapi ada satu hal yang tak banyak berubah: ia selalu berusaha datang sebelum sekolah benar-benar terjaga.
Lorong pertama selesai disapu. Ia melanjutkan ke lorong kedua, mengumpulkan daun-daun yang jatuh, membersihkan sudut-sudut ruangan, lalu menuju kamar mandi siswa. Di tempat itulah pekerjaannya sering kali paling berat.
Ada keran yang bocor, lantai yang licin, saluran air yang tersumbat, dan bau yang membuat sebagian orang enggan berlama-lama. Namun bagi Pak Budi, justru bagian itulah yang tidak boleh diabaikan. Ia pernah berkata kepada seorang penjaga kantin, beberapa bulan lalu, bahwa pendidikan tidak cukup dinilai dari seberapa tinggi nilai rapor siswa.
“Kalau anak-anak kita belajar di tempat yang kotor, kalau mereka terbiasa melihat sesuatu yang rusak lalu membiarkannya, apa kita yakin pelajaran tentang tanggung jawab sudah benar-benar masuk ke hati mereka?”
Penjaga kantin hanya tersenyum waktu itu. Pak Budi kembali bekerja, seolah kalimat tadi bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan.
Padahal, baginya, kebersihan bukan sekadar urusan sapu, pel, dan tempat sampah. Kebersihan adalah bagian dari pendidikan.
Pak Budi bukan orang asli kota itu. Ia datang dari sebuah desa terpencil, membawa harapan sederhana untuk memperbaiki kehidupan keluarganya. Istrinya tinggal bersamanya, begitu pula dua anak yang menjadi alasan mengapa setiap pagi ia berusaha bangun lebih awal dan setiap sore tetap pulang dengan rasa syukur.
Ia bukan sarjana pendidikan. Namanya juga tidak pernah disebut dalam sambutan pidato. Namun sejak pertama kali bekerja di sekolah itu, ia merasa telah menemukan tempat untuk mengabdikan diri.
Baginya, sekolah bukan hanya milik kepala sekolah, guru, atau siswa. Sekolah adalah rumah bersama. Ada orang yang mengajar di depan kelas. Ada yang menyusun kurikulum. Ada yang membimbing siswa agar berani bermimpi. Dan ada pula orang-orang yang memastikan ruang tempat semua itu berlangsung tetap layak digunakan.
Pak Budi menjadi bagian dari kelompok terakhir itu. Ia tidak keberatan ketika orang-orang melewatinya tanpa menyapa. Ia tidak tersinggung jika namanya terlupakan dalam rapat-rapat besar.
Bahkan, ketika sekolah mengadakan kegiatan yang ramai, ia sering kali justru mendapatkan pekerjaan tambahan bahkan tak jarang ia lembur untuk memastikan kegiatan esok berjalan sesuai rencana.
Ia menganggap semua itu bagian dari tugasnya.
Hanya saja, ada satu hal yang kadang membuatnya diam-diam bertanya: mengapa orang-orang begitu serius membicarakan pendidikan karakter, tetapi tidak selalu serius menjaga kebersihan tempat karakter itu dibentuk?
Pertanyaan itu tak pernah benar-benar ia lontarkan dalam forum resmi.
Sampai pagi itu tiba.
Suara mars Hari Santri terdengar sayup-sayup ditelinga Pak Budi, hari itu adalah Hari Santri Nasional.
Sejak beberapa hari sebelumnya, sekolah telah bersiap mengadakan upacara. Siswa mengenakan pakaian khas santri, dan para guru menyiapkan barisan agar kegiatan berjalan tertib.
Pagi itu, halaman sekolah terlihat berbeda. Spanduk terbentang di dekat gerbang. Kursi-kursi disusun. Beberapa guru mondar-mandir memastikan semuanya siap.
Semua warga sekolah diminta mengikuti upacara.
Semua, tanpa terkecuali.
Namun sekitar pukul tujuh kurang sedikit, Pak Budi masih berada di kamar mandi siswa. Salah satu pintu kamar mandi rusak. Engselnya lepas, sementara air menggenang di lantai karena saluran pembuangan tersumbat.
Pak Budi sudah berusaha membersihkannya sejak pagi. Ia tahu, setelah upacara selesai, siswa akan berbondong-bondong masuk ke kelas dan menggunakan fasilitas itu.
Dari halaman terdengar suara pengeras suara.
“Seluruh peserta upacara dimohon menempati barisan masing-masing. Upacara Hari Santri Nasional segera dimulai.”
Pak Budi berhenti sebentar.
Ia melihat ke arah lorong. Dari tempatnya berdiri, ia bisa mendengar lagu-lagu perjuangan mulai diputar.
Ada bagian kecil dalam dirinya yang ingin ikut berdiri bersama warga sekolah untuk mengenang perjuangan ulama dan santri. Ia juga bagian dari keluarga besar sekolah itu meskipun ia tidak pernah belajar di pondok pesantren hanya ngaji disurau kecil bersama Mbah Bejo.
Ia ingin merasakan kebersamaan yang sama. Namun matanya kembali tertuju pada air yang belum surut dan pintu kamar mandi yang belum terpasang dengan baik.
“Sebentar lagi,” gumamnya.
Ia melanjutkan pekerjaan.
Lima belas menit berlalu.
Upacara telah dimulai ketika kepala sekolah menyadari satu orang tidak berada di barisan.
“Pak Budi mana?” tanyanya kepada seorang guru.
“Sepertinya masih di belakang, Pak. Tadi saya melihat beliau membawa peralatan kebersihan.”
Kepala sekolah mengerutkan dahi.
“Bukankah sudah disampaikan semua warga sekolah wajib mengikuti upacara?”
Guru itu tidak menjawab.
Kepala sekolah kemudian meminta seorang staf mencari Pak Budi.
Tak lama berselang, seorang staf menemukannya di dekat kamar mandi.
“Pak Budi, Bapak dipanggil kepala sekolah. Sekarang.”
Pak Budi menoleh, mengusap keringat di dahinya, lalu memandang pintu kamar mandi yang belum selesai diperbaiki.
“Iya, sebentar. Saya rapikan alat-alat ini dulu.”
“Sekarang, Pak. Beliau menunggu.”
Pak Budi mengangguk. Ia mencuci tangan, menggantungkan kain lap, lalu berjalan menuju ruang kepala sekolah.
Ia tahu, pagi itu mungkin akan menjadi pagi yang berbeda dari biasanya.
Ruang kepala sekolah terasa lebih dingin daripada lorong yang baru saja dibersihkannya.
Kepala sekolah duduk di belakang meja. Di hadapannya ada beberapa dokumen kegiatan dan sebuah mikrofon cadangan.
“Silakan duduk, Pak Budi.”
Pak Budi duduk dengan punggung tegak.
“Bapak tahu kenapa saya memanggil Bapak?”
“Karena saya tidak ikut upacara, Pak?”
“Betul. Saya sudah meminta semua warga sekolah mengikuti kegiatan ini. Ini bukan kegiatan biasa. Ini Hari Santri Nasional. Kita sedang menanamkan nilai perjuangan, kedisiplinan, dan cinta terhadap bangsa. Kalau kita sendiri tidak memberi contoh, bagaimana anak-anak akan belajar?”
Pak Budi menunduk sebentar.
“Saya mengerti, Pak.”
“Kalau mengerti, kenapa Bapak tetap tidak ikut?”
Pak Budi mengangkat wajahnya.
“Kamar mandi siswa rusak, Pak. Airnya menggenang. Saya khawatir anak-anak terpeleset ketika masuk kelas nanti.”
“Itu bisa dikerjakan setelah upacara selesai.”
“Bisa, Pak. Tapi kalau ada anak yang jatuh sebelum itu?”
Kepala sekolah menarik napas panjang.
“Pak Budi, jangan mengubah persoalan sederhana menjadi perdebatan. Saya menghargai pekerjaan Bapak. Tetapi aturan tetap aturan. Kalau semua orang memutuskan sendiri mana yang lebih penting, bagaimana sekolah ini bisa berjalan?”
Pak Budi terdiam.
Ia tidak ingin membantah. Ia tahu kepala sekolah memiliki tanggung jawab yang tidak ringan. Ada guru yang harus diarahkan, siswa yang harus dibimbing, dan kegiatan yang harus dipastikan berjalan sesuai rencana.
Namun ia juga merasa ada sesuatu yang harus disampaikan.
“Maaf, Pak. Saya bukan tidak menghargai upacara.”
“Lalu?”
“Saya hanya merasa, apa yang kita sampaikan kepada anak-anak pagi ini harus terlihat juga dalam kehidupan mereka setelah upacara selesai.”
Kepala sekolah menatapnya.
“Maksud Bapak?”
Pak Budi menghela napas.
“Kita bicara tentang perjuangan para santri, tentang pengabdian, tentang tanggung jawab. Tapi ketika nanti anak-anak kembali ke kelas, mereka akan menggunakan kamar mandi yang kotor kalau saya tidak membersihkannya. Mereka akan melewati lorong yang licin. Mereka akan melihat kerusakan yang dibiarkan.”
Ia berhenti sejenak.
“Bukankah merawat tempat mereka belajar juga bagian dari pendidikan, Pak?”
Suasana ruang kepala sekolah berubah hening.
“Jadi, menurut Bapak, mengikuti upacara itu tidak penting?”
“Bukan begitu, Pak!”
Untuk pertama kalinya, suara Pak Budi meninggi.
Ia sendiri terkejut mendengar suaranya.
“Saya tidak pernah mengatakan upacara tidak penting. Saya hanya tidak ingin kita berhenti pada simbolnya. Saya ingin nilai-nilai yang kita ucapkan itu hidup setelah bendera diturunkan.”
Kepala sekolah berdiri dari kursinya.
“Bapak harus memahami posisi Bapak di sekolah ini. Ada pembagian tugas, ada aturan, ada tanggung jawab bersama. Bapak tidak bisa memutuskan semuanya sendiri!”
Pak Budi ikut berdiri.
“Betul, Pak. Saya memang bukan guru. Saya tidak mengajar di kelas. Saya juga tidak punya kewenangan membuat aturan. Tetapi setiap hari saya melihat apa yang tertinggal setelah semua orang selesai berkegiatan.”
Napasnya terdengar berat.
“Saya melihat sampah di bawah meja setelah anak-anak dan guru belajar tentang kebersihan. Saya melihat keran dibiarkan terbuka setelah mereka belajar menghemat air. Saya melihat lantai kotor setelah kita mengajarkan pentingnya menjaga lingkungan.”
Ia menatap kepala sekolah dengan wajah teduh.
“Kalau kebersihan hanya menjadi tugas saya, kapan anak-anak belajar bahwa lingkungan ini milik mereka juga?”
Tak ada jawaban seketika.
Di luar ruangan, suasana sekolah terasa lengang. Sesekali terdengar riuh suara siswa dari kelas yang sedang kosong, bercampur dengan deru kendaraan yang melintas di jalan raya. Suara-suara itu datang silih berganti, mengisi kesunyian yang menyelimuti ruang kepala sekolah, tempat ketegangan di antara keduanya belum juga mereda.
Kepala sekolah akhirnya berkata, lebih pelan, “Pak Budi, saya tidak sedang merendahkan pekerjaan Bapak. Saya hanya meminta Bapak mengikuti aturan.”
“Saya tahu, Pak.”
“Lalu kenapa Bapak begitu keras mempertahankan keputusan ini?”
Pak Budi menunduk sambil memainkan jari-jarinya dan mengerakan kaki sehingga membuat bentuk gambar dilantai kantor dengan lantai yang sudah banyak keramik yang terkelupas.
Ketika kembali berbicara, suaranya tak lagi tinggi.
“Karena saya sudah lima puluh lima tahun, Pak. Saya mungkin tidak punya banyak kesempatan lagi untuk bekerja. Saya hanya ingin, selama masih dipercaya berada di sekolah ini, pekerjaan saya benar-benar berguna.”
Ia menarik napas.
“Saya punya istri dan dua anak. Saya juga punya banyak kekurangan. Tapi saya selalu berusaha mengajarkan sesuatu kepada anak-anak saya di rumah: kalau kita sudah diberi tanggung jawab, jangan mengerjakannya hanya supaya dianggap selesai.”
Kepala sekolah tidak menyela.
“Kalau hari ini saya meninggalkan kamar mandi yang rusak demi berdiri di barisan, mungkin tidak ada yang salah dengan kehadiran saya di upacara, dan mungkin saya tidak dipanggil dikantor. Tetapi hati saya tidak tenang karena ada pekerjaan yang seharusnya saya selesaikan.”
Pak Budi memandang meja di hadapannya.
“Maaf kalau cara saya salah, Pak. Saya tidak bermaksud melawan.”
Untuk beberapa saat, keduanya hanya diam.
Pak Budi teringat pada sebuah percakapan dengan Mbah Bejo saat mengajar ngaji di surau kecil.
Mbah Bejo pernah berpesan bahwa bermasyarakat itu ibarat pohon.
Ada bunga yang terlihat indah. Ada buah yang dinikmati banyak orang. Ada batang yang menyangga. Ada pula akar yang tertanam jauh di dalam tanah, nyaris tak pernah dilihat, tetapi membuat pohon tetap hidup.
“Tidak semua orang harus menjadi bunga,” kata senior itu kala itu. “Kalau hari ini kita hanya menjadi akar, jadilah akar yang kuat. Jangan berhenti bekerja hanya karena tidak ada yang melihat.”
Kalimat itu menetap lama dalam ingatan Pak Budi.
Ia tidak menganggap dirinya lebih mulia daripada guru yang mengajar atau kepala sekolah yang memimpin. Ia hanya percaya bahwa setiap orang mempunyai bagian masing-masing.
Jika ia adalah akar, ia ingin bekerja sebaik mungkin.
Bukan untuk membuktikan bahwa dirinya lebih penting.
Bukan pula untuk menuntut penghargaan.
Ia hanya ingin pohon yang sama tumbuh dengan baik.
Dan di sekolah kecil itu, pohon yang ia maksud adalah anak-anak yang setiap hari datang membawa harapan.
Pertemuan pagi itu berakhir tanpa kesepakatan.
Kepala sekolah meminta Pak Budi kembali bekerja dan menegaskan bahwa persoalan kedisiplinan akan dibicarakan lagi. Pak Budi mengangguk, lalu keluar dari ruangan.
Di lorong, beberapa siswa mulai meninggalkan lapangan untuk kembali ke kelas. Seorang anak berlari kecil, kemudian memperlambat langkah ketika melewati Pak Budi.
“Pak, tadi Bapak tidak ikut upacara?”
Pak Budi tersenyum tipis.
“Tidak, Nak. Ada kamar mandi yang harus diperbaiki.”
Anak itu mengangguk, lalu berlari menuju kelas.
Pak Budi kembali ke kamar mandi. Engsel pintu akhirnya terpasang. Ia menyapu sisa kotoran, mengeringkan lantai, lalu memastikan air mengalir dengan baik.
Selesai.
Ia berdiri sejenak, memandang ruangan yang kini lebih bersih.
Di luar, matahari mulai meninggi. Daun-daun yang tadi memenuhi halaman sudah terkumpul di dalam karung. Lorong-lorong sekolah kembali tenang.
Pak Budi mengambil sapunya.
Sebelum beralih ke pekerjaan berikutnya, ia membuka keran untuk mencuci tangan. Air mengalir beberapa detik. Ia kemudian menutupnya rapat-rapat.
Baginya, air bukan sekadar sesuatu yang tersedia ketika dibutuhkan. Ia adalah bagian dari kehidupan yang harus dijaga. Begitu pula tanah yang ditumbuhi pohon, udara yang dihirup siswa, dan halaman tempat mereka berlari.
Ia tidak pernah menyebut pemikirannya dengan istilah yang rumit. Ia tidak berbicara tentang teori lingkungan dalam rapat guru. Namun dalam kesehariannya, Pak Budi memahami satu hal: manusia tidak hanya bertanggung jawab kepada sesama manusia, tetapi juga kepada alam yang menopang kehidupannya.
Dalam pandangan Islam, merawat lingkungan dapat menjadi bagian dari amanah manusia sebagai khalifah di bumi. Menjaga air, tidak membiarkan lingkungan rusak, dan membiasakan kebersihan bukan sekadar pekerjaan teknis. Semuanya dapat menjadi bentuk ibadah ketika dilakukan dengan niat dan tanggung jawab.
Barangkali itulah pelajaran yang diam-diam ingin ia tinggalkan.
Bahwa sekolah yang mendidik manusia seutuhnya tidak cukup hanya menghasilkan anak-anak yang pandai menjawab soal. Sekolah juga perlu membantu mereka memahami bahwa kebersihan, kepedulian, dan penghormatan terhadap kehidupan harus tampak dalam tindakan sehari-hari.
Pak Budi menyandarkan sapu sebentar ke dinding.
Lalu ia melanjutkan pekerjaannya.
Seperti biasa, tak banyak orang memperhatikannya.
Namun pagi itu, tanpa ia ketahui, seseorang berdiri di ujung lorong.
Kepala sekolah.
Ia tidak memanggil Pak Budi. Tidak pula langsung menghampirinya. Ia hanya memandang kamar mandi yang telah bersih, pintu yang kembali berfungsi, dan lantai yang tak lagi menyisakan genangan.
Di kejauhan, beberapa siswa berjalan menuju kelas sambil bercanda.
Kepala sekolah kemudian menoleh ke arah halaman. Di sana, bendera merah putih masih berkibar.
Ia teringat perkataan Pak Budi: Saya tidak ingin kita berhenti pada simbolnya.
Untuk pertama kalinya pagi itu, ia tidak segera menemukan jawaban.
Sore harinya, ketika hendak pulang, Pak Budi mendapati sebuah pesan dari istrinya.
Bapak jangan lupa makan. Tadi anak-anak tanya kapan Bapak pulang lebih awal.
Pak Budi tersenyum. Ia membalas singkat, lalu memasukkan telepon ke saku.
Di rumah, ia tahu ada keluarga yang menunggunya. Ada dua anak yang masih membutuhkan perhatian. Ada istri yang menjadi teman berbagi lelah. Kehidupan mereka sederhana, tetapi ia tak pernah merasa pekerjaannya sia-sia.
Ia mengunci gudang, memeriksa kembali gerbang, lalu melangkah keluar.
Lorong-lorong sekolah telah kosong.
Besok pagi, pukul lima, ia akan kembali.
Mungkin akan ada daun-daun yang jatuh lagi. Mungkin ada keran yang bocor, lantai yang kotor, atau sampah yang tertinggal. Pekerjaannya seperti tidak pernah benar-benar selesai.
Tetapi Pak Budi telah berdamai dengan kenyataan itu.
Sebab ia tahu, akar tidak pernah berhenti bekerja hanya karena tak seorang pun melihatnya.
Yang tidak ia ketahui, perdebatan pagi itu belum benar-benar berakhir.
Di ruang kepala sekolah, sebuah keputusan mulai dipertimbangkan. Dan keputusan itu kelak akan menguji bukan hanya kesabaran Pak Budi, melainkan juga keyakinannya tentang arti pengabdian.
