Sumber gambar : Santri milenial


“Kang Hilal”

Panggilan itu membuat pemuda yang tengah menyimak setoran anak didiknya menoleh.

“Maaf kang, tapi sampean di panggil Abuya”

Hilal mengangguk kecil beranjak dari tempatnya menuju dalem Abuya.

Hilal pemuda tinggi yang dengan rahang keras dan tatapan tajam yang selalu di tunjukkan dibalik lensa kacamata yang selalu membingkai matanya. 3 kali Hilal mengucap salam dan belum ada yang menjawabnya, pemuda itu tetap berdiri di depan dalem, ada beberapa anak yang berlarian disana, Hilal tersenyum ramah. Ia rindu rumah dan keluarganya.

“Kang” Panggilan halus itu membuat hilal menoleh cepat dan secepat kilat pula menunduk

“Maaf kang, sampean di tunggu abah di dalem kamar”

Hilal mengangguk, menunggu gadis di depanya berlalu, dengan wajah menunduk Hilal mengikuti langkah Najma menuju kamar Abuya. “masuk kang” Hilal lagi-lagi mengangguk.

“Assalamu’alaikum” ucap Hilal dan mendapat sahutan halus dan berwibawa dari Abuya

“Masuk le” Hilal menutup pintu perlahan, lalu bersimpuh di karpet, sedang Abuya Ghofur di atas tempat tidur.

“Le Abuya sudah tua, putra Abuya yang terakhir sudah siap menggantikan abuya tahun depan, tapi kang Burhan akan menikah bulan depan, abuya ingin kamu yang menjadi pengganti Burhan memimpin santri-santri agar patuh kepada gus Kamil“

Hilal terdiam, benar dugaan para santri ialah pengganti kang Burhan sebagai roisul ma’had

“Dan bagaimana hafalanmu le?” Tanya Abuya

“Alhamdulillah abuya, tahun ini di wisuda” Jawab Hilal

“Alhamdulillah” keduanya terdiam lama, Hilal masih menunduk

“Bagaimana dengan putri Abuya, Najma?” jantung Hilal serasa berhenti. Kenapa harus buya yang bertanya demikian

“Belum saatnya buya, Najma juga harus wisuda terlebih dahulu” buya Ghofur tertawa kecil

“Abuya tahu le, Najma juga masih terlihat butuh waktu untuk itu” Hilal diam

”Ya sudah le, nanti sore buya yang akan mengumumkan semua, kecuali tentang Najma” Hilal mengangguk lalu pamit keluar.

Dua bulan berlalu, jabatan baru yang harus Hilal emban. Pikirannya melayang pada dua minggu lalu saat abahnya bertanya tentang Najma dan dirinya. Hilal hanya menjawab untuk menunggu satu tahun lagi.

“Abah sudah tua, pesantren butuh kamu. Masamu tidak menggantikan abah, tinggal kamu harapan santri santriwati sini” ucapan abahnya saat itu terus melekat di fikirannya. Ia belum siap menjadi pemimpin menggantikan abahnya sebelum ia menikah.

Hilal tidak pernah bicara soal perasaan secara langsung kepada Najma, tapi Hilal berbicara tentang perasaannya pada Najma langsung pada Abuya dan Ummi atau saudara-saudara Najma yang lebih tua.

“Tunggu satu tahun lagi Naj” lirihnya lalu menutup mushaf hitam dengan corak putih, itu hadiah dari abahnya empat tahun lalu.

Pukul sepuluh malam di tengah hujan deras, Hilal di kagetkan dengan panggilan dari rumah. Ada apa gerangan sampai-sampai jam segini menelfon.

“Hallo, assalamualaikum“ ucap Hilal ada isakan tangis di tengah jawaban salam yang di berikan adiknya

“Mas, Abah…….” Hilal terdiam, inikah yang di maksud dari ucapan yang selalu abah utarakan beberapa hari lalu,

“Terlalu cepat mas, abah pergi” setetes air matanya jatuh

“Mas akan pulang, tunggu di rumah. Jangan ada yang menangis di dekat tubuh abah” ujarnya lalu menutup saluran telepon. Pemuda itu hanya diam, adik perempuannya masih menangis di sampingnya, keduanya duduk dikursi bus malam. Setelah hampir lima menit menunggu bis malam, akhirnya keduanya sudah bisa duduk dan menunggu empat jam an agar sampai di rumah mereka. Kabar duka yang tiba-tiba, cukup mengguncang hati sang adek yang berusia sembilan belas tahun.

” Sudah sa, abah sudah tenang” ujarnya.

Ada pertemuan ada juga perpisahan, ada tawa ada duka, pelajaran itulah yang selalu di berikan abahnya pada Hilal oleh abahnya. Sedari tiba di rumah sampai pulang dari pemakaman, pemuda dengan wajah yang selalu bersinar seperti bulan purnama itu hanya diam. Ia belum menikah dan ia juga belum siap memimpin pesantren dengan santri dan santriwati yang mayoritas menghafal al-quran. Ia masih selalu gerogi setiap bertemu lawan jenis apalagi ia sekarang di haruskan keluar masuk asrama putri menyimak santriwati karena ialah pengganti abahnya, tetapi apa yang harus ia katakan pada abuya, dan bagamana janjinya pada Najma bahwa bulan ini ia akan datang dengan keluarganya untuk melamar.

“Hi” Hilal menoleh menatap kakak lelakinya yang duduk di sampingnya

”siap atau tidak, sekarang kamu yang jadi pengasuh” Hilal hanya diam

”Mas yakin, Najma bisa lebih sabar untuk itu, Hilal menunduk, ia harus sabar dan membuat Najma menunggu sedikit lebih lama.

Hiruk piruk pesantren Roudlotul Quran kembali menyapa penglihatan seolang Hilal Maulana Ahmas, risul ma’had yang hampir satu bulan tidak hadir di tengah-tengah santri santriwati RQ. Para santri menyapa pemuda dengan kacamata itu ramah, yang di balas pemuda itu dengan senyum kecil, tujuannya ke sini bukan untuk kembali nyantri, tapi lebih tepatnya untuk menghadap abuya dan boyong dari RQ.

“Assalamualaikum” ucap Hilal ke tiga kalinya, pemuda berumur dua puluh empat tahun itu mendongak saat pintu dalem terbuka, menampilkan gadis dengan sinarnya yang selalu berbinar. Buru-buru Hilal menunduk

”Kang Hilal, abuya ada di dalam” ujar gadis itu. Hilal mengangguk

”Mari” pemuda itu menunduk mengikuti Najma menuju ruang tengah.

“Assalamualaikum buya” buya Ghofur yang tengah menelaah kitab kuning mendongak

“Wa’alaikumsalam, le buya sudah menunggu lama” Hilal mencium tangan keriput buya

”Saya di minta pulang ummi buya, amanat dari almarhum untuk memegang pesantren Amirul Qur’an” bukannya sedih justru buya Ghofur tersenyum kecil.

”Alhamdulillah, buya bangga sama kamu le, Hilal terdiam

“Lalu kapan bintangmu akan kamu bawa ke tempatmu?” Hilal membeku, apa yang harus ia jawab. Ummi nyaa memintanya untuk fokus dengan segala hal tentang amirul qur’an.

“Najma. Altafun Najma!” gadis dengan nampan dan dua cangkir teh itu masuk ke ruang tengah setelah di panggil buya, Najma baru saja akan beranjak, saat tiba-tiba abuya menghentikannya dan memintanya duduk di samping buya. Hilal, yang duduk di lantai masih menunduk, tangannya sudah gemetar. Ia tak bisa dekat-dekat dengan lawan jenis yang bukan muhrim.

”Bicaralah le, Najma kali ini Najma harus mendengar secara langsung, bukan hanya mendengar dari cerita keluargnya” Hilal membeku, ia tak bisa.

”Le?” panggil buya. Ini perintah bagaimanapun harus Hilal laksanakan.

”Maaf buya, insyaallah lamaran itu harus di undur beberapa bulan. Ummi meminta untuk fokus dengan pesanteren lebih dulu, banyak yang harus di rombak atas wasiat abah.” Najma ikut menunduk, jika biasanya ia selalu di berikan berita bahagia oleh saudara atau buyanya tentang Hilal, tapi kali ini untuk pertama kali ia mendengar berita langsung dari sang bulan purnama adalah berita yang kurang enak.

”Kamu dengar nduk?” Najma mengangguk kecil

“Letakkan cinta kalian di jalan Allah, apapun keputusan Hilal abuya setuju, dan Najma, buya yakin dia juga akan bersabar untuk jihad mu le” Hilal tersenyum lega, satu beban terangkat.

Setelah berpamitan untuk berpulang ke rumah, pemuda berjalan dengan langkah yang lebih ringan.

“Kang Hilal” jarak lima langkah di belakangnya Najma berdiri dengan meremas ujung kerudung navynya,

“Sampean tidak usah memikirkan saya, fokuslah pada wasiat abah sampean. Karena bintang akan selalu ada untuk bulan sekalipun dalam langit mendung” Najma terdiam sesaat

”Hakekat perempuan itu menunggu, dan saya juga menunggu sampai sang bulan purnama sukses dengan hal yang di tuju, karena saya tahu tujuan entah ke berapa bulan adalah bintang” setelah berkata demikian, Najma berlari kecil masuk ke ndalem, ada setetes air mata yang lolos dari mata sipit tajamnya. Sedang Hilal, pemuda itu terdiam, lama ia berdiri di sana dengan pelan bibirnya itu membisik angin

Tunggu aku Naj, doakan aku berhasil mewujudkan setiap wasiat abahku.

Bukan seberapa besar kecilnya amanah, tapi bagaimana kita melaksanakan amanah tersebut dengan ikhlas.

 

Penulis : Siti Nazzalna S.N (Mahasiswa IAINU Tuban)

Editor : Mediacenter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.