Sumber gambar : https://www.google.com/imgres?imgurl=http%3A%2F%2Fberitaunsoed.com%2Fwp-content%2Fuploads%2F2015%2F07%2Filustrasi-cerpen-supri1.jpg&imgrefurl=http%3A%2F%2Fberitaunsoed.com%2F2015%2F07%2F12%2Fpria-yang-selalu-menatap-jalan%2Filustrasi-cerpen-supri-2%2F&tbnid=ToU7WShPts7qXM&vet=12ahUKEwjt5--u7dLzAhW-s0sFHU16BcwQMygAegUIARCoAQ..i&docid=4d0VP58Tk7j5SM&w=638&h=558&q=ilutsrasi%20cerpen&ved=2ahUKEwjt5--u7dLzAhW-s0sFHU16BcwQMygAegUIARCoAQ#imgrc=ToU7WShPts7qXM&imgdii=R6CFW7_ZiRf1NM


Mungkin sebagai seorang gadis bungsu, Siti merasa bangga memiliki keluarga lengkap yang sangat sayang padanya. Nenek, ibu, ayah, dan dua kakak kandung yang tinggal seatap denganya menjadi salah satu semangat Siti untuk terus belajar dan berjuang meraih cita-cita.

Dulu, ayah siti bekerja sebagai seorang supir truck, namun dengan kondisi yang kurang akhirnya ayah Siti memutuskan untuk merantau di Pulau Kalimantan. Selang beberapa bulan bekerja, ayah Siti mengalami sakit yang sangat keras hingga ayah Siti meninggal dunia dan harus dipulangkan kepulau jawa kembali.

Kisah Siti bermula dari kejadian itu, gadis kecil yang usianya baru menginjak di Pendidikan Taman Kanak-Kanak sudah tak ada dekapan dari seorang ayahnya

Isak tangis yang bergemuruh dirumah duka, tak membuat Siti menangis sedikitpun. Wajah polos yang tak tau apa yang terjadi, membuat semua orang menangis dan mencium dahi Siti sambil mengelus rambut yang acak-acakan itu.

Kala itu Siti duduk disamping ibu-nya yang pingsan, entah apa yang dipikirkanya ia memandang semua orang yang menangis dan ia berfikir bahwa orang-orang disekitarnya seolah-olah membicarakan ayahnya

“Bapak nondi lo?” (ayah dimana?) sontak pertanyaan itu keluar dari mulut Siti

Nenek siti kemudian menduduk-kan siti dipahanya sambil berkata “Bapak budal kaji nduk..” (Bapak berangkat haji nak..)

“mantok kapan..?” (pulang kapan..?) Siti kembali bertanya, namun neneknya hanya bisa menangis dan mencium dahi Siti

Selang beberapa minggu suasana sudah kembali seperti biasanya, ibu siti sudah mulai bekerja, bagaimana mungkin seorang janda harus berusaha menghidupi keluarganya apalagi membiayai anak-anaknya yang masih di jenjang pendidikan.

Ibu Siti bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga yang lumayan jauh dari rumahnya, ibu Siti setiap hari berangkat bekerja menggunakan sepeda. Tiap keberangkatan ibunya itu menjadi momen Siti untuk menangis, hingga ibu Siti tidak tega untuk menginap ditempat bekerjanya dan memutuskan untuk tiap pagi berangkat dan pulang ketika sore.

Di hari pertama bekerja, ibu Siti diantarkan tetangganya menggunakan sepeda motor dan waktu itu Siti juga ikut memastikan keadaan rumah yang ingin ditempati ibunya bekerja

“seng pinter ya nduk, ibuk kerjo..ki yo kanggo sampean” (yang pintar ya nak, ibu kerja juga untuk kamu) ucap ibu Siti dengan mata berkaca-kaca

Siti hanya bisa terdiam dan menangis, seolah hanya bisa pasrah menerima keputusan dari ibunya

Selang beberapa hari ibunya bekerja, setiap hari libur Siti merasa senang karena ia bisa membantu ibunya bekerja. Gadis bungsu yang sangat ceria akan kebersamaanya dengan ibunya, membuat Siti selalu semangat.

Berjalan sekitar 5 bulan, ibu Siti berhenti bekerja ditempat yang lumayan jauh itu, memutuskan kembali bekerja ditempat yang lumayan dekat dengan rumahnya

Itu juga bertahan beberapa bulan, ibu Siti memutuskan untuk berjualan dikantin sekolahnya Siti. Setiap hari Siti membantu ibunya berjualan dikantin, membawakan barang dagangan kesekolah jalan kaki sambil berseragam, mengambil es batu menggunakan sepeda, membuka kantin dan menata jajan dimeja, semua dilakukan oleh Siti untuk membantu ibunya tanpa malu.

Siti memang anak yang sangat terbiasa dengan hidup sederhana, ia selalu melakukan apa yang diajarkan oleh ibunya. Siti anak yang faham akan kondisi ibunya yang pas-pasan, tapi ketika Siti dibercandain bahwa dia akan diberikan ayah baru, Siti selalu menangis dan tidak mau akan hal itu.

Ketika itu ada tetangga Siti berbicara padanya “ nduk, sampean to ape digolekno bapak anyar” (nak, kamu kan mau dicarikan ayah baru) sontak Siti langsung pulang kerumah dan menuju ke kamar untuk menangis. Pembicaraan itu bukan hanya sekali atau dua kali, bahkan itu sudah mengiang ditelinga Siti, tak asing lagi bagi siti selalu mendengarkan pembicaraan semacam itu. Siti hanya menangis tetapi disatu titik Siti selalu fokus pada sekolahnya. Selain sekolah, Siti juga mengaji di Taman Pendidikan Al-qur’an dekat rumah Siti

Siti adalah anak yang aktif, ia dipercaya gurunya untuk selalu mengikuti perlombaan. Walaupun banyak kegagalan yang dialami Siti, ia terus bangkit dan ada perlombaan yang ia ikuti sampai lolos ke tingkat Jatim.

Selang beberapa tahun Siti memutuskan untuk mempunyai ayah baru. Dari berbagai aspek Siti memikirkan akan ibunya yang lelah bekerja untuknya

Waktu itu ada seseorang yang meyakinkan Siti akan keputusan itu “ nduk,opo sampean gak sakno ibuk,mergawe koyo ngono kanggo sampean” (nak, apa kamu nggak kasihan sama ibu. Kerja sampai larut untuk kamu)

“nggeh sakno” (ya kasihan) ucap siti

“lha nggeh, ibuk beno nggolek bojo, gae mbandani sampean sekolah sampek pinter. Sampean yo enak to nak ndue bapak anyar, opo-opo dituruti” (la iya, ibu biar cari suami lagi, untuk biayai kamu sekolah sampai pintar. Kamu juga pasti enak kan, minta apapun diturutin)

Siti terus memikirkanya, lalu Siti mengizinkan ibunya untuk menikah lagi dengan seorang laki-laki duda yang tinggal beda kota. Setelah pernikahan sudah selesai, Siti pulang dan ibunya harus tinggal bersama ayah barunya

Kini, Siti tinggal bersama nenek dan dua kakaknya yang pertama sudah berkeluarga.

Siti menginjak dipendidikan Madrasah Tsanawiyah atau tingkat SLTP didekat rumahnya, kakak Siti menggantikan ibunya untuk jualan dikantin Siti juga selalu membantunya. Kebiasaan yang terus berjalan, sebenarnya Siti ingin tinggal bersama ibunya dan ingin disekolahkan disana, tetapi itu hanya berjalan beberapa hari karena Siti tidak betah dan tidak terbiasa hidup jauh bersama kakak-kakaknya.

Siti adalah anak yang aktif dengan kegiatan disekolahnya, prinsip Siti ia tak perduli apa yang dibicarakan oleh orang lain tentang keburukanya yang penting Siti tak  menyakiti orang yang menjelekanya.

Beberapa tahun kemudian, Siti melanjutkan sekolahnya di MA terdekat Rumahnya, ia ingin sekolah di MA favorit seperti teman-teman lainya, tapi apalah daya disamping tak ada biaya ia juga tidak diizinkan oleh keluarganya untuk melanjutkan sekolah yang jauh dari rumahnya

Dibalik semua itu, ada kesempatan besar Siti untuk aktif kegiatan sekolah, Siti adalah seorang Ketua OSIS yang sangat semangat dengan berbagai kegiatan, walaupun ia sering bingung dengan kegiatan yang ia rencanakan dan mungkin sempat banyak kegiatan yang belum terpenuhi, itu merupakan pengalaman Siti yang mungkin ia akan ceritakan pada anak-anaknya nanti. Siti sangat bersyukur akan semua pengalaman yang ia lakukan, dibalik semua pengalaman ada yang baik mungkin juga banyak yang buruk. Hal itulah yang membuat Siti banyak pengajaran yang ia dapatkan dan mungkin kedepanya sangat bermanfaat bagi Siti.

Kala itu pulang sekolah dengan kondisi yang sangat membingungkan, Siti berbicara pada kakaknya tentang kegiatan yang akan ia laksanakan besok. Kebetulan kakak Siti yang ke dua juga mantan ketua osis, namanya Mina.

“mbak Min, gekhanu sampean nggae kegiatan classmeeting piye?” (mbk Min, dulu membuat kegiatan classmeting gimana?) tanya Siti dengan serius

“gek biyen enak dik, nggae lomba akeh, perkelas ono seng makili” (dulu enak dik, membuat perlombaan banyak antar kelas, ada yang  mewakili)

Pembicaraan terus berjalan, dalam hidup Siti setiap ada permasalahan yang menyangkut dirinya ia mesti cerita dengan kakaknya yang kedua. Siti selalu minta pendapat ke kakak-kakaknya. Meski itu tentang cinta, kegiatan, keluarganya, orang lain mesti ia ceritakan kepada kakaknya.

Waktu terus berjalan, Siti serius dengan hal yang akan ia hadapi, yaitu Ujian Nasional dan perencanaan Studi lanjutan Ke kampus Negeri yang sangat ia idam-idamkan. Dengan jurusan yang sangat ia minati, yang sangat sebanding dengan hobi yang Siti tekuni.

Namun, semua itu gagal. Seorang Siti mengikuti jalur Bidik Misi SNMPTN yang ditolak mentah oleh universitas favoritnya membuat Siti sangat terpukul akan hal itu,. Kala itu keluarga Siti berkumpul di dapur, siti membuka hasil SNMPTN dengan hasil yang mengecewakan. Isak tangis Siti pecah seakan tak bisa menerima akan hal itu

“mbk, aku ra kelbu” (mbk,aku nggak lolos) dengan suara tangis yang sangat keras

“nde, ra kelbu…kok iso piye, lha sopo ae seng kelbu” (duh,kok bisa nggak lolos, siapa saja yang lolos?) kakak Siti yang kembali bertanya pada Siti

“akeh seng kelbu, aku moh ngene…..” (banyak yang lolos, aku nggak mau seperti ini)

“kok iso leh dek, lha sampean ngger bengi tahajud kui opo seng sampean dungakno? Wes ndungo to urong?,opo seng mok dungakno?” (kok bisa gimana dik? Setiap malam kamu tahajud apa yang kamu doakan,sudah berdo’a apa belum, apa yang kamu do’akan?) kakak Siti kembali bertanya pada Siti

“uwes ndungo, aku ndungo karo ya Allah opo seng apik kanggo aku” (sudah do’a, aku berdo’a kepada Allah apa yang terbaik untuk aku)  Siti menangis semakin keras

“Lha iyo dik, Rausah nanges, berarti opo seng sampean dongakno wes diijabahi karo gusti Allah, iki seng apik kanggo sampean. Rasah nangis” (lha iya dik,nggak usah menangis, berarti apa yang kamu do’akan sudah diijabahi oleh Allah,mungkin Ini yang terbaik untuk kamu, nggak usah nangis) dengan nada lembut,seolah dorongan dari kakaknya untuk bangkit.

Siti kembali memikirkan, ia tak akan menyerah. Mungkin kesempatan yang ia inginkan untuk melanjutkan di perguruan tinggi negeri tidak akan menghalangi Siti untuk terus berusaha melanjutkan pendidikan di perkuliahan, Siti mendaftarkan diri ke Institut terdekat rumahnya dengan sederhana, Siti kembali aktifitas seperti biasanya. Ia memulai ke perkuliahan dengan sangat bahagia, mungkin kampus lain kondisi tidak memungkinkan tatap muka karena pandemi covid-19, Siti masih bisa tatap muka dengan keadaan yang sangat bahagia. Kini Siti faham mungkin apa yang telah ia do’akan setiap saat disepertiga malamnya, itu nyata. Bahwa Allah telah menjawab do’a-do’anya. Allah telah memberikan apa yang terbaik untuk hambanya yang mau berdo’a dan berusaha.

Kisah Siti berakhir disini, ia kembali aktif, ceria dan selalu bahagia. Ia selalu menanggapi berbagai persoalan rumit dengan kebahagiaan, ia yakin kejadian pahit yang selalu menimpanya akan berbuah manis esok yang akan datang. Ia yakin sekali dengan hal itu.

diary….

“ya Allah, Maafkanlah Hambamu yang selalu meminta ini, sedangkan hamba selalu berbuat dosa kepadamu. Dibalik rencanaku yang indah, tak ada apa-apanya dibandingkan atas rencanaMu dan takdirMu yang sangat indah. Hal buruk yang selalu menimpaku, menjadikan pelajaran untuk ku untuk terus berusaha dan berdo’a kepadamu, semoga engkau selalu memberi kesehatan kepadaku, ayah ibuku, keluargaku, guru-guruku dan semua orang sayang kepadaku. Berikanlah rizki yang cukup kepada mereka, dan berikanlah surga kepadanya”

Catatan hati gadis Bungsu (Siti)

Penulis : Maulidatul Afiyah

PGMI (IAINU TUBAN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.