Oleh : Dr. Nurhaningtyas Agustin, M.Pd
IAINUonline – Suasana aula itu penuh tepuk tangan. Seorang anak kecil berusia lima tahun berdiri di atas panggung sambil memegang piala yang hampir sebesar tubuhnya. Ibunya sibuk mengambil foto dari berbagai sudut, lalu buru-buru mengunggahnya ke media sosial dengan caption panjang tentang perjuangan sang anak menjadi juara.
Di kolom komentar, pujian berdatangan. “Masyaallah calon anak hebat,” tulis seseorang.
Sang ibu tersenyum bangga. Namun di sudut lain, anak kecil itu justru terlihat lelah. Setelah turun panggung, ia meminta pulang karena ingin bermain sepeda di rumah.
Fenomena lomba dan prestasi anak usia dini kini semakin marak. Mulai dari lomba mewarnai, fashion show, hafalan, menari, hingga kompetisi akademik untuk anak TK dan PAUD. Tidak sedikit orang tua rela mengeluarkan biaya besar demi mendukung anak tampil dan meraih juara.
Prestasi anak kemudian menjadi kebanggaan keluarga, bahkan sering kali menjadi identitas sosial orang tua di lingkungan pertemanan maupun media sosial.
Di satu sisi, tentu tidak ada yang salah dengan merasa bangga terhadap pencapaian anak. Dukungan dan apresiasi orang tua justru penting untuk membangun rasa percaya diri anak.
Anak yang diberi penghargaan atas usahanya biasanya lebih termotivasi untuk berkembang. Masalah muncul ketika prestasi anak perlahan berubah bukan lagi menjadi ruang tumbuh anak, melainkan panggung ambisi orang tua.
Tidak sedikit anak usia dini yang sebenarnya belum memahami makna juara, tetapi sudah dibawa berpindah dari satu lomba ke lomba lain. Ada anak yang menangis karena takut tampil, tetapi tetap dipaksa ikut kompetisi. Ada pula yang kelelahan latihan demi memenuhi ekspektasi orang tua.
Ironisnya, terkadang yang paling sedih saat anak kalah justru bukan anaknya, melainkan orang tuanya. Jika dikaitkan dengan teori perkembangan psikososial dari Erik Erikson, anak usia dini berada pada tahap membangun rasa percaya diri dan inisiatif.
Pada fase ini, anak membutuhkan dukungan untuk mencoba banyak hal dengan perasaan aman dan menyenangkan. Ketika anak terlalu ditekan untuk berprestasi, mereka justru dapat mengalami rasa takut gagal dan kehilangan keberanian untuk mencoba.
Selain itu, teori belajar sosial dari Albert Bandura menjelaskan bahwa anak belajar dari lingkungan di sekitarnya, termasuk perilaku orang tua. Ketika orang tua terlalu menonjolkan prestasi, anak bisa tumbuh dengan pemahaman bahwa nilai dirinya hanya dihargai saat menjadi juara. Akibatnya, anak rentan merasa tidak berharga ketika gagal.
Media sosial juga memperkuat fenomena ini. Prestasi anak sering kali menjadi konten kebanggaan yang dipamerkan secara terbuka. Piala, sertifikat, dan foto lomba berubah menjadi simbol keberhasilan pengasuhan. Tidak jarang muncul perlombaan tidak terlihat antarorang tua untuk menunjukkan siapa yang anaknya paling hebat.
Padahal anak usia dini sejatinya belum membutuhkan banyak piala. Mereka lebih membutuhkan waktu bermain, kasih sayang, perhatian, dan pengalaman belajar yang menyenangkan. Anak yang bahagia bermain bersama teman sebenarnya juga sedang berprestasi dalam proses tumbuh kembangnya. Menurut teori multiple intelligences dari Howard Gardner, kecerdasan anak tidak hanya diukur dari kemampuan akademik atau kemenangan lomba. Ada anak yang unggul dalam seni, ada yang pandai bersosialisasi, ada yang memiliki empati tinggi, dan ada yang kreatif dalam imajinasi.
Sayangnya, banyak orang tua lebih mudah bangga pada prestasi yang terlihat dan mendapat pengakuan publik. Karena itu, penting bagi orang tua untuk kembali bertanya: apakah anak mengikuti lomba karena ia senang, atau karena orang tua ingin terlihat berhasil?
Apakah piala itu benar-benar milik kebahagiaan anak, atau hanya menjadi alat pembuktian bagi orang dewasa?
Pada akhirnya, prestasi terbaik anak usia dini bukanlah seberapa banyak trofi yang berhasil dibawa pulang, melainkan ketika anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, bahagia, sehat secara emosional, dan tetap menikmati masa kecilnya.
Sebab masa kanak-kanak tidak seharusnya dipenuhi tekanan untuk menjadi sempurna, tetapi ruang hangat untuk bermain, belajar, dan tumbuh dengan gembira.
