IAINUonline – Pusat Kajian Budaya dan Islam Pesisir, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Nahdlatul Ulama Makhdum Ibrahim (UNUMA) Tuban berpartisipasi Pameran Sejarah Maritim dan Peradaban Islam Sabtu (7/11/2026).

Kegiatan akademik dan penguatan jejaring keilmuan ini melalui berlangsung di Joglo Loji Gandrung, Rumah Dinas Wali Kota Surakarta, Solo.

Pameran yang diselenggarakan oleh Sultanate Institute bekerja sama dengan LiterasiNesia dan Museum Abad Satu Hijriyah ini mengangkat tema Bukti Arkeologis Interaksi Dunia Islam dan Nusantara Sejak Abad 1 Hijriyah / 7 Masehi.

Berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 11.30 WIB dan terbuka untuk masyarakat umum. Kegiatan ini menjadi ruang edukasi sejarah untuk memperkenalkan bukti-bukti arkeologis mengenai hubungan dunia Islam dengan Nusantara sejak masa awal Islam.

Pameran tersebut tidak hanya menampilkan artefak peninggalan sejarah, tetapi juga memperkenalkan hasil penelitian dan publikasi ilmiah yang berusaha merekonstruksi posisi Nusantara dalam jaringan peradaban Islam dunia.

Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah publikasi tiga buku yang mengangkat tema perdagangan maritim, catatan dunia Islam tentang Nusantara, serta komoditas unggulan Indonesia yang memiliki hubungan historis dengan perdagangan internasional pada masa klasik.

Tiga Buku dan Rekonstruksi Sejarah Islam Nusantara
Tiga buku yang diperkenalkan dalam rangkaian publikasi tersebut memberikan perspektif yang saling melengkapi mengenai hubungan Nusantara dengan dunia Islam sejak abad-abad awal Hijriyah.

Buku pertama berjudul Perdagangan Maritim Dunia Islam di Pantai Barat Sumatra Abad I–IV H/Abad VII–X M. Buku ini mengkaji posisi strategis pantai barat Sumatra dalam jaringan perdagangan maritim internasional pada masa awal Islam.

Melalui pendekatan sejarah dan arkeologi, pembahasan diarahkan pada aktivitas perdagangan yang menghubungkan kawasan Sumatra dengan dunia Islam, India, dan Cina melalui jalur Samudra Hindia.

Temuan berbagai artefak, seperti koin kuno, keramik, benda-benda logam, kaca, dan peninggalan material lainnya, menjadi petunjuk penting untuk memahami intensitas hubungan perdagangan tersebut.

Keberadaan benda-benda tersebut memperlihatkan bahwa kawasan pesisir Sumatra telah menjadi bagian dari jaringan pertukaran ekonomi dan kebudayaan lintas wilayah.

Dengan demikian, Nusantara tidak dapat dipandang sebagai kawasan yang terisolasi dari perkembangan dunia Islam, melainkan telah memiliki keterhubungan dengan jaringan perdagangan internasional sejak masa awal Islam.

Buku kedua berjudul Keajaiban Negeri Emas Zabaj: Indonesia dalam Catatan Dunia Islam Masa Abbasiyah. Buku ini menghadirkan perspektif yang berbeda dengan memanfaatkan catatan para penulis dan pelaut Muslim mengenai kawasan Nusantara yang dikenal dalam sejumlah sumber Arab dengan sebutan Zabaj.

Salah satu aspek penting dalam buku ini adalah pembahasan mengenai catatan perjalanan dan pelayaran yang merekam pengalaman para pelaut Muslim ketika berinteraksi dengan kawasan Asia Tenggara.

Sumber-sumber tersebut memberikan gambaran tentang kondisi geografis, kekayaan alam, kehidupan masyarakat, serta hubungan perdagangan yang berkembang antara Nusantara dan dunia Islam pada masa Abbasiyah.

Buku ini juga memberikan perhatian terhadap sumber klasik berbahasa Arab, termasuk ‘Aja’ib al-Hind karya Buzurq bin Syahriyar al-Ramhurmuzi.

Catatan tersebut menjadi salah satu sumber penting untuk memahami bagaimana Nusantara dikenal dan digambarkan dalam pengetahuan geografis serta tradisi pelayaran dunia Islam.

Kehadiran buku ini memperlihatkan bahwa rekonstruksi sejarah Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan sumber-sumber lokal. Catatan perjalanan, literatur geografis, dan karya para ilmuwan Muslim dari luar Nusantara juga memiliki kontribusi besar dalam mengungkap sejarah hubungan Indonesia dengan dunia internasional.

Adapun buku ketiga berjudul Kafur: Bahan Aromatika Alami Asal Indonesia untuk Dunia Islam Masa Umayyah dan Abbasiyah (Abad VII–XIII M). Buku ini secara khusus mengangkat sejarah kafur atau kapur barus sebagai salah satu komoditas unggulan Nusantara yang memiliki nilai ekonomi tinggi dalam jaringan perdagangan internasional.

Kafur yang dikenal dalam sumber-sumber klasik sebagai salah satu bahan aromatika penting memiliki hubungan historis dengan kawasan Fansur di Sumatra.

Komoditas ini tidak hanya digunakan sebagai bahan pewangi, tetapi juga dikenal dalam tradisi pengobatan dan berbagai kebutuhan masyarakat pada masa itu. Dalam literatur perdagangan dan ilmu pengetahuan Islam, kafur menjadi salah satu komoditas yang memiliki tempat penting.

Pembahasan buku ini juga memperlihatkan hubungan antara kekayaan alam Nusantara, pengetahuan masyarakat lokal, dan kebutuhan pasar internasional. Perdagangan kafur menjadi bukti bahwa hasil hutan dan sumber daya alam Indonesia telah memiliki nilai strategis dalam perekonomian dunia Islam pada masa Umayyah dan Abbasiyah.

Ketiga buku tersebut memberikan kontribusi penting bagi pengembangan historiografi Islam Nusantara. Buku pertama menekankan aspek jaringan perdagangan maritim, buku kedua menghadirkan perspektif dunia Islam melalui sumber-sumber tertulis berbahasa Arab. Sedangkan buku ketiga memperlihatkan peran komoditas alam Nusantara dalam membangun hubungan ekonomi lintas peradaban.

Jika dibaca secara terpadu, ketiganya menunjukkan bahwa hubungan dunia Islam dengan Nusantara tidak berlangsung melalui satu jalur saja. Perdagangan, pelayaran, pertukaran komoditas, penyebaran pengetahuan, dan interaksi kebudayaan merupakan bagian dari proses panjang yang membentuk hubungan historis antara kedua kawasan.

Relevansi bagi Kajian Budaya dan Islam Pesisir
Bagi Pusat Kajian Budaya dan Islam Pesisir LPPM UNUMA Tuban, pameran dan publikasi ketiga buku tersebut memiliki relevansi akademik yang sangat kuat. Kegiatan ini memberikan perspektif baru mengenai pentingnya mengembangkan penelitian sejarah Islam dengan pendekatan multidisipliner, khususnya yang menghubungkan sejarah maritim, arkeologi, filologi, historiografi, dan kajian kebudayaan.

Tuban sendiri memiliki posisi historis yang strategis dalam perkembangan Islam di kawasan pesisir utara Jawa. Sebagai wilayah yang memiliki tradisi maritim dan perdagangan, Tuban menyimpan berbagai potensi penelitian yang berkaitan dengan sejarah perjumpaan masyarakat lokal dengan dunia luar.

Tradisi keagamaan, pesantren, makam-makam kuno, situs sejarah, serta berbagai peninggalan kebudayaan merupakan kekayaan intelektual yang perlu terus diteliti dan didokumentasikan.

Pengalaman yang diperoleh melalui kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan penelitian tentang sejarah Islam pesisir Tuban. Salah satu peluang penelitian yang menarik adalah menghubungkan sejarah maritim Tuban dengan jaringan perdagangan dunia Islam.

Termasuk menelusuri sumber-sumber Arab klasik yang menyebut kawasan Nusantara serta mengidentifikasi bukti-bukti arkeologis yang relevan.

Selain itu, kajian terhadap sejarah komoditas unggulan Nusantara seperti kafur dapat menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana sumber daya alam, perdagangan, dan kebudayaan saling berhubungan dalam pembentukan peradaban masyarakat pesisir.

Perspektif tersebut penting untuk memperluas kajian Islam yang selama ini sering kali lebih banyak berpusat pada kerajaan, tokoh penyebar agama, dan institusi keagamaan.

Melalui kegiatan ini, Pusat Kajian Budaya dan Islam Pesisir LPPM UNUMA Tuban diharapkan dapat memperkuat jejaring akademik dengan lembaga penelitian, museum, komunitas sejarah, dan para pemerhati kebudayaan.

Kolaborasi tersebut penting untuk mendorong penelitian yang tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap pelestarian warisan sejarah dan kebudayaan masyarakat pesisir.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen LPPM UNUMA Tuban dalam mengembangkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Perguruan tinggi perlu hadir bukan hanya sebagai institusi pendidikan, melainkan juga sebagai pusat produksi pengetahuan yang mampu menghubungkan kekayaan sejarah lokal dengan perkembangan ilmu pengetahuan global.

Pada akhirnya, pameran Sejarah Maritim dan Artefak Peradaban Islam memberikan pelajaran penting bahwa sejarah Nusantara merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah dunia.

Sejak abad pertama Hijriyah, kawasan Nusantara telah terhubung dengan dunia Islam melalui jaringan perdagangan, pelayaran, pertukaran komoditas, dan interaksi kebudayaan.

Ketiga buku yang diperkenalkan dalam pameran tersebut menjadi salah satu upaya akademik untuk menghadirkan kembali bukti-bukti historis mengenai keterhubungan tersebut.

Bagi Pusat Kajian Budaya dan Islam Pesisir LPPM UNUMA Tuban, pengalaman ini menjadi pijakan untuk terus mengembangkan penelitian tentang sejarah, budaya, dan peradaban Islam pesisir.

Sebab, memahami sejarah bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan juga menemukan identitas, membangun kesadaran kebudayaan, dan merumuskan kontribusi masyarakat pesisir bagi peradaban masa depan.

Sejarah pesisir bukan sekadar cerita tentang kapal, pelabuhan, dan perdagangan. Ia adalah sejarah perjumpaan manusia, pertukaran pengetahuan, dan proses panjang terbentuknya peradaban. Merawat sejarah pesisir berarti merawat ingatan kolektif tentang kontribusi Nusantara dalam sejarah dunia Islam.

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *