Oleh : Silfia rahmatul maula (2442015)

IAINUonline –  Ketika Masalah Tidak Sesederhana Kelihatannya

Setiap orang pernah menghadapi masa sulit. Ada yang merasa cemas menjelang ujian, kesulitan berkomunikasi dengan keluarga, atau terus memikirkan suatu kejadian yang membuatnya kecewa.

Perasaan tersebut merupakan bagian dari pengalaman manusia. Namun, ketika masalah berlangsung lama, terasa sulit dikendalikan, atau mulai mengganggu kegiatan sehari-hari, seseorang mungkin membutuhkan dukungan lebih lanjut.

Dalam psikoterapi, memahami masalah tidak cukup hanya dengan melihat perilaku yang tampak. Seseorang yang sering menghindari pertemuan, misalnya, belum tentu tidak menyukai orang lain.

Ia mungkin merasa takut dinilai, pernah mengalami pengalaman sosial yang tidak menyenangkan, atau sedang menghadapi tekanan lain. Karena itu, penting untuk memahami latar belakang masalah sebelum menentukan bantuan yang sesuai.

Apa yang Dimaksud dengan The Nature of the Problem?

The Nature of the Problem dapat dipahami sebagai hakikat atau sifat dasar dari masalah yang sedang dialami seseorang. Dalam konteks psikoterapi, pembahasan ini berusaha menjelaskan apa yang menjadi persoalan, bagaimana persoalan itu muncul, faktor apa saja yang mungkin berkaitan, serta bagaimana dampaknya terhadap kehidupan individu.

Pendekatan ini tidak bertujuan untuk buru-buru memberi label atau diagnosis. Sebaliknya, kita berusaha memahami pengalaman seseorang secara utuh. Dua orang dapat menunjukkan perilaku yang sama, tetapi memiliki alasan, pengalaman, kebutuhan, dan kondisi yang berbeda.

Oleh sebab itu, masalah psikologis perlu dipahami berdasarkan konteks kehidupan masing-masing orang.

Melihat Masalah dari Berbagai Sisi

Masalah psikologis jarang memiliki satu penyebab tunggal. Pengalaman pribadi, cara seseorang menafsirkan suatu peristiwa, hubungan dengan orang lain, kondisi lingkungan, serta faktor biologis dapat saling berkaitan. Perspektif biopsikososial membantu kita melihat bahwa kesehatan dan masalah manusia dapat dipengaruhi oleh interaksi faktor biologis, psikologis, dan sosial (Engel, 1977).

Sebagai contoh, seseorang yang mengalami kecemasan mungkin sedang menghadapi tekanan akademik, memiliki kekhawatiran terhadap penilaian orang lain, dan kurang mendapatkan dukungan dari lingkungan.

Contoh ini bukan berarti semua kecemasan berasal dari faktor-faktor tersebut. Tujuannya adalah menunjukkan bahwa memahami masalah membutuhkan pertanyaan yang terbuka dan perhatian terhadap konteks, bukan kesimpulan yang terlalu cepat.

Penting pula membedakan antara pemicu, faktor yang mempertahankan masalah, dan dampak yang muncul. Suatu peristiwa dapat memicu kesulitan, sedangkan kebiasaan menghindari situasi tertentu mungkin membuat ketakutan tetap bertahan.

Dampaknya kemudian bisa terlihat pada hubungan sosial, proses belajar, tidur, atau aktivitas harian. Hubungan tersebut perlu dinilai secara hati-hati dan tidak boleh dianggap sama pada setiap orang.

Mengapa Masalah Perlu Dipahami Sebelum Terapi?

Psikoterapi bukan sekadar memberi nasihat agar seseorang berpikir positif atau berhenti merasa sedih. Psikoterapi melibatkan proses profesional yang membantu individu memahami pengalaman, mengenali pola pikiran dan perilaku, serta mengembangkan cara menghadapi kesulitan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Bentuk pendekatan dan tujuan terapi dapat berbeda bergantung pada kondisi, preferensi, serta hasil asesmen.

American Psychological Association menjelaskan bahwa psikoterapi mencakup berbagai pendekatan yang dapat membantu seseorang mengatasi masalah dan meningkatkan kesejahteraan.

Karena tidak ada satu pendekatan yang otomatis cocok untuk semua orang, pemahaman yang baik mengenai masalah dan kondisi individu menjadi bagian penting dalam merencanakan bantuan (American Psychological Association, n.d.).

Memahami hakikat masalah juga membantu menghindari penilaian yang menyederhanakan keadaan. Seseorang yang kesulitan menyelesaikan tugas, misalnya, tidak selalu malas.

Ada kemungkinan ia kewalahan, tidak memahami tugas, mengalami tekanan, atau menghadapi kesulitan lain. Memahami konteks bukan berarti membenarkan semua perilaku, melainkan mencari penjelasan yang lebih akurat agar langkah berikutnya lebih bermanfaat.

Mendengarkan Tanpa Menghakimi

Dalam proses memahami masalah, mendengarkan dengan empati menjadi hal yang penting. Pertanyaan terbuka seperti “Apa yang paling berat kamu rasakan akhir-akhir ini?” dapat memberi ruang bagi seseorang untuk menjelaskan pengalamannya dengan kata-katanya sendiri.

Sebaliknya, komentar seperti “Kamu terlalu berlebihan” bisa membuat orang merasa tidak dipahami dan enggan bercerita.

Meski demikian, teman atau keluarga tidak harus berperan sebagai terapis. Mereka dapat memberikan dukungan, mendengarkan, dan membantu seseorang mencari bantuan profesional ketika masalah terasa berat atau terus mengganggu kehidupan.

Psikolog atau tenaga profesional yang berwenang dapat melakukan asesmen lebih menyeluruh dan mendiskusikan pilihan penanganan yang sesuai.

Memahami Sebelum Menentukan Langkah

The Nature of the Problem mengingatkan kita bahwa masalah psikologis perlu dipahami secara menyeluruh, bukan dinilai hanya dari perilaku yang terlihat. Dengan memperhatikan pengalaman, pikiran, perasaan, lingkungan, serta dampaknya, kita dapat melihat persoalan secara lebih adil dan mengurangi kecenderungan memberi label kepada orang lain.

Dalam psikoterapi, pemahaman tersebut menjadi dasar untuk menentukan tujuan dan bentuk bantuan yang sesuai. Tidak semua kesulitan berarti gangguan mental, tetapi setiap orang berhak didengarkan dan memperoleh dukungan yang tepat ketika membutuhkannya. Memahami masalah secara cermat merupakan langkah awal untuk membantu, bukan menghakimi.

 

Sumber : American Psychological Association. (n.d.). Understanding psychotherapy. https://www.apa.org/topics/psychotherapy/understanding

Engel, G. L. (1977). The need for a new medical model: A challenge for biomedicine. Science, 196(4286), 129–136. https://doi.org/10.1126/science.847460

National Institute of Mental Health. (n.d.). Psychotherapies. https://www.nimh.nih.gov/health/topics/psychotherapies

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *