Oleh : Ali Sururi
IAINUonline -Rintik hujan di musim kemarau : Kadang-kadang, orang yang paling sering membantu kita justru adalah orang yang paling jarang kita hargai.
Pagi itu hujan mengguyur kota sejak subuh. Air mengalir di tepi halaman sekolah, menyisakan genangan kecil di antara dedaunan yang berserakan. Aroma tanah basah menyeruak bersama udara dingin yang menyusup ke lorong-lorong sekolah.
Pak Budi baru saja menyelesaikan pekerjaannya ketika sebuah kendaraan berhenti di halaman. Dari balik kaca yang berembun, seorang lelaki turun tergesa-gesa. Celana bagian bawahnya basah, sepatu mengilapnya kini kusam oleh cipratan lumpur. Tas yang dibawanya tak luput dari guyuran hujan.
Lelaki itu adalah Pak Joni, wali kelas empat.
Usianya belum terlalu tua. Kemejanya selalu licin, rambutnya tersisir rapi, dan tutur katanya terdengar santun.
Di dalam kelas, ia terbiasa berdiri di depan murid-murid, memberikan arahan, dan meminta mereka mengikuti setiap instruksinya.
Namun, ada kebiasaan yang jarang disadarinya: ia selalu menganggap orang-orang di luar lingkaran guru sebagai tangan tambahan yang tersedia kapan saja dibutuhkan.
Baginya, seorang guru harus dilayani. Petugas kebersihan, staf, dan karyawan sekolah lainnya seolah memang dilahirkan untuk mengurus segala keperluan mereka.
“Pak Budi!”
Suara itu memecah kesunyian halaman.
Pak Budi menoleh. “Iya, Pak?”
“Tolong ambilkan handuk di ruang guru. Sekalian keringkan sepatu dan baju saya ini. Basah semua. Sebentar lagi saya harus masuk kelas.”
Pak Budi memandang pakaian yang diserahkan kepadanya. Air masih menetes dari ujung celana Pak Joni.
“Bajunya juga, Pak?”
“Iya, memangnya kenapa? Tolong cepat, ya. Saya tidak mungkin mengajar dengan pakaian begini.”
“Baik, Pak.”
Pak Budi membawa pakaian dan sepatu itu ke belakang ruang guru. Ia mencari kain kering, menggantung baju yang basah, lalu mengarahkan kipas angin ke sepasang sepatu yang mulai kehilangan kilapnya.
Angin kipas berputar pelan. Sementara itu, sapu dan ember miliknya masih tergeletak di halaman.
Sebenarnya, bukan kali ini saja Pak Budi meninggalkan pekerjaannya demi memenuhi permintaan Pak Joni.
Tas yang tertinggal di kelas pernah menjadi urusannya. Makan siang yang belum tersedia juga sering membuatnya harus beranjak dari pekerjaan. Bahkan, untuk meminta bantuan kecil sekalipun, Pak Joni lebih suka memanggil dari kejauhan.
“Pak Budi, sini sebentar!”
Jarang sekali ia berjalan menghampiri.
Pernah suatu siang Pak Budi membelikan makan siang untuknya. Ia harus mengantre cukup lama, sementara matahari membakar jalanan.
Ketika kembali ke sekolah, uang di sakunya berkurang untuk membayar parkir. Pak Joni menerima makanan itu tanpa bertanya berapa ongkos yang telah dikeluarkan.
Pak Budi hanya tersenyum.
Ia menyimpan rasa sungkannya sendiri. Baginya, menjaga hubungan baik dengan sesama pekerja jauh lebih penting daripada memperdebatkan hal-hal kecil.
Namun, kebaikan yang terlalu sering diberikan kadang membuat orang lupa bahwa tangan yang menolong juga bisa merasa lelah.
Menjelang siang, ruang guru mulai lengang. Beberapa guru mengajar di kelas, sementara Pak Joni duduk di kursinya, membolak-balik buku siswa. Secangkir kopi mengepulkan uap tipis di samping tumpukan berkas.
Pak Budi datang dari arah lorong. Kain lap masih tersampir di bahunya.
“Pak Joni, boleh saya bicara sebentar?”
Pak Joni mengangkat wajah. “Silakan. Ada apa?”
“Maaf, Pak. Saya ingin menyampaikan sesuatu. Kalau urusan pekerjaan sekolah, saya selalu siap membantu.
Tapi kalau urusan pribadi seperti mengeringkan pakaian dan sepatu tadi, mungkin Bapak bisa mengurusnya sendiri.”
Pak Joni meletakkan buku.
“Lho, kenapa? Saya kan hanya minta tolong.”
Pak Budi mengusap keringat di dahinya.
“Saya masih punya pekerjaan, Pak. Kamar mandi belum selesai dibersihkan, halaman belakang masih berantakan, beberapa kelas juga belum dirapikan.”
“Pak Budi, jangan terlalu mempermasalahkan hal kecil. Kita ini bekerja di satu sekolah. Harus saling membantu.”
Pak Budi mengangguk pelan.
“Saya setuju, Pak. Tapi saling membantu itu seharusnya juga saling menghargai.”
Kening Pak Joni berkerut.
“Jadi sekarang Bapak keberatan kalau dimintai tolong guru?”
“Bukan begitu, Pak. Saya hanya ingin Bapak memahami bahwa saya juga punya tanggung jawab.”
Pak Joni menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Lalu apa bedanya? Bapak memang bekerja di sini untuk membantu kebutuhan sekolah.”
Pak Budi menarik napas. Ia mencoba menjaga suaranya tetap rendah.
“Betul, Pak. Saya bekerja untuk sekolah. Tapi bukan berarti semua urusan pribadi Bapak menjadi tanggung jawab saya.”
Wajah Pak Joni berubah. Ia menutup buku di hadapannya sedikit lebih keras daripada biasanya.
“Pak Budi, jangan lupa posisi Bapak di sini. Bapak itu karyawan. Kami ini guru. Kalau guru membutuhkan sesuatu, ya karyawan membantu. Karyawan itu pesuruh guru!”
Kalimat itu meluncur begitu saja.
Pak Budi terdiam. Kain lap di tangannya diremas perlahan. Pandangannya jatuh ke lantai. Beberapa detik berlalu sebelum ia kembali mengangkat wajah.
“Maaf, Pak Joni. Saya boleh bertanya?”
“Apa?”
“Apakah karena saya bukan guru, berarti saya tidak punya harga diri?”
Pak Joni tak segera menjawab.
Pak Budi melanjutkan, kali ini dengan suara yang mulai bergetar.
“Selama ini saya tidak pernah keberatan membantu Bapak. Ketika tas tertinggal, saya ambilkan. Ketika Bapak ingin makan siang, saya belikan. Bahkan uang parkir pun terkadang saya bayar sendiri. Saya tidak pernah meminta ganti karena saya pikir kita ini keluarga besar sekolah.”
Ia berhenti sejenak.
“Tapi pernahkah Bapak berpikir, ketika saya meninggalkan pekerjaan untuk mengurus keperluan Bapak, siapa yang menyelesaikan pekerjaan saya?”
“Ya, itu kan memang pekerjaan Bapak!”
“Membersihkan sekolah, Pak. Bukan menjadi pelayan pribadi!”
Suara Pak Budi sedikit meninggi.
Beberapa guru yang berada di ruangan itu berhenti membolak-balik berkas. Sebuah kursi bergeser pelan. Tak seorang pun menyela.
Pak Joni berdiri.
“Bapak jangan kurang ajar! Saya ini guru. Saya mendidik anak-anak di sini!”
Pak Budi menatapnya lekat-lekat.
“Saya menghormati Bapak sebagai guru. Tapi apakah menjadi guru membuat seseorang boleh merendahkan pekerjaan orang lain?”
Pak Joni terdiam.
“Setiap hari saya datang pukul lima pagi, Pak. Ketika Bapak datang, lorong sudah bersih. Kamar mandi sudah bisa digunakan. Daun-daun sudah saya kumpulkan. Ketika sekolah masih tidur, saya sudah bekerja. Ketika semua orang pulang, terkadang saya masih membereskan halaman.”
Suara Pak Budi melemah.
“Saya juga punya istri dan dua anak di rumah. Mereka menunggu saya pulang. Saya bekerja untuk menghidupi keluarga, bukan untuk mendapatkan perlakuan istimewa. Saya hanya ingin dihargai sebagai manusia.”
Pak Joni mengalihkan pandangan.
“Jadi selama ini Bapak merasa diperlakukan tidak adil?”
Pak Budi mengangguk kecil.
“Saya bukan tidak ikhlas membantu, Pak. Saya hanya sedih ketika ketulusan dianggap sebagai kewajiban. Jangan karena saya selalu mengatakan iya, Bapak merasa berhak menyuruh saya melakukan apa saja.”
Pak Budi meletakkan kain lap di atas meja.
“Maaf kalau perkataan saya kurang berkenan. Saya kembali bekerja.”
Ia melangkah keluar. Pintu ruang guru berayun pelan setelah tubuhnya melewati ambang.
Pak Joni masih berdiri. Kopi di samping berkasnya mulai dingin.
Sepanjang perjalanan pulang, kalimat itu terus berputar di kepala Pak Budi.
Karyawan itu pesuruh guru.
Rasanya lebih berat daripada karung sampah yang setiap pagi ia angkut.
Malam mulai turun ketika ia tiba di rumah. Lampu ruang tengah menyala kekuningan. Istrinya sedang merapikan pakaian, sementara suara televisi terdengar pelan dari sudut ruangan.
“Bapak kenapa? Dari tadi diam saja,” tanya istrinya.
Pak Budi meletakkan tas. Ia mengusap wajahnya, lalu duduk di kursi kayu.
“Tidak apa-apa, Bu. Hanya ada sedikit masalah di sekolah.”
“Dengan siapa?”
“Pak Joni.”
Istrinya berhenti melipat pakaian. Ia mendengarkan ketika Pak Budi menceritakan kejadian siang tadi.
“Bapak selama ini selalu mengajarkan anak-anak kita untuk menghormati orang lain,” katanya setelah cerita itu selesai. “Tapi menghormati orang lain bukan berarti membiarkan diri sendiri tidak dihargai.”
Pak Budi menunduk. Jari-jarinya saling bertaut.
“Bapak takut dianggap tidak tahu diri, Bu. Kita ini hanya orang kecil.”
Istrinya meletakkan pakaian di pangkuan.
“Pak, kita mungkin tidak punya jabatan tinggi. Tapi bukan berarti kita tidak punya martabat.”
Pak Budi tak menjawab. Dari luar terdengar suara jangkrik bersahutan. Ia memandang kedua tangannya yang kasar, tangan yang setiap hari memegang sapu, mengangkat ember, dan membersihkan kotoran orang lain.
Malam itu, ia mulai memahami bahwa menjadi orang baik bukan berarti harus selalu mengalah.
Keesokan paginya, langit kembali cerah. Embun masih menempel di ujung daun ketika Pak Budi datang pukul lima. Sapu lidi bergerak menyentuh lantai halaman, menimbulkan suara gesekan yang akrab di telinganya.
“Pak Budi.”
Ia menoleh.
Pak Joni berdiri beberapa langkah di belakangnya. Kali ini tidak ada perintah yang keluar dari mulutnya.
“Sedang sibuk?”
Pak Budi menyandarkan sapu.
“Sedang merapikan halaman, Pak. Ada apa?”
Pak Joni menggosok telapak tangannya. Wajahnya tampak berbeda dari kemarin.
“Saya ingin bicara soal kejadian kemarin.”
“Silakan, Pak.”
Pak Joni menarik napas.
“Semalam saya memikirkan perkataan Bapak. Saya rasa saya memang keterlaluan.”
Pak Budi diam.
“Saya terlalu terbiasa meminta bantuan sampai lupa bahwa Bapak juga punya pekerjaan sendiri. Dan ucapan saya tentang karyawan itu pesuruh guru… seharusnya tidak pernah saya katakan.”
Ia menundukkan kepala.
“Maafkan saya, Pak Budi.”
Angin pagi menggerakkan daun-daun di atas mereka. Beberapa helai jatuh ke halaman yang baru saja disapu.
Pak Budi tersenyum tipis.
“Tidak apa-apa, Pak. Saya juga tidak ingin kita bermusuhan. Saya hanya berharap ke depannya kita bisa saling menghargai.”
Pak Joni mengangguk.
“Kalau saya membutuhkan bantuan, saya akan meminta dengan baik. Kalau bisa saya kerjakan sendiri, ya saya kerjakan sendiri.”
Pak Budi tertawa kecil.
“Ya, Pak. Kita sama-sama bekerja untuk sekolah ini.”
Pak Joni mengulurkan tangan. Pak Budi menyambutnya. Jabat tangan itu singkat, tetapi cukup untuk membuka lembaran baru di antara keduanya.
Pagi semakin ramai. Suara langkah siswa mulai memenuhi koridor. Dari salah satu kelas terdengar tawa yang pecah, disusul suara guru mengingatkan mereka agar segera duduk.
Di ujung lorong, seorang siswa menjatuhkan bungkus makanan. Anak itu terus berjalan, tak menyadari sampah yang tertinggal di lantai.
Pak Budi membungkuk dan memungutnya.
Ia kembali mengambil sapu. Gerakannya tetap tenang seperti hari-hari sebelumnya.
Pak Joni berjalan melewatinya menuju kelas. Kali ini ia berhenti sejenak.
“Terima kasih, Pak Budi.”
Pak Budi mengangguk.
Sederhana. Hanya dua kata. Namun, barangkali itulah sesuatu yang selama ini jarang ia dengar.
Di sekolah kecil itu, Pak Joni mengajar anak-anak tentang membaca, berhitung, dan berbagai pengetahuan. Sementara Pak Budi, tanpa papan tulis dan tanpa ruang kelas, mengajarkan sesuatu yang tak tercantum dalam buku pelajaran: ketulusan, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap sesama.
Sebab pendidikan sejati tidak hanya terlihat dari bagaimana seorang guru memperlakukan muridnya, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan orang-orang yang bekerja bersamanya.
Dan di lorong yang kembali bersih itu, Pak Budi melanjutkan pengabdiannya. Bukan sebagai pesuruh siapa pun, melainkan sebagai manusia yang tahu bahwa setiap pekerjaan memiliki kehormatan.
