Oleh : Nurhaningtyas Agustin, M.Pd
IAINUonline – Di sebuah taman kanak-kanak (TK), seorang ibu tampak gelisah saat menunggu anaknya pulang sekolah. Berkali-kali ia membuka grup WhatsApp wali murid SD favorit di desanya.
Di sana tertulis syarat tidak resmi yang sudah dipahami banyak orang tua: calon siswa diharapkan sudah bisa membaca saat masuk kelas satu. Malam harinya, anaknya yang masih berusia enam tahun duduk di meja belajar sambil mengeja huruf dengan mata setengah mengantuk.
Ketika salah menyebutkan kata, ibunya spontan berkata, “Kalau belum bisa membaca nanti tidak diterima SD bagus.” Anak itu pun terdiam, memandangi buku bacanya tanpa semangat.
Fenomena tuntutan anak usia dini harus bisa membaca sebelum masuk SD kini semakin umum terjadi. Banyak orang tua merasa cemas jika anaknya belum lancar membaca di usia TK. Akibatnya, masa bermain anak perlahan berubah menjadi masa latihan akademik.
Lembaga PAUD dan TK pun sering kali ikut tertekan karena dianggap gagal jika lulusannya belum mampu membaca. Di satu sisi, ada orang tua yang mendukung anak belajar membaca sejak dini. Mereka beranggapan kemampuan membaca akan memudahkan anak mengikuti pelajaran di SD.
Apalagi beberapa sekolah dasar secara tidak langsung memang lebih menyukai siswa yang sudah memiliki kemampuan calistung. Dalam kondisi persaingan pendidikan saat ini, banyak keluarga takut anaknya tertinggal sejak awal.
Namun di sisi lain, banyak pendidik dan pemerhati anak menilai tuntutan tersebut justru dapat membebani perkembangan anak usia dini. Anak-anak yang seharusnya belajar melalui bermain menjadi lebih sering duduk mengerjakan latihan membaca dan menulis. Tidak sedikit anak akhirnya merasa sekolah sebagai tekanan, bukan tempat yang menyenangkan.
Jika dikaitkan dengan teori perkembangan kognitif dari Jean Piaget, anak usia dini berada pada tahap praoperasional, yaitu fase ketika mereka belajar melalui pengalaman konkret, imajinasi, permainan, dan interaksi sosial.
Pada tahap ini, setiap anak memiliki kesiapan belajar yang berbeda-beda. Karena itu, memaksa semua anak harus cepat membaca dapat mengabaikan proses perkembangan alami mereka. Sementara itu, teori perkembangan sosial dari Lev Vygotsky menjelaskan bahwa anak belajar paling baik melalui pendampingan yang menyenangkan dan sesuai tahap perkembangannya.
Artinya, mengenalkan membaca sebenarnya boleh dilakukan sejak dini, tetapi tidak dengan tekanan berlebihan. Anak perlu merasa bahwa belajar adalah aktivitas yang menyenangkan, bukan ancaman.
Kelompok yang pro terhadap pembelajaran membaca dini biasanya berpendapat bahwa pengenalan huruf dan membaca dasar dapat melatih kesiapan akademik anak. Mereka juga melihat realitas di lapangan bahwa banyak SD belum sepenuhnya siap menghadapi siswa yang benar-benar mulai dari nol. Akibatnya, anak yang belum bisa membaca sering tertinggal dibanding teman-temannya. Namun kelompok kontra menilai masalah sebenarnya bukan pada anak, melainkan pada sistem pendidikan yang terlalu dini menuntut capaian akademik.
SD seharusnya menjadi tempat anak belajar membaca, bukan tempat menyeleksi siapa yang sudah bisa membaca. Jika tuntutan ini terus dibiarkan, maka PAUD dan TK akan kehilangan esensinya sebagai ruang bermain dan stimulasi perkembangan anak.
Ironisnya, banyak orang tua akhirnya lebih bangga ketika anak usia lima sampai enam tahun sudah lancar membaca daripada ketika anak mampu bersosialisasi dengan baik, mandiri, atau percaya diri. Padahal kemampuan sosial dan emosional justru menjadi fondasi penting dalam perkembangan anak di masa depan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat sering kali memahami kecerdasan hanya dari kemampuan akademik. Anak yang cepat membaca dianggap pintar, sedangkan anak yang masih senang bermain dianggap tertinggal. Padahal setiap anak memiliki kecepatan tumbuh yang berbeda.
Karena itu, persoalan membaca pada anak usia dini seharusnya tidak dilihat secara hitam putih. Mengenalkan membaca sejak dini bukan sesuatu yang salah, selama dilakukan dengan cara yang menyenangkan, tanpa tekanan, dan sesuai tahap perkembangan anak.
Yang menjadi masalah adalah ketika membaca berubah menjadi tuntutan yang membuat anak kehilangan masa bermainnya.
Pada akhirnya, pendidikan anak usia dini seharusnya tidak hanya berfokus pada seberapa cepat anak bisa membaca, tetapi juga pada bagaimana anak tumbuh menjadi pribadi yang bahagia, percaya diri, kreatif, dan siap belajar. Sebab anak kecil bukan mesin akademik yang harus dipaksa cepat matang, melainkan manusia kecil yang sedang belajar mengenal dunia dengan caranya sendiri.
