Oleh : Ulya Ainur Rofi’ah, M.Pd
IAINUonline – Krisis terbesar dalam pengasuhan hari ini bukanlah anak yang kurang cerdas, melainkan anak yang kehilangan kompas moral ketika tidak ada yang mengawasinya.
Di tengah dunia yang semakin terbuka, ketika media sosial lebih menghargai pencitraan daripada ketulusan, tantangan orang tua bukan lagi sekadar mengajarkan anak tentang mana yang benar dan mana yang salah.
Tantangan yang sesungguhnya adalah menanamkan kesadaran agar anak tetap memilih kebenaran, meskipun tidak ada tepuk tangan, tidak ada penghargaan, dan tidak ada seorang pun yang melihat.
Banyak orang tua mengukur keberhasilan pengasuhan dari prestasi akademik, kemampuan berbahasa asing, atau banyaknya keterampilan yang dimiliki anak. Tidak sedikit pula yang berlomba memasukkan anak ke sekolah terbaik, kursus terbaik, dan berbagai program pengembangan diri.
Semua itu tentu penting. Namun, pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah: Siapakah anak itu ketika ia berada sendirian? Apakah ia tetap jujur ketika memiliki kesempatan untuk berbohong? Apakah ia tetap amanah ketika tidak diawasi? Apakah ia tetap menghormati orang lain ketika tidak ada yang akan menilainya?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang seharusnya menjadi inti dari Islamic Parenting. Pengasuhan Islami tidak berhenti pada keberhasilan membentuk perilaku yang tampak di depan orang lain, tetapi berusaha membangun karakter yang hidup di dalam hati. Sebab, perilaku dapat berubah mengikuti situasi, tetapi karakter akan tetap menjadi penuntun dalam setiap pilihan hidup.
Islam telah memberikan fondasi yang sangat kuat melalui konsep ihsan, yaitu kesadaran bahwa Allah senantiasa mengetahui setiap perbuatan manusia. Nilai ini melahirkan integritas, yakni kemampuan untuk tetap berbuat baik tanpa bergantung pada pengawasan, hukuman, atau penghargaan.
Anak yang tumbuh dengan kesadaran ihsan tidak berbuat baik karena takut kepada manusia, melainkan karena merasa bertanggung jawab di hadapan Allah. Inilah bentuk kebebasan moral yang sesungguhnya—ketika kebaikan lahir dari kesadaran, bukan dari keterpaksaan.
Sayangnya, pola pengasuhan modern sering kali lebih sibuk membangun citra daripada membangun karakter. Anak diajarkan cara tampil percaya diri, tetapi belum tentu diajarkan cara bersikap rendah hati. Anak dibimbing untuk menjadi juara, tetapi belum tentu dipersiapkan untuk menerima kegagalan dengan lapang dada.
Anak didorong mengejar prestasi, tetapi kurang dibiasakan untuk bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil. Akibatnya, lahirlah generasi yang mungkin unggul secara akademik, tetapi rapuh ketika menghadapi godaan, tekanan, atau konflik moral.
Di era kecerdasan buatan, tantangan ini menjadi semakin nyata. Pengetahuan dapat diakses dalam hitungan detik, teknologi mampu menyelesaikan berbagai pekerjaan, bahkan kecerdasan buatan dapat membantu manusia mengambil keputusan.
Namun, tidak ada teknologi yang mampu menggantikan hati nurani. Mesin dapat mengolah data, tetapi tidak memiliki kejujuran. Algoritma dapat mengenali pola, tetapi tidak memiliki empati. Artificial Intelligence dapat meniru cara manusia berpikir, tetapi tidak dapat menumbuhkan amanah, kasih sayang, atau rasa takut kepada Allah.
Karena itu, masa depan tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga generasi yang kokoh secara moral.
Di sinilah Islamic Parenting menemukan relevansinya. Pengasuhan Islami bukan sekadar mengajarkan tata cara ibadah atau menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi menanamkan nilai yang membentuk cara anak berpikir, merasakan, dan bertindak.
Ketika kejujuran menjadi kebiasaan, amanah menjadi identitas, dan kasih sayang menjadi budaya keluarga, anak tidak hanya tumbuh sebagai pribadi yang saleh secara individual, tetapi juga mampu menjadi warga masyarakat yang adil, peduli, dan bertanggung jawab.
Pada akhirnya, orang tua tidak akan selalu hadir mendampingi setiap langkah anak. Akan ada saatnya anak mengambil keputusan sendiri, menghadapi godaan sendiri, dan menentukan jalan hidupnya sendiri. Pada saat itulah, yang menjaga mereka bukan lagi nasihat orang tua, melainkan nilai-nilai yang telah tertanam sejak kecil.
Maka, tujuan tertinggi Islamic Parenting bukanlah menciptakan anak yang patuh karena diawasi, melainkan melahirkan manusia yang berakhlak karena memiliki kesadaran kepada Allah.
Sebab, keberhasilan pengasuhan tidak diukur dari seberapa lama orang tua mampu mengawasi anak, tetapi dari seberapa kuat iman, akhlak, dan integritas yang tetap membimbing anak ketika pengawasan itu telah tiada.
Itulah warisan yang tidak akan lekang oleh zaman, tidak tergantikan oleh teknologi, dan akan terus hidup dalam setiap pilihan baik yang diambil seorang anak sepanjang kehidupannya.
