Oleh: Kang Latif, Dosen Psikologi Islam Fakultas Dakwah IAINU Tuban

IAINUonline – Suasana pagi di pesisir tidak pernah benar-benar tenang. Dimana kondisi selalu dimulai dengan ketidakpastian “Apakah laut hari ini ramah, atau justru menyimpan amarah??”.

Kebanyakkan masyarakat menilai, laut adalah panorama yang kaya akan sarat estetik. Namun tidak berlaku bagi masyarakat pesisir yang menilai laut sebagai ruang hidup yang menguji batin setiap hari.

Di tepi pantai masyarakat pesisir bisa membaca dinamika psikologi yang unik tentang keteguhan yang terlahir bukan dari kemapanan, melainkan dari keterbatasan.

Anak-anak para nelayan tumbuh dalam ritme kehidupan yang keras namun jujur. Mereka tumbuh dan berkembang seraya menyaksikan bagaimana bapak berangkat sebelum subuh tanpa jaminan hasil, sedangkan mamaknya mengelola harapan di tengah penghasilan yang fluktuatif.

Dari sini terbentuk istilah dalam psikologi modern disebut sebagai resiliensi kemampuan untuk bertahan, beradaptasi, bahkan bangkit dari tekanan hidup. Namun resiliensi masyarakat pesisir bukan sekedar konsep akademik melainkan pengalaman hidup yang diwariskan turun temurun secara cultural.

Dalam perspektif Psikologi Islam, daya juang tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan nilai-nilai spiritual seperti tawwakal, sukur dan sabar. Tawwakal bukanlah pasrah tanpa ikhtiar, melainkan kesadaran mendalam bahwa setelah berusaha semaksimal mungkin, semua prosesnya dilalui maka hasil ataupun buah dari ikhtiar tetap dalam kehendak Allah SWT. Para nelayan di pesisir pantura tetap melaut meski cuaca tak menentu itu bagian dari representasi nyata dari tawwakaltu’alallah.

Sedangkan rasa sukur menjaga hati tetap utuh ketika rejeki datang secara tiba-tiba maupun tertunda, atau bahkan rejeki yang tergantikan dengan yang lebih bermanfaat.

Setelah tawwakal ditegakkan yang disertai rasa sukur lalu ditutup dengan kesabaran. Kesabaran menjadi pondasi stabilitas emosi para nelayan yang gelisah saat hasil tak sesuai harapan.

Menurut perspektif psikologi modern, nilai-nilai tersebut sejatinya merupakan bentuk coping stress yang adaptif pada individu nelayan. Wujud tawwakal bermakna sebagai emotion focused coping yang dapat membantu masyarakat pesisir mengelola kecemasan terhadap hal-hal yang diluar kendali manusia. Sedangkan sukur dalam berbagai riset terbukti sebagai faktor protektif terhadap depresi dan kelelahan mental, lalu dilengkapi dengan sabar untuk memperkuat regulasi emosi. Cermin ketangguhan jiwa seperti ini, dalam ajaran spiritual dapat ditemukan dalam psikologi islam yang selaras dengan temuan ilmiah kontemporer.

Sangat menarik dinamika psikologis masyarakat pesisir tidak hanya terbentuk darirelasi individu dengan Allah SWT, akan tetapi dari relasi sosial emosi yang kuat dan tangguh. Empatia di masyarakat pesisir bukan sekedar sikap, melainkan hasil dari social imprinting sebagai proses pembelajaran emosional yang ditanamkan sejak dini melalui interaksi komunitas.

Suatu ketika ada satu perahu yang tidak mendapatkan hasil tangkapan ikan, maka dari perahu lainnya akan berbagi. Ketika badai datang menerjang, deru ombak semakin bergemuruh para nelayan dan seluruh masyarakat pesisir merasakan terancam bersama.

Pelbagai pengalaman kolektif ini yang melatar belakangi sensitivitas sosial yang tinggi dengan kemampuan merasakan penderitaan orang lain sebagai bagian dari diri sendiri.

Empati ini menjadi modal sosial yang luar biasa sebagai cermin ketangguhan jiwa. Sekaligus menjadi tantangan ketika dibawa ke ruang kampus. Mahasiswa yang memiliki latar belakang masyarakat pesisir acapkali memiliki daya juang sangat tinggi, memiliki mental tahan banting juga sangat adaptif dan loman. Namun disisi lain, mahasiswa pesisir juga bisa terjebak dalam pola pikir pragmatis yang hanya fokus pada hasil cepat karena terbiasa hidup dalam ketidak pastian.

Di sinilah kampus memiliki peran strategis bukan hanya sekedar mentransfer ilmu, tetapi mengelola pengalaman hidup menjadi kesadaran reflektif. Pembinaan karakter mahasiswa berbasis psikologi islamdapat menjadikan dinamika psikologi masyarakat pesisir sebagai kekuatan, bukan hambatan. Resiliensi yang sudah terbentuk perlu diarahkan menjadi Growth mindset.

Tawwakal perlu dipahami bukan sebagai alasan untuk berhenti berusaha, tetapi sebagai energi untuk terus mencoba tanpa takut gagal. Syukur sebagai kesadaran untuk menggunakan ilmu demi kemaslahatan dan sabar perlu dimaknai sebagai ketekunan akademik.

Ke depannya empati sebagai social imprinting dapat dikembangkan menjadi kepedulian intelektual. Mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga peka terhadap realitas sosial di lingkungannya. Mereka mampu melihat masalah bukan sekedar sebagai obyek riset, akan tetapi sebagai panggilan untuk berkontribusi sosial.

Kontek ini, kampus dakwah memiliki peluang besar untuk selalu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas Intelligence Quotient (IQ), juga matang pada Emotional Quotient (EQ), Spiritual Quotient (SQ).

Perihal ini masyarakat pesisir mengajarkan kita satu hal penting, bahwa makna hidup tidak selalu ditemukan dalam kepastian tetapi justru dalam perjuangan menghadapi ketidak pastian itu sendiri.

Laut tidak pernah menjanjikan hasil, tetapi laut selalu memberi pelajaran hidup. Pada pelajaran itulah maka lahir manusia-manusia tangguh yang tidak hanya kuat menghadapi topan, badai dan gelombang. Tapi juga mampu menemukan ketenangan di dalam pikiran dan batinnya.

Pada tulisan ini perlu kita renungkan dibangku kuliah, bahwa pendidikan sejati bukan hanya tentang teori-teori apa yang kita ketahui bukan pula ayat-ayat yang kita hafalkan akan tetapi tentang bagaimana kita memaknai hidup. Masyarakat pesisir telah lebih dulu mengajarkannya diantara ombak, harapan dan do’a yang tak pernah putus.

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *