Oleh: Nurul Hakim, Alfaqir

IAINUonline – Kita hidup pada zaman ketika informasi datang jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memeriksa kebenarannya. Dalam hitungan detik, sebuah berita dapat berpindah dari satu telepon genggam ke ribuan bahkan jutaan telepon genggam lainnya.

Seseorang cukup menekan tombol share, forward, atau repost, lalu sebuah informasi menyebar ke mana-mana. Masalahnya, kecepatan penyebaran informasi tersebut tidak selalu beriringan dengan kebenaran.

Di sinilah salah satu tantangan besar kehidupan manusia pada era digital. Media sosial memang telah memberikan banyak manfaat. Jarak menjadi dekat, komunikasi menjadi mudah, pengetahuan semakin terbuka, dan berbagai informasi dapat diperoleh dalam waktu singkat.

Namun, pada saat yang sama, media sosial juga menjadi ruang yang sangat subur bagi tumbuh dan berkembangnya berita bohong atau hoaks. Yang lebih memprihatinkan adalah ketika hoaks dibungkus dengan bahasa agama.

Ada pesan yang diawali dengan ayat Al-Qur’an, dikaitkan dengan hadis Nabi, diberi nama seorang ulama, atau dikemas dalam bentuk poster dakwah. Karena tampilannya terlihat religius, tidak sedikit orang yang langsung mempercayainya. Bahkan, terkadang pesan tersebut segera dibagikan kepada keluarga, sahabat, dan grup-grup WhatsApp dengan niat menyebarkan kebaikan.

Padahal, niat baik saja tidak cukup. Kebaikan juga harus ditempuh melalui cara yang benar. Nabi Muhammad SAW jauh-jauh hari telah mengingatkan umatnya agar berhati-hati dalam menerima dan menyampaikan informasi. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, Nabi bersabda:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dianggap berdusta ketika ia menceritakan setiap apa yang didengarnya.”

Hadis ini terasa relevan untuk kehidupan kita sekarang. Dahulu orang mungkin hanya menceritakan apa yang didengarnya. Sekarang, bentuknya bisa berupa membagikan pesan WhatsApp, mengunggah ulang video, melakukan repost, membagikan tangkapan layar, atau meneruskan sebuah informasi kepada orang lain. Teknologinya berubah, tetapi tanggung jawab moralnya tetap sama.

Karena itu, tidak semua yang kita terima harus kita sebarkan. Tidak semua yang terlihat meyakinkan pasti benar. Tidak pula setiap pesan yang mencantumkan nama ulama otomatis dapat dipertanggungjawabkan. Bahkan tulisan yang mencantumkan kata HR. Bukhari atau HR. Muslim sekalipun masih perlu diperiksa. Jangan sampai nama Nabi Muhammad SAW justru digunakan untuk memberikan legitimasi terhadap informasi yang sebenarnya tidak pernah beliau sampaikan.

Persoalannya, manusia sering kali tergoda untuk menjadi orang pertama yang membagikan informasi. Ketika menerima berita yang mengejutkan, mengharukan, menakutkan, atau membuat marah, tangan kita terkadang bergerak lebih cepat daripada pikiran.

Tombol share ditekan sebelum akal sempat bertanya: Benarkah informasi ini? Dari mana sumbernya? Siapa yang pertama kali menyampaikan? Apakah sumber tersebut dapat dipercaya?

Padahal Islam mengajarkan tabayyun. Informasi tidak cukup hanya didengar, dibaca, atau ditonton. Informasi perlu diperiksa. Al-Qur’an dalam QS. al-Hujurat ayat 6 mengingatkan agar suatu berita diverifikasi sehingga kita tidak mencelakakan orang lain karena ketidaktahuan, lalu akhirnya menyesali apa yang telah dilakukan.

Tabayyun pada era digital mestinya menjadi bagian dari kebiasaan kita. Sebelum membagikan berita, berhentilah beberapa saat. Periksa sumbernya. Baca sampai selesai, bukan hanya judulnya. Bandingkan dengan sumber lain.

Jika berkaitan dengan agama, periksa kepada orang yang memiliki kompetensi. Jika mencantumkan hadis, pastikan hadis tersebut benar-benar ada sumbernya. Beberapa menit yang kita gunakan untuk memeriksa informasi bisa menyelamatkan banyak orang dari kesalahpahaman.

Selain tabayyun, Nabi mengajarkan ṣidq, kejujuran. Kebenaran tidak ditentukan oleh banyaknya orang yang membagikan sebuah informasi. Sesuatu yang viral belum tentu benar. Sebaliknya, sesuatu yang benar tidak selalu viral.

Dalam dunia media sosial, kita terkadang terjebak pada anggapan bahwa informasi yang berulang kali muncul di beranda kita berarti informasi tersebut benar. Padahal bisa jadi kita hanya sedang berada dalam lingkaran informasi yang terus mengulang pesan yang sama.

Nabi mengingatkan umatnya agar berpegang teguh pada kejujuran karena kejujuran akan mengantarkan kepada kebaikan. Pesan ini memberikan pelajaran penting bahwa seorang Muslim semestinya tidak menjadikan popularitas sebagai ukuran kebenaran. Kebenaran harus tetap dicari berdasarkan sumber dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ada pula prinsip amanah. Ketika seseorang menerima informasi lalu membagikannya kepada orang lain, sebenarnya ia sedang mengambil bagian dalam perjalanan informasi tersebut. Karena itu, kalimat “saya hanya meneruskan” tidak serta-merta menghapus tanggung jawab.

Setiap pesan yang kita sebarkan dapat membawa akibat. Bisa membuat orang senang, tetapi juga bisa menimbulkan keresahan. Bisa memberikan pengetahuan, tetapi juga bisa merusak nama baik seseorang.

Lebih berbahaya lagi jika informasi palsu tersebut menyangkut agama, kelompok, atau pribadi tertentu. Hoaks dapat berubah menjadi fitnah. Seseorang dapat dituduh melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukannya. Sebuah kelompok dapat dicurigai hanya berdasarkan informasi yang tidak jelas. Hubungan antarmasyarakat bahkan dapat rusak hanya karena berita yang belum pernah diverifikasi.

Di sinilah etika komunikasi Nabi menjadi sangat penting. Nabi SAW bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.”

Pada masa media sosial, berkata tentu tidak hanya melalui lisan. Tulisan di Facebook adalah perkataan. Komentar di Instagram adalah perkataan. Unggahan di TikTok adalah perkataan. Pesan yang kita teruskan melalui WhatsApp juga merupakan bentuk komunikasi yang harus dipertanggungjawabkan.

Karena itu, hadis tersebut dapat kita baca dalam konteks yang lebih luas, yaitu jika sebuah unggahan tidak membawa kebaikan, tidak jelas kebenarannya, atau justru berpotensi menyakiti dan memecah belah, barangkali pilihan terbaik adalah tidak ikut menyebarkannya. Menahan jari terkadang lebih baik daripada menyesali akibatnya.

Namun, persoalan hoaks sebenarnya tidak hanya berada pada individu pengguna media sosial. Ada persoalan yang lebih besar, yaitu sistem digital itu sendiri. Media sosial bekerja melalui algoritma yang cenderung memberikan perhatian lebih besar kepada konten yang banyak mendapatkan respons.

Konten yang membuat orang marah, takut, terkejut, atau penasaran sering kali lebih cepat mendapatkan perhatian. Akibatnya, informasi sensasional mempunyai peluang lebih besar untuk beredar luas daripada informasi yang tenang dan edukatif.

Dengan kata lain, kita sedang hidup dalam ruang digital yang sering kali memberikan penghargaan kepada kecepatan dan popularitas, bukan kepada ketelitian dan kebenaran. Karena itu, perjuangan melawan hoaks tidak cukup hanya dengan mengatakan kepada masyarakat, “Jangan menyebarkan berita bohong.” Literasi digital memang penting, tetapi platform digital juga perlu ikut bertanggung jawab. Teknologi semestinya dirancang bukan hanya untuk membuat manusia semakin lama menatap layar, melainkan juga membantu manusia berkomunikasi secara sehat dan bertanggung jawab.

Prinsip tabayyun, misalnya, dapat diterjemahkan ke dalam desain teknologi. Sebelum sebuah informasi sensitif dibagikan, pengguna dapat diberikan peringatan untuk membaca atau memeriksa sumbernya terlebih dahulu. Sumber informasi dapat dibuat semakin transparan. Konten keagamaan dapat diberikan penanda sumber yang jelas.

Informasi yang telah diverifikasi keliru tidak semestinya terus-menerus mendapatkan ruang distribusi yang sama dengan informasi yang benar.

Di sinilah ajaran Nabi ternyata tidak kehilangan relevansinya di tengah perkembangan teknologi. Justru semakin cepat teknologi berkembang, semakin kita membutuhkan etika.

Ṣidq mengajarkan kita untuk berpihak kepada kebenaran. Amanah mengingatkan bahwa setiap informasi yang kita sebarkan membawa tanggung jawab. Tabayyun mengajarkan agar kita tidak terburu-buru mempercayai dan menyampaikan berita. Sedangkan adab al-qawl mengajarkan bahwa cara kita berbicara, menulis, berkomentar, dan merespons orang lain tetap harus dijaga.

Teknologi boleh berubah. Cara manusia berkomunikasi boleh berkembang. Dahulu berita berpindah dari mulut ke mulut, sekarang berpindah dari layar ke layar. Tetapi prinsip moralnya tidak berubah, yaitu jangan berdusta, jangan menyebarkan sesuatu yang belum jelas, jangan merusak kehormatan orang lain, dan jangan menggunakan perkataan untuk menciptakan permusuhan.

Mungkin kita tidak mampu menghentikan seluruh hoaks yang beredar di dunia digital. Kita juga tidak mungkin memeriksa setiap informasi yang beredar di internet. Namun, setidaknya kita dapat memastikan satu hal, yaitu hoaks itu berhenti di tangan kita.

Jika menerima informasi dan kita belum mengetahui kebenarannya, jangan terburu-buru membagikannya. Sebab terkadang menjadi orang terakhir yang menghentikan sebuah kebohongan jauh lebih mulia daripada menjadi orang pertama yang menyebarkan sebuah berita. Wallahu A’lam.

 

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *