Oleh: Nurul Hakim, Alfaqir

IAINUonline – Manusia tidak pernah hidup sendirian. Sejak dilahirkan sampai meninggalkan dunia, manusia selalu membutuhkan orang lain. Ia hidup bersama keluarga, tetangga, teman, dan masyarakat yang belum tentu memiliki latar belakang yang sama dengannya.

Perbedaan itu bukan hanya menyangkut suku, bahasa, budaya, dan status sosial, tetapi juga agama dan keyakinan. Karena itu, perjumpaan dengan orang yang berbeda agama sebenarnya merupakan sesuatu yang alamiah dalam kehidupan manusia.

Bagi umat Islam, hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain juga bukan pengalaman baru. Sejarah Islam sejak masa Nabi Muhammad SAW telah memperlihatkan kenyataan tersebut.

Ketika Islam hadir di Makkah dan kemudian berkembang di Madinah, Nabi berhadapan dengan masyarakat yang sangat beragam. Ada orang Islam, Yahudi, Nasrani, kaum musyrik, dan kelompok-kelompok keagamaan lainnya. Artinya, Islam sejak awal tumbuh dan berkembang di tengah kemajemukan.

Menariknya, hadis-hadis Nabi yang berbicara mengenai hubungan umat Islam dengan pemeluk agama lain juga memperlihatkan corak yang beragam. Ada hadis yang menunjukkan sikap apresiatif dan akomodatif.

Tetapi pada saat yang sama terdapat pula hadis yang sekilas memperlihatkan sikap keras dan konfrontatif. Kenyataan ini seharusnya menyadarkan kita bahwa memahami hadis tentang hubungan antaragama tidak cukup hanya dengan mengambil bunyi teks secara harfiah.

Salah satu contoh menarik adalah ketika Nabi Muhammad SAW mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman. Nabi mengetahui bahwa Mu’adz akan berhadapan dengan ahl al-kitab. Karena itu, Nabi memberikan petunjuk mengenai bagaimana dakwah harus dilakukan.

Mu’adz tidak diperintahkan memaksa masyarakat agar seketika menerima seluruh ajaran Islam. Dakwah dilakukan secara bertahap. Mereka terlebih dahulu diperkenalkan kepada Allah, kemudian salat, dan selanjutnya kewajiban-kewajiban yang lain.

Cara tersebut memperlihatkan betapa Nabi memahami kondisi orang yang sedang dihadapi. Dakwah bukan sekadar menyampaikan kebenaran, tetapi juga membutuhkan kebijaksanaan.

Kebenaran tidak harus disampaikan dengan kemarahan. Keyakinan tidak harus diperkenalkan dengan paksaan. Bahkan, sebuah ajaran yang benar bisa kehilangan daya tariknya apabila disampaikan dengan cara yang kasar.

Di sinilah kita perlu belajar bahwa keteguhan dalam beragama tidak identik dengan kekerasan dalam memperlakukan orang yang berbeda. Seseorang bisa sangat teguh memegang agamanya, tetapi pada saat yang sama tetap menghargai manusia yang berbeda keyakinan dengannya.

Ada kisah lain yang tidak kalah menarik. Dalam sebuah riwayat diceritakan tentang penghormatan terhadap jenazah non-Muslim. Ketika jenazah orang Yahudi atau Nasrani melintas, terdapat tuntunan untuk berdiri. Terlepas dari penjelasan mengenai alasan berdiri tersebut, pesan yang dapat ditangkap sangatlah penting, yaitu kematian mengingatkan manusia mengenai kemanusiaannya.

Di hadapan kematian, identitas sosial manusia seakan runtuh. Kekayaan, jabatan, suku, kelompok, bahkan berbagai kebanggaan duniawi tidak lagi berarti. Manusia kembali kepada hakikatnya sebagai makhluk Tuhan. Karena itu, penghormatan terhadap manusia tidak semestinya berhenti hanya karena seseorang mempunyai agama yang berbeda.

Persoalannya menjadi lebih rumit ketika kita membaca hadis-hadis yang berisi perintah memerangi, mengusir, atau bersikap keras terhadap kelompok agama tertentu. Apabila hadis semacam ini dilepaskan dari konteks sejarahnya, orang dapat dengan mudah memperoleh kesimpulan bahwa Islam mengajarkan permusuhan terhadap orang yang berbeda agama.

Padahal, sebuah hadis tidak lahir dalam ruang kosong. Hadis hadir dalam situasi kehidupan yang nyata. Ada perdamaian, tetapi ada pula peperangan. Ada kerja sama, tetapi ada pula pengkhianatan. Ada kelompok yang hidup berdampingan secara damai dengan umat Islam, tetapi ada pula kelompok yang melakukan serangan dan permusuhan.

Karena itu, hadis yang lahir dalam situasi peperangan tentu tidak dapat begitu saja dipindahkan ke dalam kehidupan masyarakat yang sedang damai. Perintah bersikap keras terhadap kelompok yang sedang memerangi umat Islam tidak serta-merta menjadi perintah untuk bersikap keras kepada semua orang yang memiliki agama berbeda. Di sinilah konteks menjadi penting.

Sejarah hubungan umat Islam dengan pemeluk agama lain memang mengalami pasang surut. Ada masa hubungan itu harmonis dan kooperatif, tetapi ada pula masa ketika hubungan berubah menjadi konflik dan konfrontasi. Karena itu, hadis-hadis yang lahir dalam perjalanan sejarah tersebut juga mencerminkan keadaan yang berbeda-beda. Memahami semuanya dengan satu cara pandang justru berpotensi menghilangkan pesan sebenarnya yang hendak disampaikan Nabi.

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, persoalan ini menjadi semakin relevan. Kita hidup di negeri yang majemuk. Muslim hidup berdampingan dengan Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, dan berbagai kelompok kepercayaan lainnya. Bahkan dalam satu kampung, satu lingkungan pekerjaan, atau satu keluarga besar, perbedaan keyakinan bisa ditemukan. Kenyataan tersebut tidak harus dipandang sebagai ancaman.

Perbedaan keyakinan memang tidak perlu dihapus. Seorang Muslim tetaplah Muslim dengan keyakinan teologisnya. Begitu pula pemeluk agama lain memiliki hak untuk memegang keyakinannya. Toleransi bukan berarti mencampuradukkan agama. Toleransi justru merupakan kemampuan untuk tetap teguh dengan keyakinan sendiri sambil memberikan ruang kepada orang lain untuk hidup dengan keyakinannya.

Karena itu, kita perlu membedakan wilayah keyakinan dengan wilayah kemanusiaan. Dalam persoalan akidah, setiap orang mempunyai prinsip yang diyakininya. Tetapi dalam persoalan kemanusiaan, kita memiliki banyak ruang untuk bertemu.

Ketika tetangga berbeda agama sakit, kita dapat menjenguknya. Ketika mereka tertimpa musibah, kita dapat menunjukkan empati. Ketika ada persoalan lingkungan, kita dapat bekerja bersama. Ketika ada orang kelaparan, kita tidak perlu terlebih dahulu menanyakan agamanya sebelum memberikan makanan.

Dan ketika ada orang membutuhkan pertolongan, identitas keagamaannya tidak seharusnya menghalangi tangan kita untuk membantu. Justru pada titik inilah kualitas keberagamaan seseorang diuji.

Beragama seharusnya membuat manusia semakin memiliki kasih sayang, bukan semakin mudah membenci. Semakin dalam seseorang memahami agamanya, semestinya semakin matang pula caranya memperlakukan orang lain. Sebab agama tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga mengajarkan bagaimana manusia memperlakukan sesamanya.

Namun demikian, toleransi juga tidak berarti kehilangan sikap kritis. Islam tetap memberikan ruang untuk berbeda, bahkan menolak sesuatu yang bertentangan dengan keyakinannya. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana perbedaan tersebut dikelola. Berbeda tidak harus bermusuhan. Tidak setuju tidak harus menghina. Mempertahankan keyakinan tidak harus dengan merendahkan keyakinan orang lain.

Barangkali salah satu persoalan kehidupan beragama kita hari ini bukan karena terlalu banyak perbedaan, melainkan karena kita belum sepenuhnya belajar bagaimana hidup bersama dalam perbedaan.

Media sosial semakin memperlihatkan persoalan itu. Orang mudah menghakimi hanya karena potongan ceramah, potongan hadis, atau satu pernyataan yang dilepaskan dari konteksnya.

Hadis yang dahulu disampaikan dalam suasana peperangan bisa dibawa ke tengah masyarakat yang sedang hidup damai. Akibatnya, teks agama yang seharusnya menjadi sumber petunjuk justru dapat digunakan untuk membenarkan kebencian.

Maka, memahami hadis secara utuh menjadi sangat penting. Kita perlu mengetahui bukan hanya apa yang dikatakan Nabi, tetapi juga kepada siapa Nabi mengatakannya, dalam keadaan bagaimana Nabi mengatakannya, dan untuk tujuan apa perkataan itu disampaikan. Dengan cara demikian, kita tidak akan mudah menjadikan hadis sebagai legitimasi untuk membenci orang lain.

Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki identitas yang kuat. Tetapi identitas yang kuat tidak harus dibangun dengan menciptakan musuh. Seorang Muslim tidak menjadi lebih Islami hanya karena semakin membenci orang yang berbeda agama dengannya. Keislaman justru akan terlihat ketika nilai-nilai agama melahirkan keadilan, kebijaksanaan, kedamaian, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Pada akhirnya, kehidupan bersama membutuhkan kelapangan hati. Kita mungkin tidak dapat menyamakan keyakinan, tetapi kita dapat menyamakan komitmen untuk menjaga kemanusiaan.

Kita mungkin berbeda dalam cara menyembah Tuhan, tetapi kita hidup di bumi yang sama, menghirup udara yang sama, menghadapi persoalan sosial yang sama, dan sama-sama berharap dapat menjalani kehidupan dengan aman dan bermartabat. Karena itu, menjaga keyakinan dan menjaga kemanusiaan seharusnya tidak dipertentangkan.

Kita dapat menjadi Muslim yang teguh tanpa harus menjadi manusia yang kasar. Kita dapat menjaga akidah tanpa harus kehilangan penghormatan kepada sesama. Kita dapat berbeda tanpa harus saling membenci.

Dan barangkali, di situlah salah satu wajah keberagamaan yang paling indah, yaitu ketika kedekatan seseorang kepada Tuhan membuatnya semakin pandai memanusiakan manusia.

 

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *