Oleh : Dian Efendi
IAINUonline – Agaknya ada sesuatu yang perlu kita akui dengan agak malu-malu sebagai pendidik. Mengenai paradigma berpikir kita yang mudah terlena karena kebiasaan dan kebudayaan serta ketidakberkenannya kita untuk sedikit kritis terhadap sesuatu yang sudah lama mangkrak di alam pikiran kita.
Sehingga hal tersebut menjadi ternormalisasikan dalam kehidupan yang kita jalani sebagai pendidik. Salah satunya adalah tentang anak baik yang selalu dikonotasikan dengan anak yang diam dan penurut yang mudah untuk diajari. Sebaliknya anak yang aktif dan ramai justru memperoleh setereotip sebagai anak yang kurang baik dan susah untuk diajari.
Pada dasarnya kita harus akui bahwa pandangan tersebut menyimpan kekeliruan mendasar, atau setidaknya kita telah terjebak dalam kecacatan nalar yang disebut False Dilemma. Yaitu logika yang menghadirkan seolah-olah hanya ada dua kemungkinan ; diam dan penurut.
Berarti anak baik dan mudah untuk diajari sehingga mudah untuk memahami materi, sedangkan ramai dan aktif berarti anak yang kurang baik, yang menyulitkan guru, susah untuk diajari dan susah atau bahkan tidak dapat memahami materi.
Kita terlalu terpaku pada belenggu moralitas yang kita ciptakan sendiri. Alih-alih memandang anak sebagai individu yang unik dan penuh potensi, lalu menuntun potensi tersebut agar menjadi kekuatan dalam pembelajara.
Kita justru tersibukkan pada menguasai perilakunya dengan standar moral yang kita kehendaki. Perhatian pendidik akhirnya lebih banyak diarahkan kepada penundukan anak agar bisa diam dan tidak ramai, sehingga dapat mengikuti pembelajaran sesuai dengan tata perilaku yang telah kita tentukan.
Orientasi semacam ini berpotensi mempengaruhi pengalaman belajar anak. Alih-alih membangun pengalaman yang menumbuhkan ketertarikan dan kecintaan terhadap aktivitas belajar, justru sebaliknya, banyak anak yang tidak peduli terhadap gagasan dan kehilangan semangat belajar, karena cara belajar yang mereka alami.
Hal ini sejalan dengan pemikiran John Dewey filsuf, psikolog, dan tokoh pendidikan progresif asal Amerika Serikat. Ia adalah salah satu pendiri aliran filsafat pragmatisme (khususnya instrumentalisme) yang menekankan bahwa kebenaran suatu gagasan diukur dari manfaat praktis dan hasil konkretnya dalam kehidupan nyata.
Ia menempatkan pengalaman belajar sebagai unsur penting dalam pendidikan. Dimana pengalaman bersifat sustainable (berkelanjutan). Artinya pengalaman belajar yang dilakukan saat ini memiliki keterhubungan dengan pengalaman belajar yang berikutnya.
Berangkat dari kondisi tersebut, pemikiran Ki Hajar Dewantara menjadi pijakan untuk melihat kembali mengenai dasar pendidikan yang merupakan tuntunan di dalam hidup kembangnya anak. Artinya, pendidikan akan menuntun segala kekuatan kodrat yang pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
Sebagai pendidik hal mendasar yang barangkali dapat kita lakukan adalah menumbuhkan kesadaran dan penerimaan atas realitas anak. Bahwa memang sudah kahanan anak-anak terlahir sebagai individu dengan kodrat yang berbeda, memiliki keunikan, dan potensinya masing-masing.
Sehingga dapat kita patahkan pikiran kita sebelumnya, bahwa yang anteng mudah paham dan yang aktif dan ramai sulit untuk memahami materi pelajaran.
Bahwa keaktifan anak tidak semestinya diposisikan sebagai masalah yang harus ditekan, melainkan sebagai realitas yang perlu kita pahami, arahkan, dan transformasikan menjadi kekuatan pembelajaran dan dasar pengembangan metode serta strategi pembelajaran yang relevan sesuai kebutuhan anak.
Barangkali terkesan mengawang-awang apabila tidak ada contoh konkret dalam tulisan pendek ini mengenai pembelajaran yang baiknya dilakukan. Sebagai contoh, ketika suatu waktu kita mendapati anak yang aktif bicara, alangkah bijaknya tidak serta-merta mematikannya dengan menyuruhnya diam dan patuh mendengarkan.
Tetapi pendidik dapat menuntun keaktifan sebagai manifestasi dari kodrat tersebut dengan mengarahkan pembelajaran kedalam diskusi, debat, presentasi, bermain peran, proyek, dan sebagainya.
