Oleh : Nurul Hakim, Alfaqir
IAINUonline – Kalau ada pertanyaan, “Ibadah apa yang paling utama?” mungkin jawaban kita akan bermacam-macam. Ada yang menjawab salat. Ada yang mengatakan puasa. Ada pula yang memilih sedekah, membaca Al-Qur’an, berbakti kepada orang tua, atau membantu orang lain.
Semua jawaban itu tentu memiliki alasan. Sebab dalam banyak hadis, Rasulullah SAW memang pernah menyebut beberapa amal sebagai amal yang paling utama. Menariknya, jawaban Nabi tidak selalu sama. Kepada seseorang, Nabi menyebut salat pada waktunya sebagai amal utama. Dalam kesempatan lain, beliau menyebut berbakti kepada kedua orang tua.
Pada hadis yang lain lagi, ada jihad, zikir, sedekah, dan berbagai amal kebajikan lainnya. Para ulama kemudian menjelaskan bahwa perbedaan jawaban tersebut tidak perlu dipertentangkan. Sebab sesuatu yang disebut afdhal atau paling utama bisa berkaitan dengan keadaan, kebutuhan, waktu, bahkan kondisi orang yang bertanya.
Sederhananya begini. Bagi orang yang pelit, boleh jadi sedekah merupakan ibadah yang sangat berat sekaligus sangat utama baginya. Bagi orang yang mudah marah, menahan amarah mungkin menjadi ibadah yang luar biasa. Bagi seseorang yang sibuk dengan pekerjaan sampai sering mengabaikan orang tuanya, berbakti kepada keduanya bisa jadi merupakan amal yang harus lebih didahulukan.
Sedangkan bagi orang yang sedang tertimpa masalah dan belum menemukan jalan keluar, ada satu ibadah yang mungkin sedang sangat dibutuhkannya, yaitu bersabar menunggu pertolongan Allah.
Ada sebuah hadis menarik yang diriwayatkan dari Abdullah. Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ أَنْ يُسْأَلَ وَأَفْضَلُ الْعِبَادَةِ انْتِظَارُ الْفَرَجِ
“Mintalah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah senang dimintai. Dan ibadah yang paling utama adalah menantikan datangnya kelapangan.” (HR. at-Tirmidzi).
Hadis ini indah sekali. Nabi terlebih dahulu mengajarkan kepada kita agar tidak sungkan meminta kepada Allah. Kalau punya keinginan, sampaikan kepada-Nya. Kalau sedang punya masalah, ceritakan kepada-Nya. Kalau punya cita-cita yang menurut ukuran kita terlalu tinggi sekalipun, tetaplah meminta kepada-Nya. Sebab Allah tidak pernah terganggu oleh banyaknya permintaan hamba-Nya.
Manusia mungkin bisa bosan kalau terus dimintai. Sekali meminta mungkin masih tersenyum. Dua kali masih dilayani. Kalau berkali-kali, belum tentu wajahnya tetap ramah. Bahkan mungkin nomor telepon kita diblokir. Tetapi tidak demikian dengan Allah. Justru Rasulullah mengajarkan bahwa Allah senang ketika seorang hamba meminta kepada-Nya.
Karena itu, tidak perlu malu mempunyai doa yang besar. Kita sering kali membatasi doa berdasarkan kemampuan diri sendiri.
“Ah, rasanya tidak mungkin.”
“Saya ini siapa?”
“Kemampuan saya cuma segini.”
Padahal, ketika berdoa, ukuran utamanya bukan seberapa besar kemampuan kita, tetapi kepada siapa kita meminta. Kalau hanya melihat kemampuan diri, memang banyak hal terasa mustahil. Tetapi kalau mengingat kekuasaan Allah, kita akan memahami bahwa tidak ada yang terlalu besar untuk dimintakan kepada-Nya.
Masalahnya, setelah meminta, biasanya ada satu pekerjaan yang jauh lebih berat, yaitu menunggu. Kita sudah berdoa. Sudah berusaha. Sudah salat malam. Sudah membaca wirid. Sudah meminta doa kepada orang tua.
Bahkan mungkin sudah berkali-kali berziarah ke makam para wali. Tetapi kok urusan belum selesai juga? Pekerjaan yang ditunggu belum datang. Usaha belum berkembang. Persoalan keluarga belum selesai. Cita-cita belum tercapai. Jalan keluar yang diharapkan belum juga kelihatan.
Nah, di sinilah kalimat terakhir dari sabda Nabi tadi terasa begitu menenangkan, yaitu wa afdhalul ibadah intidharul faraj. Menantikan datangnya kelapangan (terkabulnya doa) merupakan bagian dari ibadah yang utama. Artinya, masa menunggu itu ternyata bukan masa kosong.
Ketika kita masih terus berusaha, masih berdoa, masih menjaga keyakinan kepada Allah, dan tidak memilih jalan yang dilarang hanya karena ingin persoalan cepat selesai, penantian itu sendiri mempunyai nilai di hadapan Allah.
Memang, menunggu bukan perkara mudah. Bahkan sering kali jauh lebih mudah berdoa daripada menunggu terkabulnya doa. Berdoa mungkin hanya lima atau sepuluh menit. Tetapi menunggu jawabannya bisa lima bulan, lima tahun, bahkan lebih lama lagi. Di situlah kesabaran benar-benar diuji.
Ketika sesuatu yang kita harapkan belum datang, pikiran mulai ke mana-mana. “Apa doa saya tidak didengar?” “Mengapa orang lain begitu mudah mendapatkannya?” “Mengapa saya sudah berusaha keras, tetapi hasilnya masih begini-begini saja?” Pertanyaan semacam itu sangat manusiawi. Tetapi jangan sampai pertanyaan tersebut berubah menjadi keputusasaan, apalagi menjadi buruk sangka kepada Allah.
Sebab terkadang kita hanya melihat hidup dari satu titik waktu. Kita ingin sesuatu terjadi sekarang karena menurut kita sekarang adalah waktu terbaik. Padahal Allah mengetahui perjalanan hidup kita secara keseluruhan.
Sesuatu yang menurut kita baik hari ini belum tentu baik jika diberikan hari ini. Bisa jadi Allah menundanya bukan karena tidak mengabulkan, melainkan karena sedang menyiapkan waktu yang lebih tepat.
Seperti buah, tidak semuanya bisa dipetik ketika masih muda. Dipaksa matang malah rasanya tidak karuan. Begitu pula beberapa keinginan dalam kehidupan. Ada yang memang membutuhkan proses agar ketika sampai kepada kita, diri kita sudah cukup matang untuk menerimanya.
Kadang kita meminta keberhasilan, tetapi Allah terlebih dahulu mengajari kita kegagalan. Kita meminta kelapangan rezeki, tetapi Allah terlebih dahulu mendidik kita tentang kesederhanaan.
Kita meminta kedudukan, tetapi Allah terlebih dahulu melatih kita memikul tanggung jawab. Kita meminta kehidupan yang tenang, tetapi Allah terlebih dahulu mempertemukan kita dengan keadaan-keadaan yang membuat mental kita semakin kuat.
Jadi, jangan selalu menganggap keterlambatan sebagai penolakan. Bisa jadi Allah sedang menyiapkan sesuatu. Bisa jadi Allah sedang menyiapkan keadaan. Dan bisa jadi, yang sedang Allah siapkan bukan sesuatu yang kita minta, melainkan diri kita sendiri agar layak menerima sesuatu yang kita minta.
Karena itu, kalau hari ini kita sedang menunggu, tidak usah terlalu gelisah. Tetap lakukan apa yang bisa kita lakukan. Kalau sedang menunggu pekerjaan, teruslah mencari dan meningkatkan kemampuan. Kalau sedang membangun usaha, teruslah berikhtiar.
Kalau sedang menunggu keberhasilan anak, teruslah mendidik dan mendoakannya. Kalau sedang mempunyai masalah keluarga, teruslah mencari jalan terbaik. Dan kalau sedang menunggu sebuah doa menjadi kenyataan, jangan berhenti mengetuk pintu Allah.
Yang perlu diingat, menunggu pertolongan Allah bukan berarti duduk diam tanpa melakukan apa-apa. Intizhar al-faraj bukan kemalasan yang diberi nama tawakal. Penantian yang bernilai ibadah adalah penantian yang ditemani ikhtiar. Kaki tetap berjalan, tangan tetap bekerja, pikiran tetap mencari jalan, sementara hati tetap bergantung kepada Allah.
Justru kombinasi seperti inilah yang indah, yaitu bekerja seolah keberhasilan membutuhkan seluruh kemampuan kita, tetapi berdoa dengan kesadaran bahwa hasil akhirnya tetap berada dalam kekuasaan Allah.
Dalam kehidupan, kita mungkin pernah mengalami sesuatu yang dahulu sangat kita inginkan tetapi tidak dikabulkan. Waktu itu kita kecewa. Bahkan mungkin sempat bertanya-tanya mengapa Allah tidak memberikan apa yang kita minta. Tetapi beberapa tahun kemudian, setelah melihat perjalanan hidup secara lebih utuh, kita justru berkata, “Alhamdulillah, untung waktu itu tidak terjadi.”
Kita baru mengerti belakangan. Dulu sebuah pintu tertutup dan kita menangis di depannya. Ternyata karena pintu itulah kita berjalan mencari pintu lain. Dan ternyata, pintu yang lain tersebut membawa kita menuju tempat yang jauh lebih baik. Begitulah cara Allah mengatur kehidupan. Kita sering hanya membaca satu halaman, sementara Allah mengetahui keseluruhan ceritanya.
Maka, bagi siapa saja yang hari-hari ini sedang menunggu pertolongan Allah, tetaplah bertahan. Jangan buru-buru menyerah hanya karena keadaan belum berubah. Jangan berhenti berdoa hanya karena jawaban belum terlihat. Jangan pula mengambil jalan yang salah hanya karena jalan yang benar terasa terlalu lama.
Kalau lelah, istirahat sebentar. Tetapi jangan berhenti berharap. Kalau sedih, menangislah. Tetapi jangan sampai air mata membuat kita kehilangan prasangka baik kepada Allah. Kalau sudah berkali-kali gagal, cobalah lagi. Siapa tahu kegagalan yang kemarin memang sedang mengarahkan langkah kita menuju jalan yang lain.
Kita tidak pernah tahu kapan pertolongan Allah datang. Bisa jadi masih lama. Bisa jadi sebentar lagi. Bahkan bisa jadi ketika kita merasa semua pintu sudah tertutup, saat itulah Allah sedang membukakan satu pintu yang sama sekali tidak pernah kita perhitungkan.
Bukankah Allah sendiri mengingatkan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan? Karena itu, jangan remehkan sebuah penantian. Di dalamnya ada latihan kesabaran, ada ujian keyakinan, ada pelajaran tentang tawakal, dan ada kesempatan untuk semakin mengenal keterbatasan diri di hadapan Allah.
Barangkali itulah mengapa menantikan al-faraj (kelapangan/pertolongan) mempunyai kedudukan begitu indah. Sebab orang yang mampu menunggu pertolongan Allah pada hakikatnya sedang berkata melalui sikap hidupnya:
“Ya Allah, aku belum tahu bagaimana persoalan ini akan selesai. Aku juga tidak tahu kapan jalan keluar itu akan datang. Tetapi aku percaya, Engkau tidak pernah kehilangan cara untuk menolong hamba-Mu.”
Jadi, untuk kita yang hari ini masih menunggu sesuatu, mari terus mengetuk pintu-Nya. Ketuk dengan doa. Ketuk dengan usaha. Ketuk dengan sabar. Ketuk dengan tawakal. Dan yang terpenting, jangan pergi dari pintu itu hanya karena belum segera dibukakan. Siapa tahu, pertolongan Allah sebenarnya sudah sangat dekat. Wallahu A’lam.
