Oleh : Nurhaningtyas Agustin, M.Pd

IAINUonline – Kabut pagi masih menggantung tipis di atas persawahan desa, ketika bel SD Negeri Harapan Bangsa berbunyi tiga kali. Suaranya terdengar pelan, seolah kehilangan tenaga untuk memanggil anak-anak datang belajar.

Tidak banyak yang menjawab panggilan itu. Hanya beberapa siswa berjalan kaki melewati jalan kecil berbatu sambil menenteng tas yang tampak lebih besar daripada tubuh mereka sendiri.

Halaman sekolah terlihat lengang. Di depan kelas satu, hanya ada tujuh pasang sandal kecil berjajar rapi. Pak Amir berdiri di depan ruang guru sambil memandang jalan desa di sebelah timur sekolah.

Dari arah sana, suara riuh anak-anak justru terdengar sangat hidup. Puluhan siswa berseragam putih hijau berjalan menuju MI Al-Hikmah yang letaknya tidak jauh dari sekolah itu. Pemandangan itu selalu terasa seperti ironi bagi Pak Amir.

Dua puluh tahun lalu, SD Negeri Harapan Bangsa adalah sekolah paling ramai di desa itu. Setiap penerimaan siswa baru, ruang kelas selalu penuh. Kini keadaan berubah. Satu per satu wali murid memindahkan anak mereka ke MI. Alasannya hampir sama: mereka ingin anak tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak dan pendidikan agama yang kuat.

“Sekarang orang tua mencari sekolah yang bisa membuat anak pintar sekaligus punya akhlak, Pak,” kata seorang wali murid kepada Pak Amir.

Kalimat itu terus terngiang di pikirannya. Sore harinya, Pak Amir duduk di perpustakaan kecil sekolah sambil membuka kembali novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.

Ia teringat kisah sekolah kecil yang hampir ditutup karena kekurangan murid. Bedanya, sekolah dalam Laskar Pelangi hampir runtuh karena kemiskinan, sedangkan SD Harapan Bangsa perlahan kehilangan kepercayaan masyarakat.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan telah berubah. Orang tua kini tidak hanya mencari sekolah yang mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga tempat yang mampu membentuk karakter, kedisiplinan, dan nilai agama bagi anak-anak mereka.

Dalam banyak hal, MI dianggap mampu menjawab kebutuhan tersebut. Selain memberikan pelajaran umum, MI juga membiasakan siswa membaca doa sebelum belajar, salat berjamaah, menghafal surat pendek, dan membangun budaya sopan santun. Hal-hal sederhana itu membuat banyak orang tua merasa lebih tenang.

Jika dikaitkan dengan teori pendidikan karakter dari Thomas Lickona, pembentukan karakter tidak cukup diajarkan melalui teori, tetapi harus melalui pembiasaan dan keteladanan. Sementara menurut teori belajar sosial Albert Bandura, anak belajar melalui lingkungan dan contoh perilaku di sekitarnya. Karena itu, budaya religius dan kedisiplinan di MI menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.

Selain itu, teori modal budaya dari Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa masyarakat akan memilih lembaga pendidikan yang dianggap mampu memberikan nilai sosial sesuai harapan mereka. Dalam konteks masyarakat desa, pendidikan agama dan akhlak menjadi modal penting bagi masa depan anak.

Namun kondisi ini tidak berarti SD negeri tidak memiliki kualitas. Banyak sekolah negeri tetap unggul dalam akademik dan prestasi. Hanya saja, sebagian sekolah mulai tertinggal dalam membangun hubungan emosional dengan masyarakat dan kurang mampu membaca perubahan kebutuhan zaman.

Pak Amir akhirnya menyadari bahwa sekolah tidak bisa hidup hanya karena status negeri. Sekolah harus memiliki semangat untuk berubah. Esok paginya, ia mengajak guru-guru membuat program literasi pagi, pembelajaran yang lebih menyenangkan, dan kegiatan karakter bagi siswa. Ia tahu perubahan itu tidak akan langsung membuat sekolah kembali ramai, tetapi setidaknya ia tidak ingin sekolah itu mati perlahan tanpa perjuangan.

Pada akhirnya, fenomena sepinya sebagian SD negeri dan meningkatnya minat masyarakat terhadap MI menjadi refleksi penting bagi dunia pendidikan. Sekolah yang mampu menghadirkan kualitas pembelajaran, pendidikan karakter, keteladanan guru, dan kedekatan dengan masyarakat akan tetap dipercaya.

Karena sesungguhnya, masyarakat tidak hanya mencari sekolah terbaik secara akademik, tetapi tempat terbaik untuk membentuk masa depan dan akhlak anak-anak mereka.

 

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *