Oleh: Nurul Hakim, Alfaqir
IAINUonline – Jika kita ditanya tentang apa yang paling mengagumkan dari Nabi Muhammad SAW, mungkin akan muncul banyak jawaban. Ada yang menyebut kecerdasan beliau, keberanian dalam menghadapi berbagai tantangan, kemampuan memimpin umat, atau keteguhan dalam menyampaikan risalah Islam. Semua jawaban itu tentu benar.
Namun, ada satu sisi yang rasanya menjadi ruh dari seluruh perjalanan hidup beliau, yakni keagungan kepribadian. Nabi Muhammad SAW bukan hanya mengajarkan kebaikan melalui kata-kata, tetapi menghadirkan kebaikan itu dalam perilaku sehari-hari.
Keagungan pribadi Nabi Muhammad SAW bahkan mendapatkan pengakuan langsung dari Allah. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung (QS. al-Qalam [68]: 4).
Ayat ini menarik untuk direnungkan. Allah tidak sekadar menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai orang yang berakhlak baik, tetapi menggunakan ungkapan khuluqin ‘azhim, akhlak yang agung. Artinya, keindahan perilaku Nabi bukan sesuatu yang biasa.
Akhlak telah menjadi bagian yang menyatu dalam seluruh kepribadian beliau. Cara berbicara, memperlakukan keluarga, bergaul dengan sahabat, menghadapi orang miskin, memperlakukan pekerja, bahkan menyikapi orang yang berbeda keyakinan dan mereka yang memusuhinya, semuanya memperlihatkan keluhuran budi pekerti.
Karena itu, risalah yang dibawa Nabi Muhammad SAW juga tidak dapat dilepaskan dari kasih sayang. Allah mengatakan:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. (QS. al-Anbiya’ [21]: 107).
Kata rahmatan lil ‘alamin memberi pesan yang sangat luas. Nabi tidak diutus hanya untuk menyampaikan seperangkat aturan keagamaan. Kehadiran beliau membawa kasih sayang bagi kehidupan.
Kasih sayang itu tidak berhenti pada orang yang sepaham, tidak dibatasi oleh hubungan keluarga, suku, kedudukan sosial, bahkan agama. Rahmat yang dibawa Nabi menembus batas-batas yang sering kali dibuat manusia sendiri.
Para penulis sejarah kehidupan Nabi memberikan banyak gambaran mengenai hal tersebut. Salah satu kebiasaan beliau adalah menjenguk orang yang sedang sakit. Bagi Nabi, orang sakit tidak cukup hanya didoakan dari kejauhan. Kehadirannya perlu ditemani.
Kesedihannya perlu dirasakan. Bahkan jarak bukan menjadi alasan untuk mengabaikan orang yang sedang membutuhkan perhatian. Jika mengetahui seseorang sakit, Nabi berusaha menjenguknya.
Sikap seperti ini terlihat pula dalam hubungan Nabi dengan orang yang berbeda agama. Dalam riwayat yang sangat terkenal dikisahkan seorang pemuda Yahudi yang pernah melayani Nabi jatuh sakit.
Nabi datang menjenguknya. Kisah ini memperlihatkan sesuatu yang sangat penting, yaitu kemanusiaan tidak hilang hanya karena perbedaan keyakinan. Seseorang yang sakit tetaplah manusia yang layak dikunjungi, diperhatikan, dan diperlakukan dengan kasih sayang.
Begitu pula ketika seseorang meninggal dunia. Nabi mengajarkan umatnya untuk hadir menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan dan mengiringi jenazah.
Kematian bagi Nabi bukan sekadar peristiwa biologis berakhirnya kehidupan seseorang. Di sana terdapat keluarga yang kehilangan, hati yang berduka, dan manusia yang membutuhkan penguatan dari manusia lainnya.
Bahkan terdapat peristiwa yang sangat menarik ketika sebuah jenazah melintas di hadapan Nabi. Beliau berdiri sebagai bentuk penghormatan. Para sahabat kemudian memberi tahu bahwa yang lewat adalah jenazah seorang Yahudi. Nabi menjawab dengan sebuah kalimat yang sangat dalam maknanya, “Bukankah ia juga manusia?”.
Kalimatnya pendek, tetapi pesan kemanusiaannya sangat panjang. Nabi seperti hendak mengajarkan bahwa di balik identitas agama, suku, kelompok, status sosial, dan berbagai atribut lainnya, terdapat satu kenyataan yang tidak boleh dilupakan, yaitu ia adalah manusia. Dan karena ia manusia, ada kehormatan yang melekat pada dirinya.
Barangkali pelajaran seperti inilah yang semakin penting untuk kita hidupkan sekarang. Kita terkadang begitu mudah menghormati orang yang satu kelompok dengan kita, tetapi sulit memberikan penghormatan serupa kepada orang yang berbeda.
Kita mudah menunjukkan kasih sayang kepada mereka yang menyukai kita, tetapi berat melakukannya kepada mereka yang tidak sejalan dengan kita. Padahal, keagungan akhlak justru diuji ketika kita berhadapan dengan perbedaan.
Kepribadian Nabi semakin mengagumkan ketika beliau menghadapi orang-orang yang menyakiti dan menghinanya. Nabi mengalami penolakan, ejekan, tuduhan, tekanan, bahkan kekerasan. Namun, semua itu tidak serta-merta mengubah beliau menjadi pribadi yang dipenuhi kebencian.
Kekerasan yang diterimanya tidak selalu dibalas dengan kekerasan. Penghinaan tidak otomatis dijawab dengan penghinaan.
Semangat itu tercermin dalam sabda Nabi:
إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا، وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً
Sesungguhnya aku diutus bukan untuk menjadi pelaknat, tetapi aku diutus sebagai rahmat (H.R. Muslim).
Di sinilah kita menemukan salah satu puncak kepribadian Nabi Muhammad SAW. Beliau mempunyai kekuatan, tetapi tidak menjadikan kekuatan sebagai alasan untuk berlaku kasar. Beliau memiliki kedudukan, tetapi kedudukan tidak membuatnya kehilangan kelembutan. Bahkan ketika memiliki kesempatan membalas orang yang menyakitinya, beliau tetap mempertimbangkan pintu kasih sayang dan ampunan.
Membaca pribadi Nabi dengan cara seperti ini seharusnya membawa kita pada satu pertanyaan: “Sejauh mana akhlak Nabi telah hadir dalam kepribadian kita?” Sebab mencintai Nabi tentu tidak cukup hanya dengan memperbanyak cerita tentang keagungan beliau. Cinta kepada Nabi semestinya perlahan mengubah cara kita berbicara, bersikap, memperlakukan orang lain, dan menghadapi perbedaan.
Kita mungkin rajin bershalawat kepada Nabi, tetapi pada saat yang sama masih mudah menyakiti orang lain dengan perkataan. Kita mungkin bersemangat membela nama Nabi, tetapi terkadang sulit meneladani kelembutan beliau. Kita mungkin marah ketika Nabi dihina, tetapi tanpa sadar justru menggunakan penghinaan untuk menghadapi orang yang berbeda dengan kita. Di sinilah kecintaan kepada Nabi perlu terus-menerus kita renungkan.
Meneladani Nabi berarti belajar menjadi manusia yang kehadirannya membuat orang lain merasa aman. Ketika ada yang sakit, kita peduli. Ketika ada yang berduka, kita hadir. Ketika bertemu orang yang berbeda keyakinan, kita tetap menghormati kemanusiaannya. Ketika dihina, kita tidak tergesa-gesa membalas dengan penghinaan yang lebih kasar. Dan ketika memiliki kekuasaan, kita tidak menggunakannya untuk merendahkan orang lain.
Pada akhirnya, keagungan Nabi Muhammad SAW tidak hanya tampak ketika beliau berdiri di mimbar menyampaikan wahyu, tetapi juga ketika beliau berdiri menghormati jenazah seseorang yang berbeda keyakinan. Keindahan pribadi Nabi tidak hanya terlihat ketika beliau memimpin ribuan sahabat, tetapi juga ketika meluangkan waktu menjenguk seseorang yang sedang sakit. Kemuliaan beliau tidak hanya tampak dalam kemenangan, tetapi justru ketika memiliki kesempatan membalas lalu memilih kasih sayang.
Mungkin karena itulah Allah tidak sekadar memuji ilmu, keberanian, atau kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Allah memilih memberikan kesaksian tentang sesuatu yang menjadi inti dari semuanya: “Sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung.”
Dan jika kita mengaku sebagai umatnya, barangkali cara terbaik untuk menunjukkan kecintaan kepada Nabi adalah menghadirkan kembali kepribadian agung itu dalam kehidupan kita. Sebab dunia hari ini tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara tentang Nabi. Dunia juga membutuhkan orang-orang yang perilakunya mengingatkan manusia kepada indahnya akhlak Nabi. Wallahu A’lam.
