AJAK MAJU BARENG : Rektor IAINU Tuban Mengajak Seluruh Lembaga Pendidikan NU di Bumi Manunggal Maju Bareng


IAINUonline‘’Abah kala itu berharap pendidikan NU di Tuban semakin maju dan menjadi kebanggaan, termasuk lembaga yang ada di Bumi Manunggal ini. Karena (Abah) ikut babat alas,’’ ujar Gus Ubaidillah Faqih saat memberi tausiyah singkat sebelum menutup pertemuan dengan untaian doa.

Tentu, yang disebut Abah itu adalah itu adalah KH. Abdullah Faqih, sebab Gus Ubaid, begitu salah satu pengasuh pondok pesantren Langitan Tuban itu biasa disapa, adalah putra Mbah Faqih, sapaan akrab KH Abdullah Faqih.

Gus Baid lalu bercerita betapa berat perjuangan awal untuk membuka Bumi Manunggal. Ikhtiar lahir batin dilakukan sejumlah tokoh NU di Tuban kala itu. Dan Mbah Faqih ada di antaranya.

‘’Sering dilakukan wiridan karena tanahnya angker. Alhamdulillah sekarang sudah padang. Karena itu, yang mengelola kampus dan lembaga pendidikan lainnya di sini harus serius. Sing ikhlas mengabdi dan semoga menjadi makin besar dan menjadi kebanggaan seperti harapan sesepuh dulu,’’ tambah Gus Ubaid.

Pesan yang sangat berharga itu disampaikan Gus Ubaid saat hadir dalam halal bihalal keluarga besar kompleks pendidikan Bumi Manunggal Tuban yang digelar Senin (16/5/2022).

Acara yang dilaksanakan di aula KH.Hasyim Asy’ari kampus Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) itu dihadiri oleh seluruh pengampu lembaga pendidikan NU di Bumi Manunggal. Ya, di lahan seluas enam hektare itu, selain IAINU ada lembaga pendidikan lain yang juga sama-sama berjuang di bawah bendera NU.

Ada SMK Yayasan Pendidikan Ma’arif (YPM), ada MTs Ma’arif, ada MINU Hijah dan RA Muslimat. Berkumpulnya seluruh penyelenggara pendidikan di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) di Bumi Manunggal ini memang baru kali pertama.

Diharapkan pertemuan ini menjadi tonggak kemajuan lembaga pendidikan di Bumi Manunggal tersebut. Sehingga menjadikan pendidikan NU di Bumi Manunggal tersebut semakin mengangkasa.

Acara serupa akan terus dilanggengkan pada tahun-tahun ke depan. Sehingga komitmen, visi dan misi lembaga pendidikan NU di Bumi Manunggal itu bisa selaras, dan maju bersama-sama. Saling mendukung, saling asah dan saling asuh.

Akhmad Zaini, S.Ag, M.Si, Rektor IAINU yang menjadi tuan rumah menyampaikan, bahwa mengelola pendidikan NU tidak sekadar melaksanakan dan menyelenggarakan proses belajar mengajar dan menghasilkan alumni.

‘’Tapi lembaga pendidikan NU punya tugas besar untuk menjaga faham dan akidah ahlussunnah waljamaah annahdhiyah. Karena itu, nilai-nilai  ke NU an harus digarap serius,’’ ujarnya.

Siswa atau lulusan lembaga pendidikan NU, lanjutnya, jangan hanya pinter dan bisa menjadi guru agama, pinter dakwah bagi yang mahasiswa. Atau ketrampilannya mumpuni bagi yang di SMK. Tapi gerak atau tindakan sehari-hari akhlaknya harus baik, disertai akidah muslim yang baik dan beraswaja.

Misalnya di MINU jangan sampai lulusannya tidak familiar dan tidak siap masuk pesantren. Lulusan MINU harus siap masuk pesantren karena punya bekal ilmu yang cukup. Sehingga di MINU ada pelajaran kitab kuning, nahwu, sharaf dasar.

BAROKAH DOA : KH Ubadillah Faqih Mendoakan Pendidikan NU di Bumi Manunggal Semakin Maju

‘’Karena jika tidak banyak siswa yang masuk pesantren, maka akan mematikan pesantren. Kita harus melestarikan pesantren, karena kita beruntung masih punya pesantren. Dan pesantren adalah basis-basis NU,’’ tambah Zaini.

Maka dari itu, lanjut alumnus IAIN Wali Songo Semarang itu, para pengelola pendidikan di bawah NU harus sadar hal ini, sehingga misi pendidikan NU yang salah satunya untuk menjaga aswaja itu tetap terjaga.

‘’Memahami islam harus melalui pintunya, yakni ulama, dan NU harus menjadi pintu utama dengan  aswajanya itu untuk memahamkan umat tentang  islam,’’ katanya.

Karena itu, kesamaan visi dan misi harus selaras. Hal itu bisa dilaksanakan jika antarlembaga saling sinergi, berkomunikasi dan saling mendukung. Para pengelola lembaga pendidikan harus memahami bahwa memegang pendidikan NU punya tanggungjawab dan tugas untuk bersama-sama membesarkan NU.

Sejumlah tokoh NU Tuban juga hadir di acara itu. Di antaranya adalah yang tergabung dalam Badan Pengelola Penyelenggara (BPP) NU yang menjalankan IAINU Tuban. Pesan dari BPP disampaikan KH Syariful Wafa yang juga salah satu Rais Syuriah PCNU Tuban.

Gus Wafa sapaan akrabnya memberi pesan bahwa di jaman modern manusia harus lebih berhati-hati dalam bertindak. Kesalahan manusia paling banyak dan paling mudah dan tidak bisa ditarik lagi adalah lisan. Sebab lisan itu luar biasa gampang mengucap kata-kata yang sering tidak disadari menyakiti orang lain.

‘’Kalau jaman sekarang bisa dengan status atau unggahan di media sosial,’’ kata Gus Wafa.

Kalam yang terbaik, urai Gus Wafa adalah kalamullah, yang tanpa huruf, tanpa suara, tanpa urutan, tanpa lafal dan sebagainya. Sedang kalamnya manusia sering menyakiti.

‘’Disebutkan saat Nabi Musa setelah mendengar kalamullah di bukit Tursina, sampai beberapa lama Nabi Musa tidak mampu, tidak kuat mendengar kalam manusia. Karena betapa kalam manusia terdengar buruk, meski bukan kata-kata yang menyakiti,’’ ungkapnya.

Sedang di jaman medsos seperti sekarang ini, menurut Gus Wafa, banyak orang membuat konten menggunakan ayat Alquran, hadist, kaul ulama dan sebagainya.

‘’Tapi itu digunakan untuk mengkafir-kafirkan orang lain. Ini banyak terjadi saat ini,’’ tandasnya.

Halal yang diikuti oleh seluruh civitas akademika IAINU, seluruh guru dan pengurus yayasan di lembaga pendidikan Ma’arif Bumi Manunggal tersebut ditutup dengan pembagian doorprize.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.