IAINUonline – Menanamkan nilai-nilai universal harus dimulai sejak dini. Termasuk bagaimana membangun dan mengembangkan budaya antibullying di lingkungan dan sekolah harus terus dilakukan.

Hal itulah sedang dilakukan Griya Moderasi Beragama dan Bela Negara serta Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan Pembulian dan Penanganan Kekerasan Seksual (P3KS) Institut Agama Islam Nahdlatl Ulama (IAINU) Tuban.

Dua lembaga tersebut turun bareng mengadakan worksop di MA Sumbersari Kowang Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Kamis (23/4/2026).  Tim didampingi langsung oleh Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Kemahasiswaan Jamal Ghofir, Ketua Griya Moderasi dan Bela Negara Arvani Zakki al Kamil dan Ketua Satgas P3KS Dr. Sholihah.

Dalam sambutannya Kepala MA Sumbersari Kowang Erma Qori Syafitri, S.Pt menyambut baik kehadiran tim dari Griya Moderasi Beragama dan Satgas P3KS IAINU Tuban itu di madrasah yang dia pimpin.

Ia menyampaikan pentingnya sosialisasi dan wawasan bagi para siswa khususnya berkaitan dengan moderasi beragama, nasionalisme dan pemahaman bullying dan kekerasan seksual. Terlebih, kekerasan antarsiswa di sekolah dan bullying, masih sering terjadi. Peristiwa terakhr terjadi di sebuah SMP swasta berbasis agama di Kecamatan Jenu.

Sementara, Wakil  Rektor IAINU Jamal Ghofir dalam sambutannya menekankan betapa pentingnya pemahaman kemajemukan yang hadir di sekeliling kita. Guna menjaga kerukunan dan keharmonisan antara sesama.

Begitu juga tentang penguatan nasionalisme kebangsaan yang tetap harus mengajar pada generasi muda. Begitu juga terkait bullying dan kekerasan seksual harus di antisipasi. Dengan memahami dampak atau akibat, para siswa diharapkan tidak melakukannya.

Pemateri yang mengisi workshop tersebut adalah Tim Griya Moderasi Beragama dan bela Negara serta dari Satgas P3KS. Di antaranya Dr. Sholihah dari Satgas P3KS yang menjelaskan tentang Bullying dan Kekerasan Seksual. Kemudian materi Moderasi Beragama  disampaikan Moch Irfa’I S.pd.M.Pd.I. dan Materi Bela Negara disampaikan Auliyaurohim, M.A.

Moch Irfa’I yang menyampaikan makalah ‘Bijak Beragama Tanpa Drama; Remaja Keren di Era Digital’ di antaranya mengajak para remaja untuk beragama secara moderat, artinya tidak ektrem ke kanan atau ke kiri, namun beragama dengan seimbang, adil dan menghargai. Di era digital Ia menyebut banyak konten berseliweran, dan sering juga konten yang berisi tentang perdebatan agama.

Maka para remaja yang menjadi generasi penerus harus bisa bijak dalam bermedia sosial. Jika menerima konten, tidak langsung dishare atau diteruskan dan dibagi ke orang lain, namun harus disaring dulu, benar atau tidak isi kontennya.

‘’Bijak itu wajib. Tidak mudah menghakimi, mau mendengar pendapat orang lain, tidak gampang terprovokasi, menghargai perbedaan dan aktif menyebarkan konten positif. Itulah remaja keren,’’ katanya.

Irfa’i menambahkan, sikap moderat atau mempraktikkan moderasi bisa dilakukan di mana saja. Di sekolah sikap itu bisa dilakukan dengan tidak mengejek praktik ibadah teman atau mau kerja sama lintasperbedaan atau keyakinan.

Kemudian, ketika bermedia sosial sikap yang bisa dikembangkan di antaranya adalah memilah dan memastikan isi konten yang dibaca benar atau tidak, menyaring dulu isi konten sebelum sharing serta tidak menyebar ujaran kebencian.

‘’Sedang di lingkungan bisa dengan terus menjaga sikap toleran dan ikut kegiatan sosial, bersosialisasi tanpa melihat perbedaan,’’ ucapnya.

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *