Prof . Dr. M Syamsul Huda.Fil.I
IAINUonline – Why ?
Minggu ini sekolah di seluruh Tanah air, gagap gempita menyelengarakan MPLS untuk siswa baru, sungguh menyenangkan sekaligus mengharukan, bagaimana bangsa Indonesia sedang menyiapkan generasi Emas di tahun 2045.
Bukan terlalu bermimpi jika pemimpin kita menyiapkan arsitek anak Indonesia naik level dari sekolah yang menyiapkan Leads of self menuju Leads of Future, meminjam istilah Arif Satria BRIN .
Maka chellenge yang awal dihadapi ialah arus globalisasi telah mendorong dunia pendidikan Indonesia ke persimpangan jalan yang menentukan. Di satu sisi, tuntutan kompetensi global—penguasaan sains, teknologi, dan bahasa asing—semakin mendesak. Di sisi lain, kekhawatiran akan tergerusnya identitas budaya dan kearifan lokal menjadi isu yang tak kalah krusial.
Lalu, bagaimana bentuk sekolah masa depan yang ideal? Jawabannya bukanlah pilihan antara global atau lokal, melainkan sebuah sintesis: sekolah yang berwawasan global namun tetap berakar pada nilai-nilai lokal. Banyak negara di Asia yang mengunakan model ini dan kokoh hingga saat ini.
Jepang misalkan mengunakan nilai dan tradisi lokal tentang makna kedisiplinan dan pantang bermalas malasan di lingkungan sekolah dan masyarakat, Di Negara Tirai bambu China menanamkan kerja keras dan ketangguhan Chi Ku (secara harfiah berarti “memakan kepahitan”), Kultur Piket dan Kerja Fisik (Lao Dong): Semua siswa diwajibkan membersihkan fasilitas sekolah.
Di Tiongkok, piket tidak sekadar menyapu, melainkan membersihkan jendela hingga toilet bersama-sama tanpa pengecualian untuk menanamkan rasa memiliki dan menghargai kerja kasar serta penghormatan pada Otoritas Guru: Guru dipandang sebagai figur otoritas mutlak yang harus sangat dihormati (Zun Shi Zhong Dao). Kepatuhan di dalam kelas adalah norma sosial utama.
Demikian juga di negeri ginseng ( Korea Selatan, sekolah menenamkan nilai Etos Kerja Tanpa Batas (Gwan-gwa dan Ketangguhan) antara lain Kultur “4 Lulus, 5 Gagal” (Sa-dang-o-rak): Ada pepatah terkenal di kalangan siswa SMA Korea: jika kamu tidur 4 jam sehari kamu akan lulus ujian masuk universitas, jika kamu tidur 5 jam kamu akan gagal.
Tidur minimal adalah bentuk dedikasi. Belajar Mandiri Malam Hari (Yagan Jajub Haksub): Siswa SMA diwajibkan atau sangat didorong untuk tetap berada di sekolah hingga pukul 10 atau 11 malam untuk belajar mandiri di bawah pengawasan guru.
Modal Global sebagai Kebutuhan
Pemerintah dan masyarakat baik negeri maupun swasta melalui Program Sekolah unggulan, sekolah international termasuk Sekilah Garuda menunjukkan keseriusan dalam menyiapkan generasi emas yang mampu bersaing di kancah internasional. Program ini dirancang untuk menjadi “inkubator’’ pemimpin, terutama di bidang sains dan teknologi, dengan target membina 80 sekolah transformasi dan membangun 20 sekolah baru hingga 2029 .
Sekolah-sekolah ini dipersiapkan untuk melahirkan “garuda-garuda muda, yang lawannya bukan lagi sesama anak bangsa, tetapi negara lain
Modal global dalam pendidikan mencakup penguasaan kompetensi 4C (Critical Thinking, Creativity, Collaboration, Communication), literasi digital, serta kemampuan berbahasa asing. Multimedia Nusantara School (MNS) mengimplementasikan hal ini dengan menggabungkan Kurikulum deep learning, kurikulum Merdeka dengan kurikulum internasional Pearson Edexcel, Cambride serta membekali siswa dengan fasilitas modern seperti ICT Lab dan Digital Experience Lab.
Sekolah ini juga menerapkan program Talent Mapping untuk membantu siswa membangun portofolio sejak dini, mempersiapkan mereka menembus universitas unggulan di dalam dan luar negeri . Beberapa Kementerian mempunyai sekolah unggulan masing-masing dengan menawarkan berbagao pola.
Kementerian Agama setingkat MA mempunyai MAN IC (insan Cedekia) yang dikelola model Bourding School fokus pada Materi integrasi agama dengan Sain (STEM) diseluruh Provinsi di Tanah air. MAN IC mencoba menerapkan pola Islamic Paradigm, Dimana seolah menerapkan prinsip Ilm Tarbiyyah (to Grow), taklim (to Know), Takdib (practice and implementation ) dan kementerian sosial membuka Sekolah Rakyat berbentuk program Pendidikan berasrama gratis yang diperuntukkan untuk keluarga prasejahtera dan berkebutuhan sosial ekonomi terbatas.
Namun, penguasaan teknologi dan standar global tidak boleh menghapus identitas budaya bangsa. Di sinilah pentingnya nilai-nilai lokal sebagai “ruh” pendidikan, serta menegaskan bahwa “nilai lokal adalah ruh sekolah kami. Siswa tetap dibekali nilai religius, nilai syariah, dan kearifan lokal . Itu harga mati” .
Pengamat Pendidikan, Herman RN, bahkan mengingatkan agar Sekolah Garuda tidak sekadar meniru pola nasional, melainkan harus memiliki “nilai tambah dari kearifan lokalnya” .
Nilai lokal bukan sekadar konten tambahan, tetapi dapat menjadi keunggulan kompetitif. Konsep Local Genius 6.0 hadir sebagai strategi integratif yang memadukan teknologi mutakhir dengan nilai-nilai budaya lokal dalam kerangka kurikulum inovatif abad ke-21 . Pendekatan ini menggunakan teknologi digital sebagai media untuk merekonstruksi dan menyebarluaskan nilai-nilai budaya lokal dalam kemasan modern .
Di beberapa sekolah uggulan misalnya, mengembangkan media pembelajaran berupa pop-up book yang mengangkat tema kearifan lokal sekaligus dirancang sebagai produk edukatif yang memiliki potensi ekonomi dan dapat dipasarkan secara luas .
Sintesis G-lokal: Model Sekolah Masa Depan
Sekolah masa depan ideal adalah model pendidikan glokal perpaduan antara nilai global dan lokal. Model ini me ngintegrasikan keunggulan lokal ke dalam mata pelajaran dengan standar pencapaian yang merujuk pada parameter internasional.
Siswa di daerah pesisir dapat diajarkan ekologi kelautan dengan standar global, sementara siswa di pusat budaya dapat mengembangkan industri kreatif berbasis kerajinan tangan
Keseimbangan ini akan melahirkan generasi yang mampu “membawa produk, seni, atau pemikiran lokal ke pasar internasional dengan kemasan yang profesional dan modern” . Dengan demikian, Indonesia tidak hanya dikenal sebagai pasar, tetapi juga sebagai produsen ide dan karya berkualitas dunia .
Sebagaimana ditegaskan dalam sebuah kajian akademis, pendidikan masa depan harus menjadi “medium untuk menginternalisasi nilai, karakter, dan keterampilan yang bermakna baik secara lokal maupun global” .
Implementasi model sekolah masa depan ini tentu menghadapi tantangan. Dominasi paradigma akademik Barat dalam pendidikan internasional sering menyebabkan kurang terwakilinya perspektif non-Barat, termasuk Indonesia.
Sekolah-sekolah berstandar global juga berpotensi menjadi elitis dan tidak terjangkau oleh masyarakat luas. Untuk itu, diperlukan tiga langkah strategis. Pertama , pengembangan modul pembelajaran standar yang fleksibel untuk diadaptasi oleh masing-masing sekolah sesuai keunikan wilayahnya.
Kedua, pelatihan guru secara berkelanjutan agar mereka memiliki wawasan global sekaligus pemahaman mendalam mengenai potensi daerah . Ketiga , sinergi dengan dunia industri lokal untuk memberikan gambaran nyata bagi siswa mengenai peluang karier di sekitar mereka, sehingga pembangunan daerah menjadi lebih merata .
Sekolah masa depan bukanlah sekadar gedung megah dengan fasilitas canggih atau kurikulum internasional. Sekolah masa depan adalah ruang di mana anak-anak bangsa belajar terbang tinggi menembus awan global, namun tetap mengenali dan mencintai tanah tempat mereka berpijak.
Dengan sintesis antara modal global dan nilai-nilai lokal, pendidikan Indonesia dapat mencetak generasi yang tidak hanya cerdas dan kompetitif, tetapi juga berkarakter dan beridentitas kuat. Sebab, pada akhirnya, menjadi warga dunia tidak harus berarti kehilangan jati diri sebagai anak bangsa.
Nilai Agama, Karakter Pancasila & Kebinekaan menjadi dan teknologi Triple Helic menjadi sebuah kenisyaaan integrasi nilai dalam Pendidikan di Indonesia.
