Oleh : Irfa’i Alfian Mubaidilla

IAINUonline – Ada satu kalimat yang belakangan sering terdengar di kalangan Gen Z: “When ya?”

Sebuah pertanyaan sederhana, tetapi sebenarnya menyimpan banyak hal.
Kapan ya?
Kapan aku sampai di sana?
Kapan aku bisa seperti dia?
Kapan waktunya tiba?

Ketika masih menjadi siswa, mungkin kita juga pernah bertanya dengan cara yang berbeda. Kita melihat seorang guru berdiri di depan kelas, menjelaskan pelajaran dengan penuh percaya diri, menulis di papan tulis, bercanda dengan siswa, bahkan sesekali menegur ketika kelas mulai gaduh.

Bagi seorang anak, guru bukan sekadar orang yang mengajar. Guru adalah sosok yang terlihat tahu banyak hal. Ia seperti tokoh yang dikagumi, bahkan diam-diam ingin ditiru.

Saat itu, kita mungkin pernah berpikir, “Kalau sudah besar, aku ingin seperti Pak Guru.” Mungkin tidak pernah mengucapkannya sama sekali. Namun, waktu berjalan tanpa pernah benar-benar meminta izin.

Hari ini, anak yang dulu duduk di bangku paling belakang, yang pernah menunggu bel pulang, yang pernah takut ketika namanya dipanggil guru, justru berdiri di tempat yang sama, di depan kelas.

Dulu kita melihat guru dari bangku siswa. Sekarang kita melihat siswa dari balik meja guru. Pada titik itulah hidup terasa seperti sedang bercermin. Kita mulai memahami bahwa menjadi guru ternyata tidak sesederhana yang terlihat.

Dulu kita hanya melihat guru datang ke kelas dan mengajar. Sekarang kita tahu, sebelum masuk kelas ada perangkat pembelajaran yang harus disiapkan, bahan ajar yang harus dibuat, tugas yang harus diperiksa, administrasi yang harus diselesaikan, dan berbagai persoalan siswa yang kadang tidak pernah terlihat dari balik buku pelajaran.

Dulu kita menganggap guru selalu punya jawaban. Sekarang kita tahu, guru juga manusia yang kadang pulang dengan membawa teka-teki. Dulu kita mengira guru tidak pernah bingung. Sekarang kita sadar, guru juga sering bertanya kepada dirinya sendiri, “Apakah cara saya mengajar sudah benar?”

Di sanalah mungkin makna “when ya?” menemukan jawabannya.

Ternyata waktunya bukan ketika kita merasa sudah siap. Waktunya datang ketika kehidupan menempatkan kita pada posisi yang dahulu hanya kita kagumi.

Dulu kita bertanya, “Kapan ya bisa seperti guru?”

Tanpa sadar, waktu menjawabnya dengan cara yang paling indah: “Sekarang, kamulah gurunya.”

Menjadi guru bukan berarti telah selesai belajar. Justru sebaliknya, menjadi guru adalah tanda bahwa kita harus terus belajar. Sebab setiap generasi siswa datang dengan dunia yang berbeda.

Mereka membawa bahasa baru, teknologi baru, cara berpikir baru, dan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tidak pernah muncul ketika kita masih menjadi siswa. Maka seorang guru tidak cukup hanya menjadi seperti guru yang pernah ia kagumi. Ia perlu menjadi guru yang dibutuhkan oleh generasinya.

Barangkali suatu hari nanti, siswa yang sekarang duduk di depan kita akan kembali mengingat kelas ini. Mereka mungkin lupa sebagian besar materi yang pernah kita ajarkan. Mereka mungkin lupa tanggal, definisi, bahkan rumus yang pernah ditulis di papan. Tetapi bisa jadi mereka mengingat bagaimana gurunya memperlakukan mereka.

Mengingat bahwa pernah ada seorang guru yang percaya kepada mereka ketika mereka sendiri belum percaya kepada dirinya. Pernah ada guru yang mengatakan, “Kamu bisa!”.

Pernah ada guru yang membuat mereka merasa bahwa sekolah bukan hanya tempat mendapatkan nilai, tetapi tempat menemukan dirinya dan mungkin, bertahun-tahun kemudian, salah satu dari mereka akan berdiri di depan kelas, menjadi guru.

Lalu ia melihat seorang anak duduk di bangku paling belakang. Anak itu mungkin sedang bermimpi menjadi sesuatu yang bahkan belum ia pahami. Kemudian ia tersenyum, karena ia tahu perjalanan itu pernah ia lalui.

Dari murid menjadi guru. Dari pengagum menjadi sosok yang dikagumi. Dari bertanya “when ya?” menjadi seseorang yang akhirnya menyadari, waktunya sudah tiba. Sebab dalam pendidikan, ada sebuah siklus yang sering tidak kita sadari, apa yang kita dapatkan, sebaiknya kita bagikan dan menjadi bagian orang lain.

Itulah salah satu hadiah paling indah menjadi seorang guru, suatu hari nanti, kita akan melihat masa lalu kita sendiri, duduk di hadapan kita dalam wajah murid-murid yang sedang mencari arah. Lalu kita sadar, ternyata kita tidak sedang mengajar mereka untuk menjadi seperti kita.

Kita sedang membantu mereka menemukan versi terbaik dari dirinya sendiri.

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *