Oleh : Nurhaningtyas Agustin, M.Pd

IAINUonline – Pada suatu pagi yang masih terasa sejuk di Kabupaten Tuban, Andi bersiap berangkat menghadiri sebuah undangan rapat pendidikan tingkat kabupaten.

Sebagai seorang guru di salah satu sekolah dasar di wilayah tersebut, ia mendapat tugas mewakili sekolahnya untuk mengikuti forum diskusi yang membahas perkembangan kualitas pendidikan dasar.

Setelah berpamitan dengan keluarga dan memastikan semua berkas yang diperlukan sudah tersimpan di dalam tas, Andi menyalakan sepeda motornya dan mulai melaju menyusuri jalanan desa menuju ke lokasi acara.

Perjalanan pagi itu terasa cukup menyenangkan. Udara pesisir yang segar dan sinar matahari yang mulai muncul dari ufuk timur menemani perjalanan Andi menuju kantor tempat rapat akan diselenggarakan.

Di sepanjang jalan, ia melewati hamparan sawah, beberapa madrasah, serta anak-anak sekolah yang berjalan kaki sambil mengenakan seragam. Pemandangan tersebut membuat Andi kembali teringat pada profesinya sebagai guru sebuah tanggung jawab besar untuk membantu anak-anak belajar dan berkembang.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, Andi tiba di lokasi rapat. Beberapa peserta sudah lebih dulu hadir. Ia memarkir sepeda motornya, kemudian berjalan menuju ruang pertemuan sambil menyapa beberapa guru dari sekolah lain yang juga diundang.

Di dalam ruangan, suasana tampak cukup formal. Selain para guru dan kepala sekolah, hadir pula pengawas sekolah, perwakilan dinas pendidikan, serta beberapa dosen dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK).

Rapat pun dimulai. Salah satu pemateri membuka presentasi dengan menampilkan hasil analisis data tentang kemampuan Higher Order Thinking Skills (HOTS) siswa SD/MI di Kabupaten Tuban.

HOTS atau keterampilan berpikir tingkat tinggi adalah kemampuan kognitif yang melibatkan analisis, evaluasi, dan kreasi, melampaui sekadar hafalan. Ini mencakup berpikir kritis, logis, reflektif, dan kreatif untuk memecahkan masalah kompleks atau baru menggunakan informasi yang ada.

Di layar proyektor terlihat grafik dan tabel yang menunjukkan capaian siswa pada berbagai indikator berpikir tingkat tinggi, seperti kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Namun angka-angka yang muncul justru menunjukkan bahwa kemampuan HOTS siswa masih tergolong rendah.

Andi menatap layar dengan serius. Ia memperhatikan setiap penjelasan yang disampaikan pemateri. Dalam pikirannya, data tersebut terasa tidak terlalu mengejutkan.

Ia teringat pengalaman di kelas ketika memberikan soal yang membutuhkan penalaran lebih mendalam. Banyak siswa yang mampu menjawab pertanyaan yang bersifat hafalan, tetapi ketika diminta menjelaskan alasan, membandingkan, atau memecahkan suatu masalah, mereka sering kali kebingungan.

Di tengah penjelasan pemateri, Andi merenung sejenak. Ia menyadari bahwa persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan siswa semata. Cara pembelajaran yang masih sering berpusat pada guru, keterbatasan variasi metode pembelajaran, serta bentuk penilaian yang lebih menekankan pada jawaban benar atau salah, kemungkinan turut memengaruhi perkembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa.

Ketika diskusi dibuka, beberapa peserta mulai menyampaikan pandangannya. Ada yang menyoroti pentingnya pelatihan bagi guru, ada pula yang menekankan perlunya inovasi pembelajaran di kelas.

Bagi Andi, forum tersebut memberikan banyak refleksi. Ia merasa bahwa data yang ditampilkan bukan sekadar laporan statistik, tetapi gambaran nyata tentang kondisi pembelajaran yang perlu segera diperbaiki.

Menjelang akhir rapat, Andi semakin yakin bahwa peningkatan kemampuan HOTS siswa harus menjadi perhatian bersama. Guru perlu didorong untuk menerapkan pembelajaran yang lebih menantang, kontekstual, dan mendorong siswa berpikir kritis.

Di sisi lain, kolaborasi antara sekolah, pemerintah daerah, dan LPTK juga menjadi penting agar upaya peningkatan kualitas pembelajaran dapat berjalan lebih sistematis.

Ketika rapat selesai, Andi berjalan kembali menuju tempat parkir dan menyalakan sepeda motornya. Dalam perjalanan pulang, pikirannya masih dipenuhi oleh berbagai refleksi dari pertemuan pagi itu.

Baginya, perjalanan hari itu bukan hanya sekadar menghadiri undangan rapat, tetapi juga menjadi pengingat tentang pentingnya terus memperbaiki cara mengajar agar siswa mampu mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang mereka butuhkan di masa depan.

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *