Sumber Gambar : Sindonews.com


Islam adalah agama yang sempurna. Islam itu damai. Tidak ada perpecahan dan permusuhan. Agama Islam mengajarkan umatnya untuk saling mengenal satu sama lain (ta’aruf) karena adanya perbedaan latar belakang seperti budaya, bangsa, bahasa, dan agama. Atau yang disebut multikulturalisme. Salah satu ayat yang sangat representif dalam konteks ini adalah firman Allah SWT. “Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal”. (QS.Al-Hujurat (49):13).

Terus bagaimana islam dalam multikulturalisme yang terjadi ? Islam menjawabnya dalam berbagai konsepsi, salah satunya adalah toleransi dalam menanggapi keberbedaan dan keberagaman budaya, suku, bangsa, dan bahasa. Islam menawarkan sebuah konsep berupam toleransi. Dalam kamus bahasa Indonesia, Heri setiawan menjelaskan toleransi adalah satu sikap menghargai pendirian yang berada dalam pendirian sendiri. Sedangkan dalam al-qur’an dijelaskan Islam adalah agama Rahmat bagi seluruh umat dan alam.

Oleh sebab itu, dapat mengajarkan sikap individualisme dan tidak membenarkan sikap fanatisme yang berlebihan. Justru sebaliknya Islam mengajarkan kebersamaan dalam perbedaan dan menjunjung tinggi persaudaraan (al-khuwuyah) antar sesama. Dari sini maka akan muncul rasa aman di atas mukabumi. Sebuah ayat yang menegaskan konsep ini adalah AQ. Al-Hujurat (49):13. Penerapan nilai-nilai toleransi dalam kehidupan sudah di contohkan oleh Rosulullah ketika pertama kali hijrah ke Madinah. Sejarah mencatat bahwa Rosulullah SAW bukan hanya mampu mendamaikan dua kelompok yaitu suku Aus dan Kharaj yang senantiasa bertikai. Tetapi juga mampu menetapkan jargon “no compulsion in religion” terhadap masyarakat ketika itu.

Keberagan budaya dari adat kebiasaan harus di jadikan modal dasar untuk membangun sebuah konstruksi masyarakat yang kokoh. Tolong-menolong atau ta’awun merupakan hidup manusia yang tidak dapat di pungkiri. Setiap hari manusia melakukan pekerjaan yang membutuhkan orang lain.

Hal ini menunjukkan bahwa tolong-menolong dan saling membantu merupakan sebuah keharusan dalam hidup manusia, untuk menghadapi multikulturalisme yang ada. Silaturahim. Pada konsep ini Islam mengajarkan perdamaian antar umat. Seperti pemimpin negara, mereka tatkala mengadakan perkumpulan Negara jadi satu dalam ruang ganti tak membeda-bedakan agama, ras, budaya, dan warna kulit. Menurut Aa Gym silaturrahim adalah kunci terbukanya Rahmat dan pertolongan Allah SWT. Sedangkan menurut masyarakat umum silaturrahmi dapat dimaknai dengan menyambung tali persaudaraan antar sesama manusia tanpa melihat perbedaan yang ada di antara mereka.

Persaudaraan proses penyebaran Islam tidak akan berjalan mulus tanpa adanya persaudaraan. Perbedaan yang terjadi tidak menjadikan para pejuang menyerah dalam ijtihadnya. Mereka menjalin persaudaraan dengan masyarakat non Islam kalaitu. Mereka melihat, mempelajari dan mulai menggabungkan unsur budaya Islam ke budaya mereka sedikit demi sedikit, sehingga masyarakatpun lama kelamaan akan luluh hatinya dan menerima budaya Islam.

Islam menyebarkan agama tidak dengan pemaksaan atau bahkan kekerasan namun Islam menyebarkan agama salah satunya dengan persaudaraan. Itulah konsep-konsep Islam dalam merespon multikulturalisme. Islam sangat menghargai perbedaan. Masyarakat Indonesia yang notabennya bermacam-macam suku dan bahasa juga menhargai adanya multikulturalisme yang telah di sebutkan dalam semboyan bangsa Indonesia yaitu “Bhineka tunggal Ika”. Semoga dengan adanya multikulturalisme tidak menjadikan Islam rapuh dan hilang.

 

Penulis : Ani Marotun Nisa  PAI Aksel G IAINU TUBAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.