Sumber Gambar : nu.or.id


Siapa yang tidak mengenal Kitab Al-jurumiyah Kitab ini sangatlah populer di kalangan santri-santri di kalangan pesantren. Kitab ini biasa digunakan untuk mempelajari Bahasa Arab bagi pemula. Tak asing lagi di kalangan pesantren saja kitab ini mulai merambat di dunia dalam pengajian-pengajian umum yang digelar oleh beberapa ulama. Kitab al-jurumiyah ini di karang oleh Syeikh Ibnu Ajurrûm Yg bernama Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Dawud Al-Shinhâji, dengan mengkasrahkan huruf Shod, bukan dengan memfathahkannya seperti yang sering disebutkan oleh sebagian kalangan. Seperti yang diriwayatkan oleh Al-Hamîdi, kalimat Al-Shinhâji ini dinisbatkan kepada salah satu kabilah yang berada di Negeri Maroko yaitu kabilah Shinhâjah. Nama ini kemudian dikenal sebagai Ibnu Ajurrûm.

Beliau menimba ilmu di Fasa, hingga pada suatu hari beliau bermaksud untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Ketika melewati Mesir, beliau singgah di Kairo dan menuntut ilmu kepada seorang ulama nahwu termasyhur asal Andalusia, yaitu Abû Hayyân-pengarang kitab Al-Bahru Al-Muhith-sampai mendapat restu untuk mengajar dan dinobatkan sebagai salahsatu imam dalam ilmu gramatikal bahasa arab atau ilmu nahwu.

Pada hakikatnya kitab yang terkenal dengan pembahasan ilmu gramatikalnya ini mengandung banyak filosofi yang tidak banyak diketahui di kalangan masyarakat. Hal ini dikarenakan banyak yang mempelajarinya diluar pembelajaran bahasa Arab. Hal tersebut bukanlah suatu yang tidak wajar, justru membuka wawasan untuk banyaknya masyarakat yang sedang mempelajarinya terlebih dari mereka yang bukan dari kalangan pesantren.

Sangat jelas sekali bahwa sebuah  organisasi  diperumpamakan dengan al kalamu yang di dalamnya tersusun oleh beberapa elemen.

Salah satu hal yang dapat dijadikan contoh adalah korelasi antara kitab aljurumiyah dengan ilmu keorganisasian. Bab pertama dalam kitab ini membahasa tentang kalam yang mana mempunyai arti kalimat (dalam bahasa Indonesia). Dalam pembahasan awal pastinya sudah tidak asing lagi dengan kalimat al kalamu huwa al lafdhu al murokkau al mufidu bil wad’iy. Dari kalimat ini mempunyai makna bahwa kalimat itu adalah suatu lafadh yang tersusun, berfaedah dan disengaja (apabila mngucapkannya).

Identitas Kitab

Dalam penamaannya kitab ini dikenal dengan nama yang dinisbatkan kepada pengarangnya, sehingga kitab ini dikenal dengan nama Al-Ajurrûmiyyah atau Al-Jurmiyyah. Sebagaimana tatacara penisbatan dalam gramatikal bahasa arab bahwa murokkab idhofi (kata kompleks) yang disandarkan seperti kata Ibnu Ajurrûm pada bab nisbat biasanya dihapus awal katanya dan dinisbatkan pada kata kedua

Selain tidak memberi nama khusus pada kitabnya, Ibnu Ajurrûm juga tidak menyebutkan kapan kitab ini dikarang sehingga para penulis biography tidak mengetahui secara pasti kapan kitab ini disusun. Hanya saja Ibnu Maktum yang sejaman dengan Ibnu Ajurrûm dalam Tadzkirahnya menyebutkan bahwa kitab itu dikarang sekita tahun 719 H. Kitab ini mendapat apresiasi yang sangat besar baik dari kalangan para ulama maupun para murid. Bentuk apresiasi ini terlihat dari munculnya para ulama yang menciptakan bait-bait nadzam, syarah dan komentar dari kitab ini. Pengarang kitab “Kasyfu Al-Dzunûn” menyebutkan bahwa diperkirakan lebih dari sepuluh kitab yang menjadi nadzam, syarah, dan komentar dari kitab ini. Lebih uniknya lagi Al-Hamidy dalam hasyiahnya menceritakan bahwa Ibnu Ajurrûm setelah selesai mengarang kitab ini, beliau melemparkan kitabnya ke laut dan berkata: “Jika kitab ini murni karena mengharap ridha Allah maka ia tidak akan basah”, dan kitab itu tetap tidak basah sama sekali semua itu membuktikan bahwa kitab ini mendapat ridho.nya Alloh aminn…

 

Penulis : Ade Nurvia Fajaryani Aksel F Semester VII

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.