Sumber Gambar : Kompasiana.com


Salah satu permasalahan pendidikan di Indonesia yang terjadi dari dulu sampai hilir adalah masalah sarana dan prasarana. Menurut KBBI Sarana adalah sesuatu  yang dipergunakan untuk mencapai tujuan. Sebagi contoh seperti buku bahan ajar, media dan alat untuk mengajar seperti computer dsb. Sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya suatu proses seperti lokasi, bangunan sekolah, lapangan olahraga, kantin, dan perpustakaan.

Sarana dan prasarana menjadi faktor yang sangat diperlukan dalam menunjang proses belajar-mengajar karena sarana dan prasarana dapat memudahkan para peserta didik untuk lebih baik lagi dalam belajar, maka dari itu sarana dan prasarana harus diperhatikan dalam pendidikan.

Namun pada kenyataanya masih banyak daerah-daerah pelosok yang sarana dan prasarananya kurang memadai, mulai dari tempat belajar yang sulit dijangkau, gedung yang rusak, bocor dan tidak nyaman, serta bahan ajar yang seadanya dan masih banyak lagi. Masalah tersebut membuat proses belajar mengajar menjadi tidak efektif dan efisien.

Sebagai contoh, seperti di pulau terpencil Meulingge, Rinon, Lapeng ,dan Ulee Paya. Kominfo menyebutkan bahwa “Daerah-daerah tersebut sulit menjangkau SMA, karena harus melewati gunung-gunung dalam waktu 2 jam jika kondisi jalan kurang bagus. Tak ada angkutan umum di sana. Akibatnya banyak anak-anak yang enggan melanjutkan ke SMA”. Miris bukan? Mungkin anak-anak yang ada daerah tersebut juga ingin melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi namun apa daya kurangnya sarana dan prasarana membuat mereka mengurungkan niatnya.

Sarana dan prasarana yang tidak memadai juga terjadi di SDN Jampang 2, Gunung Sindur kabupaten Bogor, di SDN Jampang ini bukan masalah pada akses tempat yang sulit namun dilihat dari kondisi sekolahnya, Syarif Hidayatullah yakni salah satu guru yang ada di SDN tersebut bercerita bahwa siswa belajar di dalam ruangan yang platfonnya bolong, kayu-kayu yang menggelantung di langit-langit ruang kelas, kayu penyangga genting yang kropos dan dimakan rayap, temboknya retak-retak dan lantai keramik yang bergelombang.

Sebagai guru Syarif Syaifudin merasa cemas karena takut kayu yang ada dilangit-langit tersebut jatuh menimpa anak ketika pembelajaran berlangsung. Tidak hanya kondisi kelas saja yang memprihatinkan, namun fasilitas penunjang seperti perpustakaan juga sudah tidak memadai lagi.

Dari cerita yang ada di SDN Jampang tadi, kita bisa berpikir apakah nyaman ketika belajar dalam kondisi seperti itu? Tentu tidak. Padahal kenyamanan tempat itu sangat dibutuhkan dalam belajar, ketika siswa itu merasa nyaman dan aman maka siswa juga lebih mudah menerima ilmu dari pengajar.

Tidak hanya masalah gedung, anak jalan saja yang menjadi penghambat proses belajar siswa, minimnya bahan ajar, alat dan media juga sebuah sarana dan prasarana yang sangat mempengaruhi hasil belajar belajar siswa. Misal, ketika guru  menjelaskan materi SKI tentang perang badar, biasanya seorang pengajar hanya bercerita lewat lisan saja dan membuat peserta didik jenuh dan bosan sehingga peserta didik enggan melaksanakan proses belajar dengan baik.  Bukan karena langkah baiknya jika penyampaian materi tersebut di lakukan melalui tayangan video? Sepertinya itu lebih menarik perhatian peserta didik.

 

Penulis : Ning Lestari AKSEL Kls F IAINU Tuban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.