IAINU Tuban : Kampus Religi Social Entrepreneur


(Part 1)

Awalnya hanya entrepreneur religious. Namun, dalam rapat BPP (Badan Pengelola Pendidikan –sejenis yayasan di lingkungan perguruan tinggi NU)-diusulkan agar ditambah sosial. Di Visi Misi Perguruan Tinggi, akhirnya dibakukan menjadi, Religious Social Entrepreneur.

Saya tidak keberatan dengan penambahan kalimat itu. Meski akhirnya, terkesan panjang dan kurang enak diucapkan.

Sebagai mantan jurnalis yang terbiasa dengan kalimat yang simple dan mudah diucapkan, mestinya saya merasa kurang sreg. Namun, saya harus adaptif dengan lingkungan baru ini. Saya sekarang bukan jurnalis lagi. Tapi, pendidik di sebuah lembaga pendidikan formal.

Bahwa gagasan itu langsung diterima dan tidak disalahpahami di level BPP, saya sudah sangat bersyukur. Karena sebelum gagasan itu dibakukan di visi misi perguruan tinggi, tanggapan beragam sempat muncul.

Pertama, gagasan itu dianggap tidak relevan karena lembaga yang dikelola menyiapkan calon pendidik. “Wong pendidik kok diajari berdagang. Tidak relevan dengan keilmuan yang diajarkan,” komennya.

Kedua, menuduh saya akan menjadikan kampus sebagai lahan bisnis. Kampus akan dijadikan arena untuk mengejar keuntungan material daripada keilmuan. Kecurigaan ini, dikaitkan dengan latar belakang saya sebagai pelaku usaha.

Tentu saya mendengar pandangan miring itu. Namun, saya merasa tidak perlu menghentikan niat itu untuk menjadikan kalimat “entrepreneur religious” sebagai visi misi kampus. Bukan saya tidak mau menerima masukan. Namun, menurut saya, pendapat itu kurang didasari oleh pengetahuan dan informasi yang cukup.

Di era sekarang ini, penggunaan kalimat entrepreneur, sudah menjadi “lagu wajib” dan menjadi gerakan bersama. Semua bidang ingin mendorong agar sikap entrepreneur menyertai gerakannya. Karena dengan jiwa entrepreneur, kemajuan informasi, teknologi dan industri  bisa diikuti.

Memang, istilah entrepreneur sangat dekat dengan dunia usaha (bisnis). Karena dalam entrepreneur itu ditekankan adanya kejelian atau kepekaan dalam melihat peluang. Kemudian, peluang itu dikelola dan dimanfaatkan untuk kemudian menghasilkan keuntungan yang lebih besar.

Oke…! Prinsip dasarnya memang sama: untuk menghasilkan profit atau keuntungan. Namun, profit atau keuntungan yang dimaksud bisa beda. Istilah sama, subatansi beda!

Di dalam dunia bisnis, profit yang didambakan tentu keuntungan material. Penambahan modal atau penumpukan kapital. Sedang di dalam dunia Pendidikan, tentu beda. Bisa berupa kepercayaan masyarakat yang meningkat, kualitas keilmuan, ketrampilan dan karakter alumni yang membaik, sarana prasarana yang semakin memadai dan lain sebagainya.

Di luar itu, ada keuntungan besar yang menurut saya relevan dengan dunia pendidikan. Yakni, harapan akan lahirnya para alumni yang tangguh, memiliki karakter inovatif, kreatif dan kompetitif. Karena karakter seperti itulah yang terkandung dalam entrepreneur.

Untuk memajukan lembaga pendidikan, menurut saya, sangat dibutuhkan jiwa entrepreneur pengelolanya. Sebab, persoalan-persoalan yang muncul di dalam dunia pendidikan, pada hakikatnya tidak kalah kompleksnya dengan dunia bisnis. Dan itu, salah satu kunci memecahkannya adalah dengan jiwa entrepreneur.

Mengapa saya begitu yakin?

Pertama, seorang entrepreneur, pada umumnya terlatih untuk memiliki mata tajam. Setajam mata elang. Mereka akan selalu dengan jeli melihat potensi atau peluang yang ada di sekitarnya. Da, potensi itu kemudian berupaya dikembangkan.

Potensi di sini, tidak hanya berupa potensi alam. Tapi, juga potensi sumber daya manusia (SDM) yang ada. Seorang entrepreneur akan sangat memperhatikan passion yang ada dalam dirinya, juga timnya. Setelah berhasil dipetakan, passion itu akan dikerahkan untuk bekerja dalam kerja tim yang serasi.

Kedua, seorang entrepreneur tidak terlalu berorientasi kepada keuntungan materi. Karena di luar keuntungan itu, ada nilai kemanfaatan dan kebahagiaan yang diimpikannya: kepuasan batin. Munculnya kepuasan batin itu, karena terkait dengan passion. Kerja keras yang dilakukan, pada hekikatnya merupakan ekspresi dari minat, bakat dan hobbinya.

Ketiga, seorang entrepreneur akan selalu menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Ini karena, perkembangan yang identik dengan perubahan, pada hakikatnya adalah ruh atau spirit dari seorang entrepreneur. Mereka memang sangat peduli dengan perubahan. Mereka ingin, seiring dengan perkembangan jaman itu, ada perubahan-perubahan besar yang diciptakannya.

Terkait dengan itu, seorang entrepreneur tidak jarang melakukan hal-hal yang terkesan sia-sia. Membuang-buang waktu. Namun, hal itu tetap dilakukan karena demi mengejar terwujudnya perubahan.

Dari sikap ini, seorang entrepreneur akan selalu dinamis. Mereka akan selalu memeras otaknya untuk menemukan ide-ide baru yang belum ditemukan oleh orang lain. Mereka terbiasa kerja fokus. Dan, kerja fokus inilah, diyakini oleh banyak pihak sebagai kunci kesuksesan.

Tekadnya kuat. Mereka tidak mudah menyerah ketika menghadapi hambatan. Mereka rela berkorban waktu, tenaga, pikiran bahkan uang sekali pun. Dan hebatnya, karena yang dilakukan itu sesuai dengan passionnya, maka dia akan melakukannya dengan riang hati. Antusias!

Dari paparan ini jelas, entrepreneur sama sekali tidak tabu dibawa ke ranah pendidikan. Entrepreneur tidak hanya terbatas di wilayah perdagangan. Benar, seorang pebisnis harusnya menguasai –dan umumnya memang menguasai—entrepreneur. Tapi, tidak semua. Ada juga pebisnis yang karakternya jauh dari jiwa entrepreneur.

Begitu juga dengan pendidik. Pendidik sangat perlu memiliki banyak perangkat dalam menjalankan misinya. Baik misi untuk menyampaikan ilmu, ketrampilan dan sikap yang positif kepada anak yang dididik. Atau untuk mengembangkan lembaga Pendidikan yang dikelolanya.

Karena itu, bila ada yang memaknai entrepreneur hanya berdagang, sungguh itu sebuah kenaifan. Minim wawasan. Minim referensi. Kurang bacaan. Bahasa gaulnya: mainnya kurang jauh. Ngopinya kurang kentel.

Soal tudingan bahwa dengan membawa semangat entrepreneur itu berarti akan menjadikan kampus sebagai lahan bisnis, saya rasa, itu akan dijawab oleh waktu. Biar waktu yang membuktikan.

Selain entrepreneur, sosial relegius menjadi prinsip dasar yang juga dikembangkan. Ini karena, BPP/NU tidak ingin alumni atau lulusan dari perguruan tinggi ini (IAINU Tuban), menjadi manusia-manusia yang hanya sibuk mengejar keberhasilan atau keuntungan duniawi. Sementara, ukhrowi (akhirat) dinafikan. Sehebat apa pun mereka, tetap tidak kehilangan agamanya.

Kita berharap, alumni kampus IAINU menjadi “mujahid-mujahid” fillah. Meraka menjadi pejuang-pejuang kebenaran. Dan, semua itu dilakukan karena semata-mata mencari ridho Allah. Bukan yang lain.

Harapan berikutnya, keuntungan atau keberhasilan itu, juga harus bisa mendatangkan manfaat untuk masyarakat luas. Tidak egois. Tidak hanya memuja kepentingan pribadi dan mengabaikan kehidupan kolektif.

NU sebagai ormas keagamaan, lahir dengan cita-cita menghadirkan kemaslahatan untuk alam semesta. Rahmatan lil alamin.  Kondisi itu, bisa tercipta bila orang-orang yang menjadi subjek dari kehidupan ini, bukanlah orang-orang yang egois. Melainkan, orang yang selalu mengutamakan terciptanya kebaikan bersama (kemaslahatan umat).

Agama menjadi spirit atau ruh dari semua perilaku itu. Artinya, kerelaan untuk menanggalkan kepentingan pribadi demi kepentingan bersama, dilakukan semata-mata karena agama (Allah SWT) memang memerintahkan seperti itu. Bukan karena ingin dipuji atau kerena motif-motif keduniaan lainnya.

Sungguh ideal, bisa alumni IAINU Tuban memiliki karakter seperti itu. Tangguh, kreatif, inovatif dan kompetitif.  Selalu bergerak untuk melahirkan perubahan-perubahan atau pembaharuan dalam kehidupan yang diorientasikan untuk mendatangkan kemaslahatan ummat. Dan yang terpenting, semua itu tidak menjauhkan mereka dari Tuhannya.

Indah bukan? Semoga tidak salah paham lagi. Mari kita secara bersama-sama mewujudkannya! (bersambung)

*) Akhmad Zaini, mantan jurnalis, kini menjadi pendidik di IAINU Tuban 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.