PENULIS : H Akhmad Zaini, Penulis yang kini aktif menjadi Pendidik di IAINU Tuban.


Absennya Frasa Agama dalam Visi Pendidikan ala Nadiem (2-habis)

IAINUonline – Beberapa negara, memang mengalami kemajuan setelah menerapkan prinsip sekularisme. Dan, sebagai tetangga, kita menyaksikan rumput mereka sangat hijau. Namun, apakah ketika kita memasuki atau melihatnya dari dekat kondisinya memang benar-benar hijau? Inilah titik persoalan intinya.

Dr Mohammad Shamsi Ali, Imam di Islamic Center New York menceritakan, New York yang begitu maju dan sebagai pusatnya kapitalisme dunia pada hakikatnya gersang. Tidak ada kenikmatan yang bisa dirasakan sebagai kemajuan. Beberapa warga di sana, merasa tersiksa di tengah-tengah kemajuan kota di Amerika Serikat itu.

Shamsi Ali adalah warga Indonesia yang sudah lama tinggal di New York. Dia menyampaikan hal itu pada Januari 2021, dalam sebuah webinar yang diadakan oleh Lembaga Pengembangan Pesantren PP Muhammadiyah.

“Jadi, ruhiyah atau spiritual itu penting. Ini tidak bisa ditinggalkan dalam Pendidikan,” tandas Shamsi yang saat ini sedang merintis pendirian pesantren di Amerika itu.

Kita tentu tidak ingin menuju kondisi masyarakat yang seperti itu. Dan, seperti saya singgung di tulisan pertama, kita bisa maju tanpa harus meniru jejak –menerapkan sekularisme– negara-negara barat itu.

Asumsi ini, saya dasarkan, karena Islam yang menjadi agama mayoritas di Indonesia tidak memiliki pengalaman seperti yang terjadi di Katolik. Di mana, kebebasan intelektual dikekang oleh absolutisme kebenaran gereja. Sebalinya, dalam Al Qur’an dan Hadist justru banyak sekali yang mendorong kemajuan ilmu pengetahuan.

Artinya apa? Tanpa harus dilepas (sekuler), Islam tidak akan menghambat kemajuan ilmu pengertahuan. Yang perlu dibenahi adalah kinerja dan sikap bangsa ini dalam memperlakukan ilmu pengetahuan.

Karen Armtrong, pengamat agama-agama di dunia, kepada Shamsi Ali mengaku kalau dari sekian agama yang dia teliti, Islamlah yang paling rasional. Ini artinya, Islam sangat dekat dengan ilmu pengetahuan. Bukankah rasionalitas adalah pondasi utama ilmu pengetahuan?

Soal rasionalitas dalam Islam ini, tentu bukanlah sesuatu yang mengagetkan bagi kita yang muslim. Hanya sebagai penegasan dan pembenaran saja.

Armtrong adalah mantan biarawati. Dia menjadi biarawati sejak usia 17 tahun dan melakoninya selama 7 tahun. Dia hidup dalam lingkungan tertutup ordo Society of the Holly Child Jesus. Namun, akhirnya dia keluar karena merasa tidak menemukan Tuhan di sana.

Armtrong menyatakan dirinya sebagai Freelance Monotheist. Yakni, percaya Tuhan, tapi tidak mau memeluk agama apa pun. (Tempo, edisi 23 Desember 2001).

Shamsi menceritakan, selama menjadi imam masjid di New York, dia sering menerima keluhan dari warga yang merasa gersang hidupnya. Setelah dia bimbing, di antara mereka akhirnya menjadi mualaf.

“Mereka yang masuk Islam itu, rata-rata orang pandai. Bukan bodoh dan miskin, Mereka kebanyakan dari Columbia dan Mexico yang sebelumnya menganut agama Katolik,” tandasnya.

Mengapa mereka manjadi mualaf? Karena di agama mereka dulu, semakin beragama, maka rasionalitas semakin tidak diakui. Meski tidak masuk akal, mereka harus menerima kebenaran itu. Bila tidak mau menerima, maka resikonya, mereka dianggap keluar dari agamanya.

***

Minder. Tidak percaya diri. Itulah masalah besar yang membelenggu bangsa ini. Kita selalu melihat bangsa lain dengan decak kagum berlebihan. Dan itu, tidak hanya melanda masyarakat kalangan bawah. Yang berada di lapisan elite, juga terhinggapi “penyakit” itu.

Jika ingin pendidikan atau bangsa kita secara keseluruhan maju, menurut saya, persoalan terpenting yang harus segera ditangani ya masalah itu. Bagaimana mentalitas sebagai bangsa kelas dua, dikikis secara sistematis. Bangun rasa percaya diri sebagai bangsa.

Semestinya, sudah banyak bukti bahwa anak bangsa ini memiliki prestasi kelas dunia. Namun, tetap saja hal itu belum mampu membangkitkan kepercayaan sebagai bangsa. Kita masih saja silau dengan prestasi yang diraih bangsa lain.

Indonesia ini bangsa besar. Bukti-bukti sejarah banyak yang menguatkan hal itu. Hanya celakanya, selama Belanda menjajah bangsa ini selama 3,5 abad, mentalitas bangsa ini diluluhlantakkan. Kita menjadi lupa kalau kita punya goresan-goresan sejarah mengagumkan.

Karenanya, menggali dan menuturkan kehebatan nenek moyang bangsa Indonesia tempo dulu, mendesak dilakukan. Jadikan ini sebuah proyek serius oleh negara.

Karena bangsa Indonesia mayoritas muslim, kejayaan masa lalu Islam juga perlu digaungkan. Kaum muslimin di negeri ini—khususnya generasi melenial—harus tahu, sebelum peradaban dunia dimpimpin oleh bangsa-bangsa non muslim, sekian abad dipimpin kaum muslimin. Seperti saya singgung di tulisan pertama, ketika Eropa mengalami masa kegelapan, justru Islam mengalami masa kejayaan.

Bangsa barat yang bangkit dan melawan dominasi gereja, salah satu faktornya karena mereka berinteraksi dengan kaum muslimin. Khususnya di Spanyol. Daerah ini, pernah berada di bawah kekuasaan kaum muslimin sejak awal abad 8 hingga akhir abad 15 M.

Selama di bawah kekuasaan Islam, penduduk lokal yang beragama Kristen tidak dipaksa untuk pindah agama. Toleransi menjadi warna kehidupan sosial di kawasan itu. Warga non muslim pun diperkenankan untuk “nebeng belajar” di perpustakaan-perpustakaan yang dibangun oleh pemerintahan Islam di sana.

Dari sinilah, mereka mendapat inspirasi untuk keluar dari belenggu kegelapan. Mereka yang selama ini terbelenggu oleh dogma gereja menjadi mendapatkan kebebasan untuk menguasai ilmu pengatahuan. Mereka semakin terbuka pemikirannya. Pelan-pelan mereka mengalami kemajuan.

Yang patut disayangkan, ketika bangsa Barat mulai menyerap ilmu pengetahuan dan pelan-pelan mengalami kemajuan, umat Islam justru mengalami kemerosotan. Disintergrasi terjadi. Pergolakan politik terus menggerogoti kekuatan umat Islam. Dinamika keilmuan juga mengalami stagnasi.

Kekuasaan Islam di Spanyol berakhir pada akhir abad 15 M (1492). Namun, jejak-jejak emas ilmu pengetahun dan spirit kemajuan masih bersinar di kawasan itu. Dengan cepat, sinar itu sorotnya semakin menjangkau kawasan Eropa yang lebih luas. Dominasi gereja pun didobrak.

Mereka tidak mau lagi hidup dalam belenggu agama. Sekularisme menjadi pilihan. Agama hanya berada di dalam gereja.

Abad 16 menjadi abad pembaharuan (renaissance) bagi bangsa Eropa. Gerakan itu, pada perkembangan berikutnya melahirkan aufklarung (pencerahan) dan kemudian membuahkan revolusi industri pada abad 18 M. Sejak saat itu, peradaban dunia berada di tangan bangsa Barat hingga saat ini.

Dengan demikian, kemajuan ilmu pengatahuan dan peradaban bangsa barat, terkait erat dengan kemajuan ilmu pengetahuan di dunia Islam. Mereka berhutang budi dengan khazanah ilmu pengetahuan Islam yang berkembang di periode klasik.

Versi sejarah semacam itu, sepertinya tidak terlalu populer di kalangan pelajar Indonesia. Mas Menteri Nadiem, yang sangat singkat belajar di Indonesia, saya khawatirkan juga tidak mengetahui versi sejarah seperti itu. Sehingga terbelenggunya kemajuan ilmu pengetahuan oleh agama, dipersepsikan oleh semua agama. Padahal, kalau menengok sejarah di atas, itu hanya khusus di kalangan umat Katolik.

Sejarah-sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah di Indonesia, sangat bias Barat. Masa kegelapan yang terjadi di Eropa pun, selama ini dikonotasikan sebagai masa kegelapan semua umat manusia. Padahal, di masa itu, justru Islam sedang mengalami puncak kemajuan ilmu pengetahuan.

Harapan saya, dengan mengkaji sejarah di atas, kita menjadi termotivasi untuk bangkit. Bangsa ini harus percaya diri. Untuk maju, kita tidak perlu meniru pola yang sudah dibuat bangsa Eropa. Kita buat pola sendiri. Maju, tanpa melepaskan diri dari agama. Harusnya, agama menjadi ruh atau spirit kemajuan. (*)

Penulis : Akhmad Zaini, mantan Jurnalis, kini menjadi pendidik di IAINU Tuban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.