Oleh : Ulya Ainur Rofi’ah, M.Pd

IAINUonline – ‘’Teknologi mampu membuka jendela dunia, tetapi kehadiran manusia tetap menjadi cahaya yang membimbing anak menemukan makna kehidupan.”

Perubahan zaman selalu membawa cara baru dalam manusia belajar, berkomunikasi, dan berinteraksi. Salah satu perubahan yang paling terasa saat ini adalah hadirnya teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari. Hampir setiap aktivitas manusia tidak dapat dilepaskan dari perangkat digital, termasuk dalam dunia pendidikan anak usia dini.

Di berbagai keluarga, gawai kini menjadi bagian dari keseharian anak. Melalui layar kecil tersebut, anak dapat mengenal berbagai informasi, melihat beragam pengetahuan, bahkan mengikuti aktivitas pembelajaran yang kreatif dan menarik.

Teknologi memberikan banyak peluang untuk memperkaya pengalaman belajar anak apabila digunakan secara tepat dan bijaksana.

Namun, di tengah kemudahan tersebut, muncul sebuah pertanyaan penting: apakah teknologi benar-benar membantu anak berkembang, atau justru perlahan menggantikan kehadiran orang-orang yang seharusnya mendampingi mereka?

Pertanyaan ini menjadi penting karena anak usia dini bukanlah individu yang hanya membutuhkan informasi, tetapi manusia kecil yang sedang membangun seluruh aspek kehidupannya.

Pada masa ini, anak membutuhkan hubungan yang hangat, interaksi sosial, keteladanan, dan pengalaman nyata untuk membentuk kemampuan berpikir, karakter, serta kepribadiannya.

Menurut pandangan penulis, tantangan terbesar pendidikan anak usia dini di era digital bukan terletak pada keberadaan teknologi, melainkan pada bagaimana manusia menempatkan teknologi tersebut.

Teknologi bukanlah sesuatu yang harus dijauhi, tetapi juga tidak boleh dibiarkan mengambil alih peran orang tua dan guru dalam mendampingi proses tumbuh kembang anak. Sebab, anak usia dini tidak hanya membutuhkan stimulasi kognitif, tetapi juga membutuhkan kehadiran emosional yang membangun rasa aman dan percaya diri.

Sering kali kita merasa telah memberikan yang terbaik kepada anak ketika menyediakan berbagai fasilitas digital. Padahal, anak tidak hanya membutuhkan perangkat yang canggih, tetapi juga membutuhkan percakapan sederhana, sentuhan kasih sayang, perhatian, dan waktu bersama orang dewasa di sekitarnya.

Sebuah aplikasi dapat mengenalkan warna, angka, atau huruf kepada anak. Sebuah video dapat memperlihatkan berbagai pengetahuan baru. Namun, teknologi tidak dapat menggantikan seorang guru yang memberikan apresiasi ketika anak mencoba, orang tua yang mendengarkan cerita kecilnya, atau teman sebaya yang mengajarkan arti berbagi dan bekerja sama.

Penulis melihat bahwa fenomena penggunaan gawai pada anak saat ini bukan semata-mata persoalan teknologi, tetapi juga persoalan kehadiran. Banyak anak yang memiliki akses terhadap berbagai fasilitas digital, tetapi tidak selalu mendapatkan kesempatan untuk berbicara, bermain, dan berinteraksi secara bermakna dengan orang-orang terdekatnya.

Padahal, pengalaman sederhana seperti berdialog, bermain bersama, dan mendapatkan perhatian merupakan bagian penting dari pendidikan anak usia dini.

Inilah yang perlu menjadi kesadaran bersama bahwa teknologi seharusnya menjadi sarana pendidikan, bukan pengganti interaksi manusia dalam proses tumbuh kembang anak.

Dalam pendidikan anak usia dini, keberhasilan belajar tidak hanya diukur dari seberapa banyak informasi yang mampu diterima anak. Tetapi juga dari bagaimana anak mampu membangun karakter, mengelola emosi, berkomunikasi, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya. Pendidikan bukan sekadar proses mentransfer pengetahuan, tetapi proses membentuk manusia yang utuh.

Karena itu, penggunaan teknologi dalam PAUD harus tetap berlandaskan pada prinsip perkembangan anak. Teknologi dapat digunakan untuk menumbuhkan kreativitas, memperluas wawasan, dan menghadirkan pembelajaran yang lebih menarik.

Namun, penggunaannya harus tetap didampingi oleh orang dewasa dan tidak menghilangkan aktivitas bermain, bereksplorasi, bergerak, serta berinteraksi secara langsung.

Bagi pendidik anak usia dini, tantangan saat ini bukanlah menjauhkan anak dari teknologi, melainkan membangun budaya penggunaan teknologi yang sehat dan bermakna.

Guru perlu menjadi fasilitator yang mampu memilih media digital sesuai kebutuhan perkembangan anak. Sementara itu, orang tua perlu hadir sebagai pendamping yang memberikan batasan sekaligus keteladanan dalam menggunakan teknologi.

Dalam perspektif pendidikan Islam, kemajuan teknologi juga perlu berjalan bersama dengan nilai adab. Kecanggihan teknologi harus diiringi dengan kemampuan manusia dalam mengendalikan diri, menggunakan ilmu untuk kebaikan, dan tetap menjaga hubungan sosial yang penuh kasih sayang.

Anak yang cerdas secara digital harus tumbuh menjadi anak yang memiliki karakter, empati, dan akhlak yang baik.

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *