Oleh: Nurul Hakim, Alfaqir
IAINUonline – Setiap orang mendambakan kesuksesan. Tidak ada seorang pun yang ingin hidup dalam kegagalan. Namun, persoalannya bukan terletak pada keinginan untuk sukses, melainkan pada kesediaan menempuh jalan menuju kesuksesan. Sebab, jalan menuju keberhasilan hampir tidak pernah dipenuhi kenyamanan. Ia justru dipenuhi tantangan, pengorbanan, ketidakpastian, bahkan terkadang harus meninggalkan sesuatu yang selama ini dianggap paling berharga. Dalam bahasa Islam, jalan seperti itu dikenal dengan istilah hijrah.
Ketika bulan Muharam tiba, umat Islam selalu diingatkan pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw. dari Makkah menuju Madinah. Banyak orang memandang hijrah sekadar perpindahan geografis.
Padahal, jika ditelaah lebih mendalam, hijrah merupakan simbol keberanian meninggalkan keadaan yang menghambat menuju keadaan yang lebih memungkinkan lahirnya perubahan. Hijrah adalah keberanian keluar dari zona nyaman demi masa depan yang lebih baik.
Perjalanan hijrah Nabi Muhammad bukanlah perjalanan yang mudah. Beliau meninggalkan kampung halaman yang sangat dicintainya. Beliau harus berpisah dengan rumah, keluarga, sahabat, bahkan harta benda yang selama ini menjadi bagian dari kehidupannya.
Dalam perjalanan menuju Madinah, beliau bersama Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur selama beberapa hari karena dikejar oleh kaum Quraisy yang bertekad menghabisi nyawa beliau. Situasi tersebut adalah situasi yang tidak biasa. Tidak ada kenyamanan, tidak ada kepastian, bahkan keselamatan jiwa pun berada di ujung tanduk.
Namun justru dari perjalanan yang penuh risiko itulah lahir babak baru dalam sejarah Islam. Di Madinah, Nabi Muhammad berhasil membangun masyarakat yang berkeadaban, mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Ansar, menyusun Piagam Madinah sebagai fondasi kehidupan bersama, serta meletakkan dasar-dasar peradaban Islam yang kemudian berkembang ke berbagai penjuru dunia. Kesuksesan besar itu tidak lahir dari kenyamanan di Makkah, tetapi dari keberanian menjalani hijrah.
Inilah pelajaran yang sangat relevan bagi kehidupan kita saat ini. Orang yang ingin sukses tidak cukup hanya memiliki impian besar. Ia juga harus siap menghadapi situasi-situasi yang tidak biasa. Dunia ini tidak memberikan penghargaan kepada mereka yang hanya pandai bermimpi. Dunia lebih menghargai mereka yang berani melangkah, meskipun langkah itu penuh risiko dan ketidakpastian.
Tidak sedikit orang yang gagal berkembang karena terlalu mencintai zona nyaman. Mereka takut mencoba hal baru, takut berpindah pekerjaan, takut memulai usaha, takut melanjutkan pendidikan, takut menerima kritik, bahkan takut mengubah kebiasaan buruk yang selama ini menghambat kemajuan dirinya. Akibatnya, bertahun-tahun hidup dijalani dalam rutinitas yang sama tanpa menghasilkan perubahan yang berarti.
Padahal, hampir semua kisah sukses selalu diawali oleh keberanian meninggalkan kenyamanan. Seorang mahasiswa yang ingin menjadi ilmuwan harus berhijrah dari kemalasan menuju budaya membaca dan meneliti.
Seorang pengusaha harus berhijrah dari rasa takut menuju keberanian mengambil risiko. Seorang pemimpin harus berhijrah dari kepentingan pribadi menuju kepentingan masyarakat. Seorang pelajar harus berhijrah dari kebiasaan menunda menjadi pribadi yang disiplin. Bahkan seorang mukmin harus berhijrah dari dosa menuju ketaatan.
Dengan demikian, hijrah tidak selalu berarti berpindah tempat tinggal. Hijrah bisa berarti berpindah cara berpikir, berpindah karakter, berpindah kebiasaan, berpindah lingkungan pergaulan, berpindah budaya kerja, bahkan berpindah dari rasa pesimis menuju optimisme. Selama perpindahan itu membawa seseorang kepada kualitas hidup yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah, maka itulah hakikat hijrah.
Ironisnya, banyak orang menginginkan hasil yang luar biasa, tetapi tetap bertahan pada kebiasaan yang biasa-biasa saja. Mereka berharap pendapatannya meningkat, tetapi enggan meningkatkan kompetensi. Mereka ingin dihormati, tetapi tidak mau memperbaiki akhlaknya. Mereka ingin kariernya berkembang, tetapi menolak belajar hal-hal baru. Mereka ingin hidup berubah, tetapi tidak pernah mau berubah. Padahal, perubahan hasil hampir selalu diawali oleh perubahan diri.
Peristiwa hijrah Nabi Muhammad mengajarkan bahwa kesuksesan bukanlah hadiah yang turun begitu saja dari langit. Kesuksesan merupakan buah dari keberanian mengambil keputusan yang benar meskipun terasa berat.
Nabi Muhammad rela meninggalkan Makkah bukan karena beliau membencinya, melainkan karena beliau memahami bahwa mempertahankan keadaan lama justru akan menghambat misi besar yang diembannya. Terkadang, kita pun harus berani meninggalkan sesuatu yang baik demi memperoleh sesuatu yang jauh lebih baik.
Dalam kehidupan modern, bentuk hijrah semakin beragam. Ada orang yang harus berhijrah dari lingkungan kerja yang toksik menuju lingkungan yang lebih sehat. Ada yang harus berhijrah dari pola hidup konsumtif menuju kehidupan yang lebih produktif.
Ada yang harus berhijrah dari budaya mengeluh menuju budaya berkarya. Ada pula yang harus berhijrah dari kebiasaan menyalahkan keadaan menuju kebiasaan mencari solusi. Semua itu membutuhkan keberanian, karena setiap hijrah selalu menuntut pengorbanan.
Sebuah pepatah mengatakan bahwa kapal paling aman ketika berada di pelabuhan. Namun, kapal tidak diciptakan untuk terus berada di pelabuhan. Ia diciptakan untuk mengarungi lautan. Begitu pula manusia.
Kita tidak diciptakan untuk terus berdiam dalam kenyamanan. Kita diciptakan untuk bertumbuh, berkembang, dan memberi manfaat yang lebih besar bagi sesama. Pertumbuhan itu hampir selalu dimulai ketika seseorang berani keluar dari kebiasaan lamanya.
Karena itu, jika hari ini kita masih berada pada titik yang sama seperti beberapa tahun yang lalu, mungkin yang perlu kita lakukan bukan sekadar bekerja lebih keras, melainkan berhijrah. Berhijrah dari pola pikir yang membatasi, dari kebiasaan yang melemahkan, dari lingkungan yang menghambat, dan dari segala sesuatu yang menjauhkan kita dari cita-cita.
Sebab, kesuksesan sejatinya bukan hanya tentang sampai di tujuan, tetapi juga tentang keberanian menempuh perjalanan menuju ke sana.
Hijrah Nabi Muhammad mengajarkan bahwa setiap kesuksesan besar selalu diawali oleh keberanian menghadapi keadaan yang tidak biasa. Tidak ada kemenangan tanpa perjuangan, tidak ada perubahan tanpa pengorbanan, dan tidak ada kesuksesan tanpa hijrah.
Maka, jika kita benar-benar ingin masa depan yang lebih baik, jangan hanya menunggu kesempatan datang. Beranilah berhijrah. Sebab, sering kali kesuksesan sedang menunggu di seberang keberanian kita untuk berubah. Wallahu A’lam.
