Oleh: Nurul Hakim, Alfaqir

IAINUonline Babak 16 besar Piala Dunia 2026 menyuguhkan pertandingan yang mengajarkan makna kehidupan. Argentina berhadapan dengan Mesir dalam pertandingan yang sejak awal tampak berjalan di luar dugaan. Hingga menit ke-78, Argentina tertinggal dua gol tanpa balas.

Banyak penonton mulai beranggapan bahwa perjalanan sang juara dunia akan berakhir. Dalam dunia sepak bola, ketertinggalan dua gol menjelang pertandingan usai sering kali menjadi pertanda kekalahan. Namun, Argentina menunjukkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar kemampuan mengolah bola, yaitu mental juara.

Alih-alih kehilangan harapan, para pemain Argentina justru meningkatkan intensitas permainan. Mereka tidak larut dalam kepanikan. Mereka tidak saling menyalahkan. Mereka juga tidak sibuk mencari kambing hitam. Yang mereka lakukan hanyalah satu, yaitu terus bermain sesuai peran masing-masing.

Serangan demi serangan dibangun dengan kesabaran dan keyakinan. Hasilnya mulai terlihat ketika Romero memperkecil ketertinggalan pada menit ke-79. Gol tersebut bukan sekadar mengubah skor menjadi 1-2, tetapi mengubah psikologi pertandingan.

Kepercayaan diri Argentina tumbuh kembali. Empat menit kemudian Messi menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Ketika sebagian orang mulai menganggap pertandingan akan berakhir imbang, Argentina kembali memberikan pelajaran bahwa pertandingan belum selesai sebelum peluit panjang berbunyi. Pada masa injury time, Fernandes mencetak gol kemenangan yang memastikan skor 3-2 untuk Argentina.

Kemenangan itu sesungguhnya tidak hanya lahir dari kualitas teknik, melainkan dari kualitas mental. Inilah yang membedakan tim biasa dengan tim besar. Tim biasa berhenti ketika keadaan menjadi sulit, sedangkan tim besar justru menemukan energi baru ketika tekanan semakin berat.

Dalam psikologi olahraga, Angela Duckworth menyebut kualitas semacam ini sebagai grit, yakni perpaduan antara kegigihan dan ketekunan untuk terus berjuang mencapai tujuan jangka panjang.

Angela Lee Duckworth adalah seorang akademisi yang menetap Amerika, psikolog dan penulis sains populer. Dia adalah profesor psikologi di University of Pennsylvania, tempat dia mempelajari ketabahan dan pengendalian diri.

Orang yang memiliki grit tidak mudah menyerah hanya karena mengalami kegagalan sementara. Mereka memahami bahwa kegagalan bukanlah akhir perjalanan, melainkan bagian dari proses menuju keberhasilan. Argentina memperlihatkan grit itu secara nyata. Mereka tidak mengubah tujuan hanya karena keadaan belum berpihak kepada mereka.

Pandangan tersebut diperkuat oleh teori growth mindset yang dikembangkan Carol Dweck. Ia adalah seorang Profesor Psikologi Lewis dan Virginia Eaton di Universitas Stanford. Dweck dikenal karena karyanya tentang sifat psikologis pola pikir pertumbuhan.

Menurut teori ini, individu yang memiliki pola pikir berkembang meyakini bahwa kemampuan dapat terus ditingkatkan melalui latihan, usaha, dan pengalaman.  Sebaliknya, orang dengan fixed mindset cenderung menyerah ketika menghadapi kesulitan karena menganggap kegagalan sebagai bukti keterbatasan dirinya. Argentina tampil sebagai representasi growth mindset. Ketertinggalan dua gol tidak dipandang sebagai vonis kekalahan, tetapi sebagai tantangan untuk bangkit.

Dalam perspektif sosiologi, keberhasilan Argentina juga dapat dijelaskan melalui konsep collective efficacy yang dikemukakan Albert Bandura, seorang psikolog dan penggagas teori kognitif sosial, yaitu keyakinan bersama bahwa sebuah kelompok mampu menyelesaikan tantangan melalui kerja sama.

Tidak ada pemain Argentina yang berusaha menjadi pahlawan sendirian. Mereka menjalankan fungsi masing-masing sesuai strategi tim. Kepercayaan kolektif itulah yang melahirkan energi sosial sehingga setiap pemain tetap optimis sampai akhir pertandingan.

Pelajaran tersebut sesungguhnya sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari. Banyak orang berhenti berjuang bukan karena kekurangan kemampuan, tetapi karena kehilangan semangat. Ketika melihat orang lain lebih dahulu berhasil, sebagian orang merasa dirinya sudah kalah sebelum benar-benar bertanding. Mereka membandingkan perjalanan hidupnya dengan perjalanan orang lain. Padahal, kehidupan bukanlah perlombaan lari jarak pendek, melainkan maraton yang membutuhkan daya tahan.

Sering kali kita merasa tertinggal. Ada teman yang lebih dahulu menjadi dosen tetap, memperoleh gelar doktor, memiliki usaha yang berkembang, atau menikmati kehidupan yang tampak lebih mapan. Perasaan tertinggal itu dapat menjadi racun apabila tidak dikelola dengan baik.

Orang akhirnya kehilangan fokus terhadap jalan hidupnya sendiri. Padahal, setiap orang memiliki lintasan, waktu, dan takdir yang berbeda. Yang menentukan bukan siapa yang berangkat lebih cepat, melainkan siapa yang mampu bertahan hingga garis akhir.

Islam sejak awal telah mengajarkan mental juara semacam ini. Allah Swt. berfirman:

“Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu beriman.” (QS. Ali ‘Imran: 139).

Ayat ini turun dalam konteks kekalahan kaum Muslim pada Perang Uhud. Allah tidak mengajarkan umat Islam untuk larut dalam kegagalan, tetapi mengajarkan agar menjadikan kegagalan sebagai energi untuk bangkit. Spirit kebangkitan itulah yang juga tampak pada permainan Argentina. Mereka tidak berhenti hanya karena keadaan sedang tidak menguntungkan.

Demikian pula firman Allah Swt.:

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5–6).

Ayat tersebut tidak mengatakan bahwa kemudahan datang setelah kesulitan berakhir, tetapi bersama kesulitan itu sendiri. Artinya, di dalam setiap tantangan selalu terdapat peluang yang mungkin belum terlihat.

Argentina menemukannya ketika satu gol berhasil tercipta. Gol pertama membuka pintu bagi gol-gol berikutnya. Begitulah kehidupan. Sering kali perubahan besar dimulai dari satu langkah kecil yang terus dijaga konsistensinya.

Rasulullah saw. juga mengajarkan optimisme melalui sabdanya:

“Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah. Masing-masing memiliki kebaikan. Berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah lengah.” (HR. Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa kekuatan seorang mukmin bukan hanya kekuatan fisik, tetapi juga kekuatan mental, spiritual, dan daya juang. Islam tidak mengajarkan sikap pasrah yang melumpuhkan ikhtiar. Tawakal selalu didahului oleh usaha maksimal. Itulah yang dilakukan Argentina.

Mereka terus berusaha hingga detik terakhir, sementara hasil akhirnya menjadi bagian dari ketentuan Allah.

Dari pertandingan tersebut, ada pelajaran penting yang layak dibawa ke dalam kehidupan. Jangan pernah mengukur masa depan hanya dari keadaan hari ini. Jangan menganggap ketertinggalan sebagai akhir perjalanan.

Selama peluit kehidupan belum ditiup, selama kesempatan masih terbuka, selama napas masih diberikan Allah, maka perjuangan belum selesai. Yang dibutuhkan bukan sekadar kecerdasan, melainkan ketangguhan untuk terus berjalan sesuai role of the game yang telah Allah tetapkan bagi masing-masing manusia.

Argentina mengajarkan bahwa kemenangan sering kali lahir pada saat banyak orang sudah kehilangan harapan. Hidup pun demikian. Mereka yang akhirnya berhasil bukan selalu orang yang paling pintar, paling kaya, atau paling beruntung. Sering kali, mereka hanyalah orang-orang yang menolak menyerah.

Mereka terus melangkah ketika orang lain berhenti. Mereka tetap berikhtiar ketika orang lain berputus asa. Dan mereka percaya bahwa setiap kesulitan hanyalah babak sebelum kemenangan.

Maka, marilah kita belajar dari Argentina. Jadikan setiap kegagalan sebagai pelajaran, bukan alasan untuk berhenti. Jadikan setiap ketertinggalan sebagai motivasi untuk memperbaiki diri.

Milikilah mental juara, sebab orang yang memiliki mental juara tidak pernah benar-benar kalah. Ia hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk memenangkan pertandingannya. Wallahu A’lam.

 

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *