Oleh : Dr.Nurhaningtyas, M.Pd.

IAINUonline – “Kalau tidak salat nanti masuk neraka.”

Kalimat itu sering menjadi cara paling cepat untuk menyuruh anak salat. Anak akhirnya berdiri mengambil mukena atau sarung karena takut dimarahi, takut dosa, atau takut neraka. Mereka salat karena ancaman, bukan karena memahami makna kedekatan dengan Allah.

Fenomena ini sangat umum dalam pendidikan agama, baik di rumah maupun di sekolah. Banyak pengajaran ibadah masih dibangun di atas rasa takut. Anak dikenalkan agama melalui hukuman, ancaman dosa, dan bayangan siksa. Akibatnya, sebagian anak tumbuh menjalankan ibadah karena terpaksa, bukan karena cinta.

Dalam paradigma KBC, kondisi ini bisa dipandang sebagai pola pendidikan yang masih berada pada paradigma jahiliyah menuju jamiliyah.

Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) adalah pendekatan pendidikan yang menggeser fokus dari sekadar transfer pengetahuan kognitif menjadi pembentukan hubungan emosional, spiritual, dan moral. Tujuan utamanya adalah menciptakan iklim belajar yang aman, menyenangkan, dan berpusat pada kasih.

Jahiliyah dalam konteks ini bukan berarti tidak beragama, tetapi cara mendidik yang belum sepenuhnya membangun kesadaran ruhani dan keindahan hubungan manusia dengan Tuhan. Agama diajarkan hanya sebatas kewajiban dan ketakutan, bukan sebagai jalan cinta, ketenangan, dan kemuliaan hidup.

Akibatnya, anak sering mengenal Allah sebagai sosok yang menakutkan sebelum mengenal-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Pengasih.

Padahal dalam Islam, ibadah bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi bentuk cinta dan kedekatan manusia kepada Allah. Salat bukan hanya untuk menghindari neraka, tetapi ruang manusia berbicara, bersandar, dan merasa dekat dengan Tuhannya.

Jika anak hanya diajarkan takut, maka ibadah bisa kehilangan makna spiritualnya. Anak mungkin rajin salat saat diawasi, tetapi mudah meninggalkannya ketika tidak ada kontrol. Karena fondasi yang dibangun bukan kesadaran, melainkan tekanan.

Paradigma jamiliyah mengajak pendidikan agama bergerak menuju pendekatan yang lebih indah dan manusiawi. Anak dikenalkan bahwa Allah mencintai hamba-Nya, salat adalah kebutuhan jiwa, dan ibadah adalah bentuk syukur serta cinta kepada Tuhan.

Dalam perspektif Al-Ghazali, pendidikan agama seharusnya membangun hati dan akhlak manusia, bukan hanya kepatuhan formal. Tokoh yang berama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali ini adalah seorang ulama, filsuf, dan tokoh sufi terkemuka yang berasal dari Thus, Persia (Iran).

Karena itu, pengajaran ibadah perlu menghadirkan rasa cinta, keteladanan, dan pengalaman spiritual yang menyenangkan bagi anak.

Misalnya, anak diajak memahami bahwa: salat membuat hati lebih tenang, doa adalah cara berbicara kepada Allah, sujud adalah bentuk kerendahan manusia, dan Allah selalu dekat serta menyayangi hamba-Nya.

Bukan berarti konsep dosa dan neraka tidak boleh dikenalkan. Dalam Islam, harapan (raja’) dan rasa takut (khauf) memang harus berjalan seimbang. Namun pada anak, pendekatan cinta dan kasih sayang jauh lebih penting sebagai fondasi awal pendidikan agama.

Menurut teori perkembangan moral dari Lawrence Kohlberg, anak usia dini cenderung memahami benar dan salah berdasarkan hukuman dan penghargaan. Karena itu, jika pendidikan agama hanya berisi ancaman, anak akan memahami ibadah sekadar cara menghindari hukuman, bukan kebutuhan spiritual.

Lawrence Kohlberg adalah seorang psikolog dan profesor asal Amerika Serikat. Ia sangat terkenal atas Teori Perkembangan Moral, yang menjelaskan bagaimana manusia mengembangkan penalaran moral seiring bertambahnya usia.

Fenomena ini menjelaskan mengapa sebagian anak terlihat rajin beribadah saat kecil, tetapi menjauh ketika dewasa. Mereka mengenal agama sebagai tekanan, bukan ketenangan. Mereka diajarkan takut kepada Allah, tetapi belum benar-benar diajarkan mencintai-Nya.

Karena itu, paradigma KBC menuju jamiliyah mengajak pendidikan Islam menghadirkan keindahan dalam beragama. Agama tidak lagi hanya dipahami sebagai aturan dan hukuman, tetapi jalan cinta, akhlak, dan kedamaian hidup.

Pada akhirnya, tujuan terbesar pendidikan agama bukan sekadar membuat anak takut neraka, tetapi membantu mereka mencintai Allah dengan kesadaran dan ketulusan. Sebab ibadah yang lahir dari cinta akan bertahan lebih lama dibanding ibadah yang hanya dibangun di atas rasa takut.

 

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *