Oleh : Irfa’i Alfian Mubaidilla
IAINUonline – Semakin banyak pengalaman yang dilewati, semakin saya memahami bahwa hidup ternyata tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia. Kita sering merasa bahwa langkah-langkah yang kita tempuh adalah hasil dari kemampuan diri sendiri. Kita belajar membuat keputusan, menyusun rencana, membaca kemungkinan, lalu perlahan meyakini bahwa semua yang terjadi adalah buah dari apa yang kita usahakan.
Padahal, ada sesuatu yang bekerja jauh sebelum kita memulai perjalanan. Sesuatu yang tidak terlihat, tetapi diam-diam ikut menentukan arah.
Suatu saat saya mengalami hari yang mengubah cara pandang saya tentang hal itu. Hari yang mulanya terasa biasa saja, tanpa tanda-tanda aneh, tanpa firasat tertentu. Semuanya tampak berjalan sebagaimana mestinya. Dunia bergerak normal, aktivitas berlangsung seperti rutinitas yang telah berkali-kali dijalani.
Sampai pada satu momen yang membuat saya sadar bahwa hidup ternyata bisa berubah dalam waktu yang bahkan lebih cepat daripada kedipan mata. Ada situasi di mana saya merasa seperti sedang berdiri tepat di tepi sesuatu yang sulit dijelaskan. Seolah ada jarak yang begitu tipis antara melanjutkan cerita hidup atau meninggalkan banyak cerita yang belum selesai.
Semua terjadi terlalu cepat. Tidak ada ruang untuk berpikir. Tidak ada waktu untuk mempertimbangkan pilihan. Lalu beberapa detik kemudian, semuanya kembali tenang. Saya masih berdiri pada dunia yang sama. Masih diberi kesempatan untuk melanjutkan cerita seperti sebelumnya.
Tetapi sejak peristiwa itu, satu pertanyaan terus hadir dalam pikiran saya. Mengapa?
Mengapa keadaan yang terasa begitu dekat dengan kemungkinan terburuk justru berakhir dengan cara yang berbeda? Mengapa hidup kadang memberi kita kesempatan pulang, ketika secara logika keadaan seharusnya tidak sesederhana itu?
Saya mencoba mencari jawaban. Tentang keberuntungan. Tentang takdir. Tentang kesempatan kedua.
Namun semakin lama berpikir, pikiran saya justru kembali menuju satu sosok yang mungkin paling sering memikirkan keselamatan kita, bahkan ketika kita sendiri lupa memikirkan diri sendiri.
Sosok pertama yang mengenalkan kita pada dunia. Orang yang pertama kali menyebut nama kita dengan penuh cinta. Seseorang yang mungkin diam-diam selalu menyimpan kekhawatiran, bahkan ketika kita terlihat baik-baik saja.
Saya kemudian sadar, mungkin selama ini ada kekuatan yang bekerja tanpa pernah kita lihat. Bukan sesuatu yang besar dan megah. Melainkan doa-doa sederhana yang diucapkan dengan ketulusan paling murni. Menariknya, orang-orang yang paling tulus mendoakan kita sering kali tidak pernah memberitahukannya.
Mereka tidak meminta dihargai. Tidak mengingatkan bahwa mereka sedang menjaga kita dengan harapan-harapan panjang yang dipanjatkan kepada Tuhan. Mereka hanya terus melakukannya. Diam-diam. Setiap hari.
Kita hidup di zaman yang mengajarkan bahwa segala sesuatu harus masuk akal. Bahwa semua kejadian harus bisa diterangkan dengan logika. Kita terbiasa percaya pada hal-hal yang tampak.
Namun hidup terkadang memperlihatkan sisi lain. Ada perlindungan yang tidak bisa dilihat mata. Ada penjagaan yang tidak dapat disentuh tangan. Ada alasan-alasan di balik keselamatan yang tidak sepenuhnya lahir dari kemampuan diri kita sendiri.
Dan saya percaya, sebagian dari itu berasal dari seseorang yang sejak awal hidup kita tak pernah berhenti menitipkan nama kita kepada langit. Lucunya, semakin dewasa seseorang, semakin ia merasa mampu menghadapi dunia sendirian.
Kita sibuk mengejar banyak hal. Mengejar pekerjaan. Mengejar pencapaian. Mengejar masa depan. Sampai lupa bahwa di suatu tempat, ada seseorang yang masih sering menanyakan dalam diam: “Apakah hari ini semuanya baik-baik saja?”
Barangkali ada pagi ketika sebelum kita memulai aktivitas, seseorang di rumah baru saja selesai menundukkan kepala dan meminta agar langkah kita dijaga. Barangkali ada malam ketika kita tertidur lelap, seseorang justru sedang memohon agar hidup kita dijauhkan dari sesuatu yang bahkan belum kita ketahui. Dan mungkin, justru karena itulah hidup selalu menemukan caranya untuk membawa kita kembali pulang.
Hari itu mengajarkan saya bahwa tidak semua keselamatan datang dari kehati-hatian. Tidak semua perlindungan berasal dari kemampuan membaca situasi. Kadang ada sesuatu yang menjaga kita dari arah yang tidak terlihat. Ada kekuatan yang bekerja dalam bentuk paling sederhana.
Sebuah doa.
Dipanjatkan oleh seseorang yang cintanya tidak pernah meminta balasan. Seseorang yang sejak awal memilih mengutamakan hidup kita bahkan sebelum memikirkan dirinya sendiri. Maka jika hari ini kita merasa hidup berjalan baik, jika banyak keadaan buruk seolah berlalu begitu saja, mungkin ada satu hal yang sering terlupakan.
Bahwa sering kali kita tidak benar-benar berjalan sendirian. Di belakang langkah kita, ada seseorang yang terus mengetuk pintu langit. Memastikan dunia tetap memberi ruang aman bagi orang yang ia cintai. Dan mungkin, sebagian besar alasan mengapa kita masih mampu sampai sejauh ini.
Adalah karena ada doa yang tak pernah berhenti dipanjatkan oleh orang yang paling tulus mencintai kita sejak hari pertama kita hadir di dunia.
