Oleh : Dr. Nurhaningtyas Agustin
IAINUonline – “Bu, kata AI jawabannya bukan begitu.”
Kalimat itu membuat seorang guru terdiam beberapa detik di tengah pembelajaran. Di tangan seorang siswa sekolah dasar, layar ponsel kecil menampilkan jawaban dari aplikasi AI yang baru saja ia tanyakan diam-diam. Sementara di depan kelas, guru mulai merasa bahwa dunia belajar telah berubah jauh dari yang selama ini ia kenal.
Hari ini, banyak anak tidak lagi hanya bertanya kepada guru. Mereka bertanya kepada AI. Fenomena ini perlahan menjadi realitas baru dalam dunia pendidikan. Ketika guru masih sibuk mencari materi di buku atau menyiapkan pembelajaran secara konvensional, anak-anak justru sudah terbiasa mencari jawaban instan melalui teknologi.
Mulai dari tugas sekolah, arti kata, rumus matematika, hingga penjelasan IPA, semuanya kini bisa diperoleh dalam hitungan detik melalui AI. Akibatnya, posisi guru sebagai satu-satunya sumber pengetahuan mulai berubah.
Namun perubahan ini sebenarnya bukan ancaman, melainkan peringatan bahwa guru harus terus belajar mengikuti perkembangan zaman. Sebab jika guru berhenti belajar, maka jarak pengetahuan antara guru dan siswa akan semakin jauh.
Ironisnya, masih ada sebagian guru yang memandang AI sebagai musuh pendidikan. AI dianggap membuat siswa malas berpikir, suka menyalin jawaban, dan bergantung pada teknologi. Padahal masalah sebenarnya bukan pada AI, melainkan pada kesiapan dunia pendidikan menghadapi perubahan.
Anak-anak generasi sekarang lahir di tengah dunia digital. Mereka terbiasa mencari informasi dengan cepat dan bebas. Jika guru tidak memahami AI, maka guru akan kesulitan membimbing siswa menggunakan teknologi secara bijak.
Menurut teori belajar sosial dari Albert Bandura, anak belajar melalui lingkungan dan model yang mereka lihat. Dalam konteks ini, guru tetap memiliki peran penting sebagai teladan dalam menggunakan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab. Jika guru mampu menunjukkan cara menggunakan AI untuk belajar, berpikir, dan berkarya, maka siswa juga akan belajar menggunakan teknologi secara sehat.
Sebaliknya, jika guru hanya melarang tanpa memahami, siswa akan tetap menggunakan AI tetapi tanpa arahan yang benar.
Fenomena ini juga menunjukkan bahwa peran guru di era sekarang tidak lagi sekadar penyampai informasi. AI mungkin mampu memberi jawaban cepat, tetapi AI tidak mampu menggantikan empati, nilai moral, pengalaman hidup, dan sentuhan manusia dalam pendidikan.
Guru yang hebat di masa depan bukan guru yang tahu semua jawaban, melainkan guru yang mampu membimbing siswa memilah informasi, berpikir kritis, dan menggunakan teknologi secara bijaksana.
Jika dikaitkan dengan teori konstruktivisme dari Lev Vygotsky, pembelajaran terjadi melalui interaksi sosial dan pendampingan. Dalam hal ini, AI hanyalah alat bantu. Sementara guru tetap menjadi fasilitator yang membantu siswa memahami makna dari informasi yang mereka peroleh.
Karena itu, guru perlu mulai belajar AI, bukan untuk bersaing dengan teknologi, tetapi agar tidak tertinggal dari cara belajar siswa saat ini. Guru tidak harus menjadi ahli teknologi, tetapi setidaknya memahami bagaimana AI bekerja, apa manfaatnya, dan apa risikonya dalam pendidikan.
Sebab realitasnya, banyak siswa hari ini lebih cepat bertanya kepada AI daripada membuka buku atau bertanya kepada guru. Jika guru tidak hadir dalam perubahan itu, maka pendidikan akan kehilangan arah pendampingannya.
Namun di sisi lain, AI juga menjadi kesempatan besar bagi guru. Teknologi dapat membantu membuat bahan ajar, menyusun soal, mencari referensi, hingga mengembangkan pembelajaran yang lebih kreatif. AI seharusnya menjadi partner belajar, bukan ancaman profesi.
Pada akhirnya, kemajuan teknologi tidak bisa dihentikan. Anak-anak akan terus hidup berdampingan dengan AI dalam kehidupan mereka. Karena itu, guru tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga harus mampu memahami dunia tempat siswa tumbuh hari ini.
Sebab di era sekarang, guru yang berhenti belajar perlahan akan ditinggalkan, sementara guru yang mau berkembang akan tetap menjadi cahaya di tengah perubahan zaman.
