Oleh : Dr. Nurhaningtyas Agustin, M.Pd.

IAINUonline – “Bu, aku bikin cerita pakai AI.”

Seorang siswa kelas lima sekolah dasar menunjukkan tugas menulisnya dengan wajah bangga. Dalam beberapa menit, ia berhasil membuat cerita panjang lengkap dengan gambar dan judul menarik.

Guru yang melihatnya sempat kagum. Namun ketika ditanya isi ceritanya lebih dalam, anak itu justru bingung menjelaskan.

Fenomena penggunaan generative AI pada anak sekolah dasar kini mulai menjadi bagian dari kehidupan pendidikan. Anak-anak semakin mudah menggunakan AI untuk mencari jawaban, membuat tugas, menggambar, bahkan menyusun cerita.

IA (Artificial Intelligence) atau kecerdasan buatan adalah teknologi yang dirancang agar komputer dan mesin mampu meniru kemampuan intelektual manusia, seperti berpikir, belajar dari data, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan

Teknologi yang dahulu terasa rumit kini dapat diakses hanya melalui ponsel di tangan anak-anak. Di satu sisi, kehadiran AI memang memberikan banyak kemudahan. Anak bisa memperoleh informasi lebih cepat, belajar dengan cara interaktif, dan menemukan penjelasan yang lebih menarik dibanding hanya membaca buku teks.

Generative AI juga dapat membantu anak mengembangkan kreativitas, misalnya membuat gambar, ide cerita, atau simulasi pembelajaran sederhana.

Namun di sisi lain, muncul pertanyaan besar: apakah anak sekolah dasar sudah siap menggunakan AI secara bijak?

Anak usia sekolah dasar masih berada pada tahap perkembangan berpikir yang sangat penting. Mereka sedang belajar membangun rasa ingin tahu, mencoba, salah, lalu menemukan pemahaman sendiri.

Ketika semua jawaban tersedia secara instan melalui AI, ada kekhawatiran bahwa anak menjadi terlalu bergantung pada teknologi tanpa benar-benar memahami proses berpikirnya.

Jika dikaitkan dengan teori perkembangan kognitif dari Jean Piaget, anak usia SD berada pada tahap operasional konkret, yaitu fase ketika anak belajar paling baik melalui pengalaman nyata, eksplorasi, dan aktivitas langsung. Karena itu, pembelajaran seharusnya tidak hanya berisi jawaban instan, tetapi juga memberi ruang bagi anak untuk mengamati, bertanya, dan mencoba sendiri.

Masalahnya, generative AI sering membuat proses belajar menjadi terlalu cepat. Anak tinggal mengetik pertanyaan, lalu jawaban langsung muncul. Akibatnya, proses berpikir, rasa penasaran, dan usaha mencari tahu perlahan berkurang.

Ironisnya, banyak orang dewasa justru merasa bangga ketika anak kecil sudah mampu menggunakan AI. Anak dianggap cerdas karena cepat membuat tugas atau presentasi. Padahal bisa jadi yang berkembang hanya kemampuan menggunakan teknologi, bukan kemampuan berpikir kritis.

Menurut teori konstruktivisme dari Lev Vygotsky, anak belajar melalui interaksi sosial dan pendampingan. Vygotsky adalah seorang psikolog asal Rusia yang sangat terkenal lewat Teorinya mengenai Perkembangan Kognitif dan Sosiokultural. Ia meyakini bahwa proses belajar dan perkembangan intelektual anak sangat bergantung pada interaksi sosial dan lingkungan budayanya

Dalam konteks ini, AI seharusnya menjadi alat bantu belajar, bukan pengganti proses belajar itu sendiri. Anak tetap membutuhkan guru dan orang tua untuk membimbing cara menggunakan informasi secara benar.

Fenomena ini juga menjadi tantangan besar bagi guru dan orang tua. Banyak anak hari ini lebih cepat bertanya pada AI dibanding bertanya kepada guru. Jika pendidik tidak memahami teknologi ini, maka anak akan menggunakan AI tanpa arahan dan kontrol yang tepat.

Padahal generative AI memiliki risiko jika digunakan tanpa pendampingan. Anak bisa terbiasa menyalin jawaban tanpa memahami isi, kehilangan kreativitas asli, bahkan sulit membedakan informasi benar dan salah. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi kemampuan berpikir mandiri anak.

Namun bukan berarti AI harus dijauhkan dari anak sekolah dasar. Teknologi tetap dapat menjadi media belajar yang menarik jika digunakan secara tepat. Guru dapat memanfaatkan AI untuk membuat pembelajaran lebih interaktif, sedangkan orang tua dapat mendampingi anak agar tidak hanya menerima jawaban instan.

Yang paling penting adalah mengajarkan anak bahwa AI bukan pengganti otak manusia. AI hanyalah alat bantu. Anak tetap harus belajar berpikir, bertanya, berdiskusi, dan memahami dunia dengan pengalamannya sendiri.

Pada akhirnya, tantangan terbesar pendidikan hari ini bukan sekadar mengenalkan AI kepada anak, tetapi memastikan bahwa di tengah kecanggihan teknologi, anak-anak tetap tumbuh menjadi manusia yang kreatif, kritis, dan mampu berpikir secara mandiri.

Sebab pendidikan sejatinya bukan tentang siapa yang paling cepat mendapatkan jawaban, tetapi siapa yang mampu memahami makna dari proses belajar itu sendiri.

 

 

 

 

 

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *