Oleh : Dr. Nurhaningtyas Agustin, M.Pd.

IAINUonline – Di sebuah ruang kelas, seorang guru masih sibuk menulis panjang di papan tulis sementara siswa di bangku belakang diam-diam mencari jawaban melalui AI di ponsel mereka.

Ketika guru menjelaskan materi dengan metode lama, anak-anak justru sudah lebih dulu menemukan video, gambar, bahkan penjelasan interaktif dari internet.

Dunia berubah cepat, tetapi tidak semua pendidikan bergerak secepat itu. Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidik hari ini memang harus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Cara belajar anak sekarang tidak lagi sama seperti generasi sebelumnya. Jika dahulu guru menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, kini informasi tersedia di mana-mana. Anak dapat belajar dari media sosial, video digital, mesin pencari, bahkan AI dalam hitungan detik.

Akibatnya, peran pendidik tidak lagi cukup hanya menyampaikan materi.

Namun menyesuaikan zaman bukan berarti pendidik harus meninggalkan nilai-nilai pendidikan. Justru di tengah perkembangan teknologi yang semakin canggih, peran guru sebagai pembimbing karakter dan arah berpikir menjadi semakin penting.

Sayangnya, masih ada sebagian pendidik yang merasa perubahan zaman adalah ancaman. Teknologi dianggap merusak anak, AI dianggap membuat siswa malas, dan dunia digital dipandang menjauhkan pendidikan dari nilai moral.

Akibatnya, guru sering memilih bertahan pada cara lama tanpa mencoba memahami dunia yang sedang dihadapi peserta didik. Padahal anak-anak hari ini hidup di realitas yang berbeda.

Mereka tumbuh di era serba cepat, visual, dan digital. Jika pendidik tidak memahami cara belajar generasi sekarang, maka pembelajaran akan terasa jauh dari kehidupan siswa.

Jika dikaitkan dengan teori konstruktivisme dari Lev Vygotsky, pembelajaran terjadi melalui interaksi sosial dan lingkungan budaya tempat anak berkembang. Artinya, pendidikan harus mampu menyesuaikan konteks zaman agar tetap relevan dengan kehidupan peserta didik.

Lev Vygotsky adalah seorang psikolog asal Rusia yang dikenal atas kontribusinya dalam teori perkembangan anak. Salah satu hasil kerjanya yang dikenal di bidang psikologi anak adalah merumuskan konsep “zone of proximal development”

Namun penyesuaian zaman bukan berarti pendidikan harus kehilangan arah. Guru tetap memiliki tugas penting membangun nilai, etika, empati, dan cara berpikir kritis. AI mungkin mampu memberi jawaban cepat, tetapi AI tidak mampu menggantikan keteladanan manusia.

Menurut teori pendidikan progresif dari John Dewey, pendidikan harus selalu terhubung dengan kehidupan nyata dan perubahan masyarakat. Karena itu, sekolah tidak boleh berjalan terpisah dari perkembangan dunia. Pendidikan harus hidup, bergerak, dan berkembang mengikuti kebutuhan zaman.

Ironisnya, banyak pembelajaran masih terlalu fokus pada hafalan dan administrasi, sementara dunia luar sudah berubah menjadi ruang kreatif dan digital. Anak akhirnya merasa sekolah tertinggal dibanding realitas yang mereka temui setiap hari.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa pendidik tidak bisa hanya mengandalkan pengalaman lama. Guru juga harus terus belajar. Bukan untuk menjadi manusia sempurna, tetapi agar tetap mampu memahami generasi yang sedang mereka didik.

Guru masa depan bukan guru yang tahu semua jawaban, melainkan guru yang mampu mengarahkan siswa menghadapi banjir informasi dengan bijak. Guru yang mampu berdialog dengan zaman tanpa kehilangan nilai kemanusiaan.

Karena sesungguhnya, teknologi akan terus berkembang. Tetapi kebutuhan anak terhadap sosok pendidik yang memahami, membimbing, dan menginspirasi tidak akan pernah hilang.

Pada akhirnya, pendidik memang harus menyesuaikan zaman. Namun yang lebih penting, pendidik juga harus memastikan bahwa di tengah perubahan dunia yang begitu cepat, pendidikan tetap menjadi tempat tumbuhnya akhlak, cara berpikir, dan kemanusiaan.

 

 

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *