IAINUonline – Universitas Nahdlatul Ulama Makhdum Ibrahim (UNUMA) Tuban menempatkan pembentukan karakter sebagai salah satu bagian penting dalam rangkaian Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK).
Salah satunya melalui pemberian materi Moderasi Beragama dan Bela Negara bagi Generasi Muda yang disampaikan melalui Griya Moderasi Beragama dan Bela Negara UNUMA Tuban. Materi ini disampaikan langsung Moh. Arvani Zakky A1 Kamil, S.Psi., M.Psi, Ketua Griya Moderasi Beragama dan Bela Negara UNUMA Tuban.
Materi tersebut menjadi bagian awal PBAK untuk mempersiapkan mahasiswa baru agar tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga tumbuh sebagai generasi muda yang moderat, memiliki kepedulian terhadap kehidupan sosial, serta mempunyai jiwa kebangsaan yang kuat.
Melalui materi ini, mahasiswa diajak memahami bahwa menjadi generasi muda di era digital tidak cukup hanya dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Mahasiswa juga dituntut memiliki kemampuan menyikapi perbedaan, menjaga toleransi, memahami keberagaman, serta mampu menghadapi berbagai bentuk ancaman yang berkembang di masyarakat.
Dalam materi Moderasi Beragama, mahasiswa diperkenalkan dengan pentingnya memahami agama secara seimbang dalam kehidupan sehari-hari. Moderasi beragama ditekankan sebagai sikap untuk menjalankan keyakinan secara baik tanpa kehilangan penghormatan terhadap orang lain yang memiliki perbedaan.
Mahasiswa juga diajak membedakan antara agama dan cara beragama. Pemahaman agama bersumber dari ajaran yang diyakini, sedangkan cara beragama merupakan pemahaman manusia dalam menjalankan ajaran tersebut.
Arvani kemudian mengajak mahasiswa mengenali batasan sikap ekstrem dalam beragama. Setidaknya terdapat tiga indikator utama yang dibahas, yakni tindakan yang dapat melanggar nilai kemanusiaan, melanggar kesepakatan bersama, serta melanggar ketertiban umum.
Pesan tersebut menjadi penting bagi mahasiswa baru karena lingkungan kampus merupakan ruang perjumpaan berbagai latar belakang. Perbedaan pemikiran, tradisi, organisasi, maupun cara pandang merupakan bagian dari dinamika kehidupan akademik yang harus dihadapi dengan kedewasaan.
Tidak berhenti pada teori, mahasiswa juga diajak melakukan klarifikasi terhadap berbagai miskonsepsi tentang moderasi beragama. Pendekatan tersebut membuat peserta tidak hanya menerima materi secara satu arah, tetapi didorong untuk berpikir kritis terhadap persoalan yang muncul dalam kehidupan nyata.
Peserta juga diperkenalkan dengan konsep bela negara di era modern. Bela negara tidak hanya dipahami dalam konteks pertahanan negara secara konvensional. Di tengah perubahan zaman, bentuk ancaman juga mengalami pergeseran. Ancaman dapat hadir melalui ruang digital, informasi, ekonomi, sosial, maupun berbagai bentuk infiltrasi pemikiran.
Karena itu, generasi muda memiliki posisi strategis dalam menjaga ketahanan bangsa. Materi menyebut generasi muda sebagai penerus bangsa sekaligus kelompok yang sangat dekat dengan perkembangan teknologi. Bahkan, generasi muda memiliki peran sebagai pengguna sekaligus pendorong perubahan dalam masyarakat.
Salah satu tantangan yang mendapat perhatian adalah dunia siber. Media digital dapat menjadi ruang produktif untuk belajar, berkomunikasi dan berkarya, tetapi juga dapat menjadi medium penyebaran hoaks, disinformasi, propaganda, hingga paham ekstremisme.
Karena mahasiswa karena itu didorong menjadi “pahlawan digital”, yakni generasi yang mampu menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, tidak mudah terprovokasi informasi, serta ikut menjaga ruang digital agar tetap sehat dan manusiawi.
Menurut Arvani, moderasi beragama dan bela negara pada dasarnya memiliki titik temu pada upaya menjaga kehidupan bersama. Sikap beragama yang moderat mendorong seseorang untuk menghormati perbedaan, sementara bela negara menumbuhkan kepedulian terhadap bangsa dan negara.
Mahasiswa diajak memahami bahwa keberagaman bukan alasan untuk saling menjauh, melainkan modal sosial yang harus dirawat. Dalam konteks kehidupan kampus, nilai tersebut dapat diwujudkan melalui sikap saling menghargai, tidak melakukan diskriminasi, membangun dialog, menjaga persatuan, serta berani mengambil sikap terhadap tindakan yang merusak kemanusiaan dan kehidupan bersama.
Agar materi tidak berhenti sebagai teori, sesi tersebut juga dilengkapi dengan studi kasus dan diskusi. Peserta diajak menguji pemahaman mereka melalui sejumlah persoalan yang dekat dengan realitas kehidupan generasi muda.
Di antaranya kasus mengenai batas antara toleransi dan sikap berlebihan, persoalan “jihad” di dunia siber, intoleransi di lingkungan pendidikan, hingga pentingnya menjaga ekosistem kampus yang inklusif. Pendekatan berbasis studi kasus tersebut memberi ruang kepada mahasiswa untuk menyampaikan pendapat sekaligus belajar melihat persoalan dari berbagai perspektif.
Bagi mahasiswa baru UNUMA Tuban, pengalaman tersebut menjadi bekal awal untuk memasuki kehidupan akademik yang penuh dengan perbedaan pemikiran dan latar belakang. Pemberian materi Moderasi Beragama dan Bela Negara dalam PBAK menunjukkan bahwa proses pengenalan mahasiswa baru tidak hanya diarahkan pada pengenalan sistem akademik dan lingkungan kampus. PBAK menjadi titik awal untuk membangun karakter mahasiswa.
