IAINUonline – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IAINU Tuban menyelenggarakan Dialog Mahasiswa dengan mengusung tema “Moderasi Beragama di Era Digital: Membangun Nalar Kritis Gen Z, Memperkuat Toleransi, dan Merawat Harmoni Kebangsaan.” Acara digelar di Gedung KH.Hasyim Asy’ari IAINU Tuban, Kamis (20/8/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang dialog bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan mengenai keberagaman agama, membangun sikap kritis dalam menghadapi arus informasi digital, serta memperkuat semangat toleransi dan persatuan di tengah masyarakat yang majemuk.
Acara dihadiri oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tuban, Hj. Umi Kulsum, S.Ag., M.Pd.I., serta menghadirkan tiga narasumber dari latar belakang agama yang berbeda.
Narasumber pertama Qitbatin Nisa’, S.Pd., S.H. sebagai pemateri dari perspektif Islam, narasumber kedua Andress Parmenas C. yang menyampaikan perspektif Kristen, dan narasumber ketiga Maria Listra Fransisca yang menyampaikan perspektif Konghucu. Dialog dipandu moderator Fima Nirsalnia Salma.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk komitmen mahasiswa dalam menghadirkan ruang diskusi yang inklusif, terbuka, dan konstruktif.
Di tengah perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat, mahasiswa sebagai bagian dari generasi Z tidak hanya dituntut untuk mampu mengakses informasi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk memilah, mengkritisi, dan memverifikasi berbagai informasi yang beredar, khususnya informasi yang berkaitan dengan isu agama dan kehidupan sosial.
Dalam dialog tersebut, para narasumber menyampaikan pandangan dari perspektif agama masing-masing mengenai pentingnya moderasi beragama.
Moderasi beragama tidak dipahami sebagai upaya mencampuradukkan ajaran agama, melainkan sebagai sikap dalam menjalankan keyakinan secara proporsional sekaligus menghormati keberadaan orang lain yang memiliki keyakinan berbeda.
Perbedaan agama dan keyakinan menjadi realitas kehidupan bangsa Indonesia yang perlu dikelola dengan sikap saling menghormati dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.
Pembahasan juga menyoroti tantangan yang dihadapi generasi Z di era digital. Media sosial memberikan ruang yang luas bagi masyarakat untuk memperoleh dan menyebarkan informasi, tetapi pada saat yang sama juga dapat menjadi tempat berkembangnya misinformasi, ujaran kebencian, provokasi, maupun narasi yang berpotensi memperlebar perbedaan.
Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan tidak mudah menerima informasi secara mentah, tetapi mampu membangun nalar kritis, melakukan verifikasi terhadap sumber informasi, serta menghindari penyebaran konten yang dapat memicu konflik antarumat beragama.
Dialog tidak hanya menjadi forum penyampaian materi, tetapi juga menjadi ruang untuk memperlihatkan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan ketika dibangun melalui komunikasi, saling memahami, dan sikap menghargai.
Perbedaan perspektif yang muncul justru memperkaya pemahaman mahasiswa mengenai pentingnya hidup berdampingan dalam bingkai kebangsaan.
Sementara, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tuban, Hj. Umi Kulsum, S.Ag., M.Pd.I., turut memberikan perhatian terhadap pentingnya penguatan moderasi beragama di kalangan generasi muda.
Kehadiran beliau menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan sinergi antara mahasiswa, perguruan tinggi, dan lembaga pemerintah dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis dan toleran.
Bagi BEM IAINU Tuban, kegiatan ini diharapkan tidak berhenti sebagai forum diskusi semata. Nilai-nilai yang diperoleh melalui dialog diharapkan dapat diterapkan mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan kampus, masyarakat, maupun ruang digital.
Mahasiswa diharapkan mampu menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang dalam menyikapi perbedaan, bijak dalam bermedia sosial, dan memiliki kepedulian terhadap persatuan bangsa.
Melalui kegiatan Dialog Mahasiswa ini, BEM IAINU Tuban menegaskan bahwa keberagaman bukan alasan untuk saling menjauh, melainkan kesempatan untuk saling mengenal dan memahami.
Moderasi beragama menjadi salah satu jalan untuk merawat ruang kebangsaan agar tetap menjadi tempat yang aman bagi setiap warga untuk menjalankan keyakinannya sekaligus hidup berdampingan dengan sesama.
Kegiatan ditutup dengan sesi dialog dan tanya jawab antara mahasiswa dengan para narasumber. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa isu moderasi beragama, toleransi, keberagaman, dan literasi digital masih menjadi pembahasan yang relevan dan penting bagi generasi muda.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, BEM IAINU Tuban berharap semangat moderasi, toleransi, dan persaudaraan dapat terus tumbuh di lingkungan mahasiswa.
Dari ruang dialog yang sederhana, diharapkan lahir kesadaran bersama bahwa menjaga harmoni kebangsaan merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda sebagai penerus bangsa.
