IAINUonline – Agama dan kebudayaan harus dipahami secara mendalam agar bisa memosisikan masing-masing dalam porsi yang seharusnya. Namun, dalam keseharian, menerjemahkan atau mengejawantahkan nilai atau idiom-idiom agama dalam kebudayaan sering terjadi perbedaan, bahkan konflik.
Maka dibutuhkan pemahaman yang lebih mendalam atas agama agar menemukan esensi dari sebuah agama yang dalam praktiknya tidak bertentangan, bahkan selaras dengan kebudayaan yang sudah mendarah daging pada kehidupan masyarakat.
Hal itulah di antaranya yang mengemuka dalam program Visiting Professor yang digelar Griya Moderasi Beragama dan Bela Negara Universitas Nahdlatul Ulama Makhdum Ibrahim (UNUMA) Tuban, Sabtu (10/10/2026). Selain para pengurus Griya Moderasi Beragama dan Bela Negara, kegiatan yang dikemas dalam stadium general ini juga diikuti para mahasiswa pascasarjana UNUMA.
Profesor Ahmad Barizi, Guru Besar Ilmu Tasawuf dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang yang hadir sebagai narasumber mengajak peserta untuk membuka cakrawala pikir yang lebih luas. Dengan tema diskusi ‘Islam Rahmatan lil ‘Alamin di Era Disrupsi Digital’ Prof Barizi membeber fakta bahwa saat ini otoritas kebenaran sudah bergeser.
‘’ Di era digital ini terjadi paradok, otoritas keberanaran kalau dulu ada pada kiai, pendeta, pastur atau tokoh agama lainnya, saat ini tergantung pada siapa yang viral, inikan luar biasa,’’ ujarnya.
Karena itu, masyarakat harus waspada dan bisa menyaring segala informasi yang masuk, dan tidak langsung menjadikannya sebuah kebenaran. Terlebih misalnya soal fatwa atau hukum terkait agama yang banyak bertebaran di dunia digital yang tanpa sanad jelas.
‘’Itu bisa merusak tatanan dalam interaksi atau hubungan sosial dalam masyarakat,’’ jelasnya.
Menurutnya, dalam moderasi beragama mestinya tidak hanya saling toleransi antaragama, toleransi pada pemeluk agama lain. Namun, harus lebih dalam lagi, misalnya sampai memahami pengalaman batin pada ritual atau ibadah masing-masing agama.
‘’Kalau ingin memahami orang lain, maka kita ibaratnya harus menanggalkan baju atau yang kita sandang lebih dulu. Bukan kita harus masuk ke agama lain, namun faham nilai-nilainya, sampai pada suasana batinnya,’’ tandas Prof Barizi.

Sebelumnya, Rektor UNUMA Prof DR. M.Syamsul Huda, M.Fil.I saat membuka kegiatan memantik pemikiran dengan menyebut bagaimana fenomena-fenomena yang terjadi di Indonesia terkait toleransi.
Disebutkan, banyak kejadian bullying bahkan kekerasan karena terjadi tidak saling menghargai di antara umat manusia yang majemuk. Karena itu di Indonesia yang banyak ragam budaya dan tradisinya, harus terus dikembangkan sikap bagaimana saling bekerja sama dan menghargai.
‘’Harus ada dialog dan pemahaman tentang agama dan budaya. Termasuk moderasi beragama itu penting,’’ jelasnya.
Prof Syamsul menyebut salah satu konflik yang pernah terjadi adalah konflik yang melibatkan etnis Kalimantan dan Madura. Padahal, setelah ditelusuri, pangkal konflik sebenarnya karena terjadinya pemahaman budaya yang tidak tuntas. Ketika terjadi persoalan, tidak ada dialog yang mendalam, sehingga persoalan yang semula kecil berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
‘’Maka budaya juga harus dipahami, harus ada dialog di sana. Moderasi beragama bukan hanya antaragama, tapi juga toleransi dan memahami tentang budaya lain,’’ katanya.
Sementara, Arvani Zakky al Al Kamil Ketua Griya Moderasi Beragama dan Bela Negara UNUMA menambahkan, program Visiting Professor Moderasi Beragama menjadi batu pijakan penting bagi UNUMA untuk menegaskan posisinya sebagai kampus nasional berjiwa global yang berkomitmen merawat kebhinekaan dan menanamkan nilai-nilai kebangsaan.
