Oleh : Nurhaningtyas Agustin, M.Pd

IAINUonline – Di sebuah pusat perbelanjaan, seorang anak kecil menangis keras karena tidak dibelikan mainan. Ia berguling di lantai sambil berteriak meminta sesuatu yang diinginkannya.

Orang-orang mulai menoleh. Sang ibu yang awalnya mencoba menenangkan akhirnya menyerah. Mainan itu pun dibeli agar anak berhenti menangis.

“Namanya juga anak kecil,” kata seseorang sambil tersenyum.

Kalimat seperti itu sering terdengar dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang tua menganggap memanjakan anak adalah bentuk kasih sayang yang wajar. Anak dituruti semua keinginannya, dibela ketika salah, bahkan dijauhkan dari rasa kecewa agar tidak menangis. Perlahan, sikap memanjakan anak menjadi sesuatu yang dinormalisasi dalam pola pengasuhan modern.

Di satu sisi, tentu setiap orang tua ingin melihat anak bahagia. Memberikan perhatian, kenyamanan, dan kasih sayang memang penting bagi perkembangan anak. Namun masalah muncul ketika kasih sayang berubah menjadi sikap yang selalu menuruti semua keinginan anak tanpa batas.

Tidak sedikit orang tua merasa bersalah jika anak kecewa. Akibatnya, anak jarang belajar tentang aturan, kesabaran, atau tanggung jawab. Ketika anak marah, orang tua memilih mengalah.

Ketika anak malas membereskan mainan, orang tua yang membereskan. Bahkan ada anak yang sudah cukup besar tetapi masih terlalu bergantung pada orang tua untuk hal-hal sederhana.

Jika dikaitkan dengan teori pola asuh dari Diana Baumrind, sikap terlalu memanjakan termasuk dalam pola asuh permisif, yaitu pola pengasuhan yang penuh kasih sayang tetapi minim batasan dan kontrol.

Anak yang tumbuh dalam pola asuh seperti ini cenderung kesulitan mengatur diri, mudah menuntut, dan kurang mandiri karena terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan. Ironisnya, banyak orang tua menganggap perilaku tersebut sebagai tanda cinta.

Padahal cinta tidak selalu berarti memenuhi semua keinginan anak. Dalam kehidupan nyata, anak juga perlu belajar menerima penolakan, menghadapi rasa kecewa, dan memahami bahwa tidak semua hal bisa dimiliki dengan mudah. Fenomena ini semakin terlihat di era sekarang. Banyak orang tua takut dianggap tidak sayang jika terlalu tegas kepada anak. Akibatnya, batas antara kasih sayang dan memanjakan menjadi kabur. Anak akhirnya tumbuh dalam lingkungan yang selalu mengutamakan kenyamanannya sendiri.

Menurut teori perkembangan psikososial dari Erik Erikson, anak perlu belajar mandiri dan bertanggung jawab sejak dini. Ketika semua kebutuhan selalu dipenuhi tanpa usaha, anak berisiko tumbuh kurang percaya diri dalam menghadapi tantangan karena terbiasa bergantung pada orang lain.

Selain itu, teori belajar sosial dari Albert Bandura menjelaskan bahwa anak belajar dari lingkungan di sekitarnya. Ketika anak terbiasa melihat orang tua selalu mengalah dan memenuhi semua keinginannya, mereka akan menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang normal.

Akibatnya, anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang sulit menerima aturan dan kurang memiliki empati terhadap orang lain. Padahal mendidik anak bukan hanya tentang membuat mereka bahagia hari ini, tetapi juga mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan di masa depan.

Dunia tidak selalu menuruti keinginan seseorang. Karena itu, anak perlu dikenalkan pada disiplin, tanggung jawab, dan batasan sejak kecil. Bukan berarti orang tua harus keras atau kaku kepada anak.

Anak tetap membutuhkan kasih sayang, perhatian, dan dukungan emosional. Namun kasih sayang yang sehat adalah kasih sayang yang membantu anak tumbuh mandiri, bukan membuat mereka bergantung selamanya.

Pada akhirnya, memanjakan anak mungkin terlihat sebagai bentuk cinta yang sederhana. Tetapi jika terus dinormalisasi tanpa batas, hal itu justru dapat merampas kesempatan anak untuk belajar menjadi pribadi yang kuat, mandiri, dan siap menghadapi kehidupan nyata.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *