Oleh : Nuhaningtyas Agustin, M.Pd
IAINUonline – Pagi itu halaman sebuah Sekolah Dasar Islam Terpadu dipenuhi mobil dan sepeda motor para orang tua yang mengantar anak-anak mereka. Seragam siswa tampak rapi, guru-guru berdiri di gerbang menyambut dengan senyum dan salam, sementara lantunan murajaah Al-Qur’an terdengar dari ruang kelas.
Di sudut lain, beberapa orang tua rela mengantre hanya untuk mengambil formulir pendaftaran tahun ajaran baru. Padahal biaya masuk sekolah itu mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah. Fenomena ini sering menimbulkan pertanyaan di masyarakat: mengapa sekolah mahal justru semakin diminati?
Dahulu, sekolah favorit identik dengan sekolah negeri karena dianggap lebih murah dan berkualitas. Namun kini keadaan mulai berubah. Banyak orang tua rela mengeluarkan biaya besar demi mendapatkan sekolah yang dianggap mampu memberikan pendidikan terbaik bagi anak mereka. Dalam konteks ini, sekolah bukan lagi sekadar tempat belajar akademik, tetapi juga investasi masa depan.
Sekolah-sekolah seperti SDIT berkembang bukan hanya karena fasilitasnya bagus, tetapi karena mampu menjual kepercayaan. Orang tua merasa sekolah tersebut dapat memberikan kombinasi antara pendidikan akademik, pendidikan agama, pembentukan karakter, kedisiplinan, dan lingkungan sosial yang baik. Banyak keluarga percaya bahwa lingkungan sekolah akan sangat menentukan tumbuh kembang anak di masa depan. Seorang ibu pernah berkata, “Saya rela bekerja lebih keras asalkan anak saya sekolah di tempat yang lingkungannya baik.”
Kalimat sederhana itu sebenarnya menggambarkan perubahan cara pandang masyarakat terhadap pendidikan. Orang tua masa kini tidak hanya mempertimbangkan biaya murah, tetapi juga kualitas layanan dan nilai yang diperoleh anak.
Jika dikaitkan dengan teori hierarki kebutuhan dari Abraham Maslow, masyarakat kelas menengah saat ini tidak lagi hanya berfokus pada kebutuhan dasar pendidikan, tetapi juga kebutuhan rasa aman, penghargaan, dan aktualisasi diri bagi anak-anak mereka.
Sekolah mahal sering dipersepsikan mampu memberikan rasa aman melalui lingkungan yang terkontrol, pembinaan karakter, serta fasilitas yang mendukung perkembangan siswa.
Selain itu, teori modal budaya dari Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa pendidikan sering menjadi simbol status sosial dan identitas budaya. Banyak orang tua memilih sekolah tertentu bukan hanya karena kualitas akademik, tetapi juga karena lingkungan sosial yang dianggap lebih baik.
Sekolah mahal kemudian menjadi bagian dari gaya hidup sekaligus simbol keberhasilan keluarga. Fenomena ini terlihat jelas pada tren sekolah Islam terpadu. SDIT misalnya, berhasil menarik perhatian masyarakat karena menawarkan konsep pendidikan yang dianggap lengkap.
Anak tidak hanya diajarkan matematika dan sains, tetapi juga tahfidz, adab, pembiasaan ibadah, hingga pendidikan karakter Islami. Ditambah lagi dengan pendekatan pelayanan yang profesional, komunikasi intens dengan orang tua, serta branding sekolah yang kuat.
Dalam perspektif teori belajar sosial Albert Bandura, lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan perilaku anak. Banyak orang tua percaya bahwa lingkungan sekolah yang disiplin, religius, dan positif akan membantu membentuk karakter anak menjadi lebih baik.
Karena itu, mereka rela membayar mahal demi memastikan anak tumbuh di lingkungan yang dianggap sehat secara moral maupun sosial.
Namun fenomena ini juga menghadirkan ironi tersendiri. Pendidikan yang seharusnya menjadi hak semua anak perlahan berubah menjadi arena persaingan sosial. Sekolah mahal sering kali identik dengan kualitas yang lebih baik, sementara sekolah murah dipandang sebelah mata.
Akibatnya, muncul kesenjangan pendidikan antara kelompok masyarakat tertentu. Padahal sejatinya kualitas pendidikan tidak selalu ditentukan oleh mahalnya biaya sekolah.
Banyak sekolah sederhana yang mampu melahirkan siswa berprestasi karena memiliki guru yang berdedikasi dan budaya belajar yang kuat. Sebaliknya, sekolah mahal pun belum tentu berhasil jika hanya mengandalkan fasilitas tanpa membangun nilai dan keteladanan.
Karena itu, fenomena tingginya minat terhadap sekolah mahal seperti SDIT seharusnya menjadi refleksi bagi semua lembaga pendidikan. Masyarakat sebenarnya sedang mencari sekolah yang mampu memberikan rasa percaya, keamanan, pendidikan karakter, dan perhatian terhadap perkembangan anak secara menyeluruh.
Sekolah yang mampu menjawab kebutuhan tersebut akan tetap diminati, berapa pun biayanya. Pada akhirnya, orang tua tidak sedang membeli gedung mewah atau seragam mahal. Mereka sedang membeli harapan tentang masa depan anak-anak mereka.
