Oleh : Nurhaningtyas Agustin, M.Pd

IAINUonline – Di sebuah acara keluarga, seorang ibu tersenyum bangga ketika anaknya yang masih berusia empat tahun diminta maju ke depan tamu-tamu. Dengan suara lantang, anak itu mampu menghafal huruf, angka, bahkan beberapa kosakata bahasa Inggris. Semua orang bertepuk tangan kagum.

“Hebat sekali, masih kecil sudah pintar membaca,” puji salah satu kerabat. Sementara di halaman rumah, beberapa anak lain seusianya berlarian mengejar gelembung sabun sambil tertawa lepas. Namun permainan mereka nyaris tidak mendapat perhatian siapa pun. Dalam banyak pandangan orang dewasa, anak yang cepat menghafal dan membaca sering dianggap lebih pintar dibanding anak yang masih senang bermain.

Fenomena ini semakin sering terlihat di masyarakat. Banyak orang tua merasa bangga jika anak usia dini sudah lancar membaca, cepat menghafal doa, atau mampu mengikuti pelajaran akademik lebih awal.

Sebaliknya, anak yang lebih banyak bermain sering dianggap kurang serius belajar atau tertinggal dibanding teman-temannya.  Padahal bagi anak usia dini, bermain bukan sekadar aktivitas mengisi waktu. Bermain adalah cara anak belajar mengenal dunia. Saat bermain pasir, anak belajar tekstur dan kreativitas. Saat bermain bersama teman, anak belajar berbagi dan bekerja sama. Saat berlari dan tertawa, anak belajar mengelola emosi dan membangun rasa percaya diri.

Jika dikaitkan dengan teori perkembangan kognitif dari Jean Piaget, anak usia dini belajar paling baik melalui pengalaman konkret dan aktivitas bermain. Pada tahap ini, anak belum sepenuhnya siap menerima tekanan akademik yang terlalu berat.

Karena itu, bermain justru menjadi fondasi penting bagi perkembangan berpikir, bahasa, sosial, dan emosional anak. Namun masyarakat sering kali memiliki standar kecerdasan yang sempit.

Anak dianggap pintar jika cepat membaca, cepat menulis, dan banyak hafalan. Akibatnya, orang tua berlomba memasukkan anak ke les membaca, les berhitung, bahkan target hafalan sejak usia sangat kecil. Tidak sedikit masa bermain anak akhirnya tergeser oleh jadwal belajar yang padat.

Di sisi lain, media sosial turut memperkuat fenomena ini. Video anak kecil lancar membaca atau menghafal sering viral dan menuai pujian. Orang tua kemudian merasa terdorong menunjukkan kemampuan anak sebagai bentuk kebanggaan. Tanpa disadari, anak perlahan diposisikan sebagai simbol keberhasilan pengasuhan.

Menurut teori multiple intelligences dari Howard Gardner, kecerdasan anak tidak hanya diukur dari kemampuan akademik atau hafalan. Ada anak yang cerdas dalam seni, gerak tubuh, sosial, musik, maupun kemampuan memahami emosi orang lain.

Sayangnya, kemampuan-kemampuan tersebut sering kalah dihargai dibanding kemampuan membaca lebih cepat. Fenomena ini membuat banyak orang tua lupa bahwa setiap anak memiliki waktu tumbuh yang berbeda.

Ada anak yang cepat membaca, ada yang lebih unggul dalam kreativitas atau komunikasi. Ketika anak terlalu dipaksa mengejar kemampuan akademik dini, mereka justru berisiko kehilangan rasa senang dalam belajar.

Padahal anak kecil tidak membutuhkan tekanan untuk terlihat pintar di mata orang dewasa. Mereka membutuhkan ruang untuk bermain, bereksplorasi, bertanya, bergerak, dan tumbuh secara alami.

Anak yang bahagia bermain sebenarnya juga sedang belajar banyak hal penting yang tidak selalu terlihat dalam angka atau piala. Karena itu, sudah saatnya masyarakat mengubah cara pandang tentang kecerdasan anak usia dini.

Anak yang aktif bermain bukan berarti kurang pintar. Bisa jadi justru melalui permainan itulah mereka sedang membangun kreativitas, keberanian, kemampuan sosial, dan fondasi kehidupan yang jauh lebih penting di masa depan.

Pada akhirnya, masa kecil bukan perlombaan siapa paling cepat membaca atau paling banyak hafalan. Masa kecil adalah waktu terbaik bagi anak untuk tumbuh dengan bahagia, mengenal dunia dengan rasa ingin tahu, dan menikmati proses belajar tanpa tekanan menjadi “anak paling pintar.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *