Oleh : Nurhaningtyas Agustin

IAINUonline – “Anak-anak, gaya adalah tarikan atau dorongan. Catat lalu hafalkan.”  Kalimat itu masih sering terdengar dalam pembelajaran IPA di sekolah. Siswa duduk rapi, mencatat definisi dari papan tulis, lalu menghafalnya untuk ulangan minggu depan.

Ketika ujian tiba, mereka mampu menjawab soal pilihan ganda dengan baik. Namun saat ditanya mengapa sepeda bisa berhenti ketika direm atau mengapa balon dapat terbang tertiup angin, banyak siswa justru bingung menjelaskan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pembelajaran IPA selama ini masih lebih dekat dengan LOTS (Lower Order Thinking Skills) dibanding HOTS (Higher Order Thinking Skills).

LOTS adalah kemampuan berpikir tingkat rendah seperti mengingat, menyebutkan, atau memahami informasi dasar. Sementara HOTS menuntut siswa mampu menganalisis, mengevaluasi, memecahkan masalah, dan menghubungkan konsep dengan kehidupan nyata.

Dalam IPA, HOTS seharusnya menjadi inti pembelajaran karena sains bukan sekadar hafalan konsep, tetapi cara berpikir ilmiah.  Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak pembelajaran IPA masih berorientasi pada jawaban benar dan nilai ujian.

Guru sering lebih fokus menyelesaikan materi daripada melatih rasa ingin tahu siswa. Akibatnya, siswa terbiasa menghafal definisi tetapi kurang terlatih bertanya, menyelidiki, dan berpikir kritis.

Ironisnya, soal-soal yang dianggap “sulit” dalam IPA sering kali hanya soal hafalan yang dipersulit bahasanya. Padahal HOTS bukan tentang soal rumit, melainkan kemampuan menggunakan pengetahuan untuk memahami dan menyelesaikan masalah nyata.

Jika dikaitkan dengan taksonomi Bloom revisi dari Benjamin Bloom, LOTS berada pada level mengingat, memahami, dan menerapkan sederhana. Sedangkan HOTS berada pada level menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.

Sayangnya, banyak pembelajaran IPA masih berhenti pada tahap menghafal konsep tanpa membawa siswa menuju proses berpikir tingkat tinggi.  Contohnya terlihat sederhana. Siswa mungkin hafal bahwa tumbuhan membutuhkan cahaya matahari untuk fotosintesis. Namun ketika diminta menjelaskan mengapa tanaman di dalam rumah tumbuh lebih lambat dibanding di luar rumah, mereka kesulitan menjawab.

Ini menunjukkan bahwa pemahaman konseptual dan kemampuan analisis siswa belum benar-benar berkembang. Fenomena ini terjadi karena pembelajaran IPA masih terlalu berpusat pada guru dan buku teks.

Guru menjelaskan, siswa mencatat, lalu mengerjakan soal. Eksperimen, diskusi, dan eksplorasi sering kali minim dilakukan karena keterbatasan waktu atau tuntutan menyelesaikan kurikulum.

Padahal menurut teori konstruktivisme dari Jean Piaget, anak membangun pemahaman melalui pengalaman dan proses berpikir aktif. Dalam konteks IPA, siswa seharusnya diberi kesempatan mengamati, mencoba, bertanya, dan menyimpulkan sendiri konsep sains.

Selain itu, Jerome Bruner melalui teori discovery learning menekankan bahwa pembelajaran akan lebih bermakna jika siswa menemukan sendiri pengetahuan melalui eksplorasi.

Artinya, pembelajaran IPA yang terlalu menekankan hafalan justru bertentangan dengan hakikat sains itu sendiri. Meski demikian, LOTS sebenarnya tetap diperlukan sebagai dasar.

Siswa tentu perlu mengetahui konsep dasar sebelum mampu berpikir tingkat tinggi. Masalahnya, pembelajaran IPA sering berhenti di tahap dasar dan tidak dilanjutkan menuju proses analisis serta pemecahan masalah.

Akibatnya, banyak siswa mendapatkan nilai IPA tinggi tetapi kurang memiliki literasi sains dalam kehidupan sehari-hari. Mereka hafal teori, tetapi kesulitan menjelaskan fenomena sederhana di sekitar mereka. IPA akhirnya terasa hanya sebagai pelajaran sekolah, bukan alat memahami dunia.

Karena itu, pembelajaran IPA seharusnya mulai bergeser dari budaya hafalan menuju budaya berpikir. Guru perlu memberi ruang bagi siswa untuk bertanya, berdiskusi, bereksperimen, bahkan melakukan kesalahan dalam proses belajar. Sebab inti dari IPA bukan sekadar menemukan jawaban benar, tetapi melatih cara berpikir ilmiah.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar dalam pembelajaran IPA bukan lagi “berapa nilai siswa?”, melainkan “apakah siswa mampu berpikir?” Karena masa depan pendidikan tidak membutuhkan anak yang hanya pandai menghafal jawaban, tetapi generasi yang mampu memahami, menganalisis, dan memecahkan persoalan kehidupan secara ilmiah.

 

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *