Oleh : Irfa’i Alfian Mubaidilla

IAINUonline – Dulu, waktu kita masih duduk di bangku sekolah, ada sosok yang selalu kita percaya, tanpa banyak tanya. Apa yang dikatakan, bagi kita adalah kebenaran. Apa yang dilakukan, tanpa ragu kita ikuti.

Dengan nada bicara, dengan tulisan di papan, sampai cara berjalan, bagi kita semua ada maknanya. Dari hal itulah, muncul ungkapan sederhana yang hidup dalam keseharian kita, yaitu Guru, Digugu dan Ditiru.

Seiring berjalannya waktu, makna itu pelan-pelan terkikis. Dunia dengan teknologi yang berkembang cepat. Informasi tidak lagi datang dari guru di kelas, tapi hadir lewat layar kecil yang mereka genggam.

Mereka hari ini bisa belajar dari video, media sosial dan kecerdasan buatan/ AI. Tantangan kita sebagai guru adalah bagaimana kita mampu mempertahankan posisi kita di tengah perubahan zaman ini.

Menjadi guru hari ini sangat jelas berbeda dengan zaman dulu. Jika dulu cukup dengan menguasai materi dan menyampaikan di kelas, sekarang tidak cukup. Guru harus bisa adaptasi dengan menjadi fasilitator, motivator, bahkan teman diskusi bagi mereka.

Dunia pendidikan tidak lagi satu arah karena siswa lebih kritis, lebih berani bertanya atau menyampaikan pendapat dan bahkan mengoreksi lingkungan sekitarnya.

Menjadi sosok guru yang digugu, guru harus tetap kredibel. Bukan hanya soal pengetahuan, tetapi sikap dan integritas dalam kelas. Siswa mungkin bisa menemukan jawaban matematika di internet dengan cepat, tetapi mereka tidak bisa menemukan keteladanan di sana. Keteladanan hanya bisa mereka liat dari sosok nyata yaitu guru mereka sendiri.

Sedangkan ditiru, ini yang sering kali tanpa sadar terjadi. Guru mungkin merasa apa yang dilakukan biasa saja, tapi bagi siswa bisa menjadi contoh yang membekas. Cara guru menghadapi masalah, cara menyikapi perbedaan, bahkan cara bercanda di kelas, semua direkam dalam ingatkan mereka.

Ada cerita sederhana namun membuat kita terbang melayang. Seorang siswa mengatakan bahwa, ia nanti ingin menjadi seorang guru, bukan karena pelajarannya, tapi karena sikap gurunya yang sabar dalam menghadapi siswa yang nakal.

Bayangkan, satu sikap kecil ini, bisa menginspirasi masa depan seseorang. Melihat hal tersebut kita sadar, menjadi guru bukan hanya fokus pada mengajar, tetapi tentang meninggalkan jejak.

Kilas balik dari kisah ini membuat kita bertanya:
Kenapa kita begitu bangga dengan guru?

Jawabannya sangat sederhana, guru bukan hanya mengajar, namun hadir. Guru hadir dalam kehidupan siswa, bukan hanya dalam ruangan namun dalam ingatan dan perasaan.

Hari ini, tantangan guru bukan lagi sekedar hal mengajar, namun bagaimana tetap relevan tanpa kehilangan jati diri. Jangan sampai karena ingin mengikuti zaman, guru justru kehilangan karakter diri. Dilihat dari sisi lain, jangan juga terlalu kaku hingga sulit menerima karakter generasi sekarang.

Terasa berjalan di dua dimensi, menjadi guru di era modern ini. Menjaga nilai-nilai lama yang penuh makna, namun harus beradaptasi pada dunia digital yang serba cepat. Hal itu memang tidak mudah, namun bukan tidak mungkin.

Berjalan di dua dimensi itulah yang menjadikan guru adalah kebanggan. Menjadi guru bukan profesi yang mudah digantikan. Teknologi bisa membantu, tapi tidak bisa menggantikan sentuhannya.

Sebuah mesin bisa menjelaskan konsep, tapi tidak bisa memahami perasaan siswa, saat mereka kehilangan semangat belajar.

Menjadi guru adalah tentang kesabaran panjang, tentang mengulang penjelasan, tentang tetap tersenyum meski kondisi tidak ideal, tentang percaya potensi siswa, meski belum terlihat.

Di tengah tentang dan tentang itu semua, rasa bangga menjadi guru harusnya tidak hilang, karena di era ini, menjadi sosok yang bisa dipercaya dan diteladani adalah sesuatu yang langka.

Guru yang digugu dan ditiru bukan hanya slogan lama, ini adalah pengingat. Guru harus siap menjadi contoh, bahkan ketika tidak disadari bahwa setiap kata dan tindakan mempunyai dampak.

Akhirnya, kita perlu menyiapkan, kita perlu adaptasi dengan perkembangan zaman, agar relevan dengan slogan guru yang digugu dan ditiru. Kebanggan menjadi guru bukan datang dari gelar atau profesinya, tapi dari seberapa besar, kita mampu memberi arti bagi orang lain.

Selama masih ada siswa yang melihat guru penuh hormat dan harapan, selama itu pula makna “digugu dan ditiru” akan tetap hidup.

 

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *