Oleh : Rr. Kusuma DNM

IAINUonline – Di tengah derasnya arus perkembangan teknologi, gagasan mengajarkan deep learning melalui kurikulum berbasis cinta terdengar tidak biasa—bahkan bagi sebagian orang, mungkin terasa terlalu idealistis.

Namun justru di situlah letak kekuatannya. Ketika banyak ruang kelas terjebak pada target angka, akurasi, dan performa model, pendekatan ini mencoba mengembalikan satu hal yang sering terpinggirkan: makna.

Opini saya sederhana—pendekatan ini bukan kelemahan, tetapi koreksi. Dunia teknologi hari ini tidak kekurangan orang pintar; yang sering kurang adalah kesadaran tentang dampak dari kepintaran itu sendiri.

Sistem berbasis deep learning sudah digunakan untuk menentukan keputusan penting, dari rekomendasi informasi hingga analisis perilaku manusia. Tanpa fondasi nilai, teknologi semacam ini bisa menjadi alat yang dingin, bahkan berbahaya.

Meski begitu, penting untuk tidak terjebak dalam romantisme konsep “berbasis cinta”. Pendidikan tetap membutuhkan ketegasan, kedalaman materi, dan disiplin intelektual. Deep learning bukan bidang yang bisa dipahami hanya dengan refleksi atau diskusi nilai—ia menuntut logika, matematika, dan latihan yang konsisten.

Jika aspek ini melemah, maka niat baik justru bisa berujung pada lulusan yang tidak siap menghadapi realitas profesional.

Di sinilah menurut saya letak keseimbangan yang harus dijaga. Kurikulum berbasis cinta seharusnya tidak menggantikan struktur akademik, tetapi menghidupkannya. Ia menjadi konteks, bukan konten utama; menjadi arah, bukan pengganti jalan.

Ketika mahasiswa belajar tentang model dan algoritma sambil memahami siapa yang terdampak oleh teknologi tersebut, pembelajaran menjadi lebih utuh—tidak hanya cerdas, tetapi juga bijak.

Pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan pembentukan cara berpikir dan cara memandang dunia. Jika cinta dimaknai sebagai kepedulian, tanggung jawab, dan kesadaran akan sesama, maka memasukkannya ke dalam kurikulum bukanlah sesuatu yang berlebihan. Justru mungkin, itu yang selama ini kurang.

 

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *