Oleh : Irfa’i Alfian Mubaidilla

IAINUonline – Gemerlap dunia modern yang serba cepat, profesi guru sering kali terlihat “biasa saja”. Sering kita jumpai bahwa anak-anak bercita-cita ingin menjadi content creator, bisnis startup, selebgram, influencer dengan endorse dan jutaan followers.

Dunia menjadi lebih luas, pilihan semakin banyak dengan standar sukses yang mulai bergeser, kesuksesan diukur dengan popularitas dan banyaknya materi.

Namun, dari banyaknya lika liku ini, ada satu profesi yang diam-diam tetap menjadi pondasi dari semuanya, yaitu ‘guru’.

Mungkin kita pernah mendengar, melihat atau membaca kisah pada film Dead Poets Society. Dalam film tersebut, sosok John Keating bukan hanya sekadar pengajar biasa. John Keating tidak hanya mengajar, namun menghidupkan jiwa muridnya.

John Keating mengajak murid-muridnya untuk berpikir kritis, berani berbeda dan yang paling penting adalah menemukan makna hidup mereka sendiri. Ada quote yang menarik dan ikonik dari film tersebut, yaitu Carpe Diem, Seize the Day atau bisa diterjemahkan sebagai ‘petik, raih atau manfaatkanlah hari ini’ menjadi sebuah ajakan sederhana tapi mampu merubah cara pandang para murid-murid.

Melihat hal tersebut kita menyadari, bahwa guru sejatinya bukan hanya penyampai materi namun guru adalah pembentuk arah.

Era digital, memberikan akses terbuka untuk melihat informasi dengan mudah dan cepat. Anak-anak tidak lagi bergantung sepenuhnya pada guru untuk mendapatkan pengetahuan.

Mereka bisa belajar dari Youtube, Google, bahkan AI. Lantas bagaimana dengan guru sekarang? Apakah kehilangan peran? Tidak, guru baik-baik saja dan tidak kehilangan peran, malah sebaliknya.

Ketika murid mendapat informasi yang melimpah, yang dibutuhkan bukan lagi sekadar “pengajar” tetapi “penuntun”. Guru hadir untuk membantuk murid memilah mana yang benar, mana yang keliru, mana yang bermanfaat dan mana yang menyesatkan. Guru adalah Kompas di tengah lautan informasi digital.

Namun sayang, seribu sayang, profesi guru masing sering dipandang sebelah mata. Kita sering mendengar guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, memang mulia tetapi dari sisi lain juga menyimpan ironi.

Seolah-olah pengabdian guru memang tanpa tanda jasa (penuh keikhlasan). Padahal kita tahu, tidak ada orang hebat, profesi hebat lain di dunia ini yang lahir tanpa sentuhan guru di sekolah.

Menjadi guru memang bukan jalan yang mudah. Tidak selalu mendapat apresiasi materi, tidak selalu mendapat pengakuan instan, bahkan sering kali harus bersabar menghadapi berbagai karakter siswa. Tapi justru di situlah letak keindahan, kenikmatan menjadi guru. Guru bekerja dengan sesuatu yang tidak langsung terlihat hasilnya.

Guru mungkin tidak langsung melihat hasilnya hari ini. Namun dalam waktu 10 tahun atau 20 tahun ke depan, bisa jadi salah satu muridnya menjadi pemimpin, innovator atau sosok yang mampu membawa perubahan besar.

Di balik kesuksesan itu, ada jejak kecil dari seorang guru yang pernah membimbingnya. Itulah bentuk keabadian seorang guru.

Dalam kehidupan sehari-hari, menjadi guru mengajarkan kita untuk terus belajar mengenai perubahan dunia, perubahan kurikulum, perubahan teknologi dan guru perlu adaptasi akan hal tersebut.

Guru bukan hanya untuk mengajar, tetapi berkembang sepanjang hayat. Profesi guru adalah profesi yang dinamis dan tidak pernah membosankan, penuh dengan hal baru yang menyenangkan. Guru adalah tentang hati.

Ada kepuasan tersendiri ketika melihat murid kita yang awalnya tidak paham menjadi paham, tidak mengerti menjadi mengerti, tidak percaya diri menjadi aktif percaya diri.

Ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat murid yang dulunya malu, sekarang mulai berani berbicara di depan kelas. Bahkan, kebanggaan yang tidak bisa diukur ketika melihat mereka berhasil melampau batas yang sebelumnya dianggap mustahil baginya.

Momen-momen kecil seperti itulah yang tidak bisa digantikan oleh angka atau popularitas semata.

Maka dari itu, di tengah tren anak muda yang mulai melirik profesi-profesi “kekinian”, menjadi guru tetaplah pilihan mulia yang utama dan masih relevan. Bukan berarti profesi lain tidak penting, tetapi guru memiliki peran yang lebih dalam untuk membentuk manusia.

Mungkin kita tidak viral, mungkin kita tidak cepat kaya, namun kita punya sesuatu yang jauh lebih berharga yaitu kesempatan untuk memberi makna dalam kehidupan orang lain.

Seperti dalam film Dead Poets Society, seorang guru sejati bukan hanya mengisi kepala, tetapi menyalakan jiwa. Guru hadir bukan sekedar untuk mengajar, tetapi juga menginspirasi. Dengan ini, di tengah segala perubahan zaman, kita harus dengan bangga mengatakan: ‘’AKU BANGGA MENJADI SEORANG GURU..!!’’

 

 

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *