Tercatat sebagai mahasiswa dengan Pengabdian dan Dedikasi yang Tinggi kepada Kampus, menjadi kebanggaan tersendiri bagi Akhmad Zaini. Pengabdian dan dedikasi yang tinggi itu, ia tunjukkan ketika menjadi mahasiswa di IAIN (sekarang UIN) Wali Sanga Semarang dengan secara aktif dalam kegiatan pers kampus. Aktivitas itu bukan sekadar mengisi waktu luang dan “sok-sokan” sebagai mahasiswa. Tetapi betul-betul secara sadar timbul dari  lubuk hati yang paling dalam—bahasa psikologinya—motivasi intrinsik untuk membekali diri dengan bebagai pengalaman melalui organisasi kemahasiswaan.

Ketertarikannya di bidang jurnalistik, ia tunjukkan ketika masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (MI). Ia suka membaca. Tak mempedulikan bahan bacaan itu dari apa. “Saya sering membaca sobekan koran bekas bungkus belanjaan,” kenangnya suatu ketika. Dari kegemaran dan kebiasaan membaca sobekan koran pembungkus itulah memunculkan impiannya bahwa suatu ketika ia pasti bisa menulis seperti apa yang ada dalam sobekan koran itu.

Setelah lulus dari MTs, ia melanjutkan ke pondok pesantren Maslahul Huda asuhan Mbah Sahal Kajen, Pati, Jawa Tengah. Di pondok pesantren itulah ia punya banyak kesempatan untuk memanfaatkan perpustakaan pondok. Kesempatan emas itu tidak ia sia-siakan. Tiada hari tanpa membaca. Di pondok ini pula ia mulai belajar mengetik. “Sebagai pengurus pondok saya berkesempatan memanfaatkan mesin tik tua itu untuk belajar menulis,”katanya.

Tidak berhenti sampai di situ, ia pun membawa kegemaran berorganisasi itu hingga ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ketika menempuh pendidikan di  bangku PGA Negeri Semarang, berbagai organisasi, mulai dari level kelas, Gugus Depan, hingga pengurus OSIS ia ikuti dengan penuh kesungguhan. Demikian pula ketika di perguruan tinggi, ia tidak pernah lepas dari organisasi kemahasiswaan.

Kesungguhan dalam berorganisasi  itu mengantarkannya dipercaya untuk mengelola majalah mulai dari level fakultas sampai level perguruan tinggi. Dengan tangan dinginnya, ia berhasil mengelola majalah kampus itu menjadi produk dari sebuah penerbitan yang layak diperhitungkan.

Foto saat menjadi wartawan Kampus. (Foto diambil dari facebook Pak Zen)

Bekal pengalaman di bidang jurnalistik yang “seabrek” itu mengantarkannya diterima sebagai wartawan di Jawa Pos. Pada awal tahun 1997, ia secara resmi bekerja sebagai wartawan Jawa Pos. “Itu hanya kebetulan, orang yang menguji saya saat seleksi itu, sudah pernah melihat saya ketika acara bedah buku di IAIN Wali Sanga Semarang,”jelasnya dengan penuh tawadhuk.

Foto saat bertugas di Istana Negara (Foto diambil dari Facebook Pak Zen)

Tahun 2004, ketika mendapat tugas “kejurnalistikan”  dari Jawa Pos untuk menjadi Wartawan Istana Negara, ia berhasil menyelesaikan pendidikan magister (S-2) di bidang Ilmu Politik dari Universitas Indonesia.

Sebagai wartawan Istana, ia berkesempatan meliput kegiatan kepresidenan ke 20 negara. Pekerjaan sebagai jurnalis ia lakoni selama 14,5 tahun. Dan secara resmi resigen dari Jawa Pos pada tanggal 19 Juni 2011.

Saat mewawancarai salah satu tokoh. (Foto diambil dari Facebook Pak Zen)

Pengabdian di Pendidikan

Pasca resign dari Jawa Pos, ia memutuskan  untuk menjadi dosen di STITMA yang sekarang  beralih status menjadi IAINU Tuban. Keputusan resign dari Jawa Pos dan memilih  bergabung dengan perguruan tinggi milik NU itu tidak ditempuhnya dalam waktu yang singkat. Ia membutuhkan waktu yang panjang untuk mengambil keputusan itu. Butuh waktu meminta petunjuk dan bimbingan dari sang Khaliq. Upayanya untuk mendapat  bimbingan dari sang Khaliq tidak sia-sia. Hingga pada suatu malam ia bermimpi menemukan sedan toyota DX.

“Mimpi menemukan Sedan Toyota DX  saya anggap sebagai salah satu petunjuk dari Allah. Dari mimpi itu, saya menafsirkan bahwa saya harus merawat sesuatu yang sebelumnya dimiliki Prof A’la. Mengingat Pak A’la adalah seorang pendidik, maka saya harus mengikuti jejaknya merawat pendidikan. Dari luar, dunia pendidikan mungkin terlihat kusam, jelek dan tidak menarik. Namun begitu dimasuki, insyaallah dalamnya sangat indah, menyenangkan dan membuat hati tentram,” tulisnya dalam sebuah kolom yang dimuat di Tabloid Nusa.

Akhmad Zaini tidak hanya mengabdikan diri sebagai dosen, tetapi ia juga akhirnya terpilih sebagai ketua sebuah organisasi yang berada dalam  naungan Nahdlatul Ulama, Lembaga Pendidikan Ma’arif Cabang Tuban. Total sudah pengabdiannya di bidang pendidikan. Tidak hanya sekadar mangajar di kampus, tapi juga menangani atau ngopeni ratusan lembaga pendidikan yang berada dalam naungan LP Ma’arif Tuban.

“Karena latar belakang itu pulalah, ketika pada suatu malam di bulan Ramadhan Pak Mahfud (Ketua LP Ma’rif saat itu) menyampaikan hasil rapat pengurus baru PC NU yang ingin mengamanati saya sebagai ketua LP Ma’arif Tuban mengantikan dirinya, saya menyatakan sanggup. Sungguh bukan karena saya melet atau menginginkan jabatan itu. Tapi, karena saya teringat Sedan Toyota DX yang pernah menghiasi mimpi saya tadi,”ungkapnya dalam sebuah kolom di Nusa.

Pengabdian di LP Maarif itu ia lakoni secara total, tidak setengah-setengah. Ia melakoninya dalam waktu lima tahun. Pengalamannya bekerja di bidang jurnalistik atau Jawa Pos, yang sudah barang tentu mempunyai iklim kerja yang membutuhkan stamina  tinggi, tampaknya memengaruhi kinerjanya ketika mengabdikan diri di LP Maarif. LP Ma’arif mulai bergeliat. Prestasi yang patut dibanggakan saat kepemimpinan Akhmad Zaini ialah terbitnya Tabloid Nusa. Tabloid ini terbit sebulan sekali. Selain itu, banyak problem-problem organisasi di naungan NU itu juga terselesaikan. Semua tidak lepas dari kesungguhan dan ketotalannya dalam berorganisasi.

Dalam menegakkan kebenaran, tentu membutuhkan perjuangan, dan tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan. Prinsip ini tampaknya betul-betul melekat dalam diri Akhmad Zaini. Hal itu ia buktikan ketika menjalankan roda organisasi di LP Ma’arif. Ia tidak hanya mengorbankan waktu, tenaga, dan pikirannya. Ia juga merelakan uang yang diperoleh dari sertifikasi dosen (tentu dengan seizin istrinya) dipergunakan sebagai biaya operasional dalam menjalankan organisasi. “Saya merelakan uang sertifikasi sebagai dosen saya gunakan untuk operasioanl dalam menjalankan aktivitas sebagai ketua Ma’arif,” tandasnya dalam pertemuan lembaga-lembaga Ma’arif di kantor PCNU Tuban.

Bangun Sistem

Setelah beberapa tahun mengabdikan diri sebagai dosen di STITMA Tuban, ia pun terpilih sebagai orang nomor satu di kampus itu. Dengan modal memiliki Toyota DX bekas Prof. A’la, Akhmad Zaini “memimpikan” kampus yang ia pimpin menjadi kampus yang diperhitungkan, paling tidak untuk Tuban dan sekitarnya.

Foto beliau saat sambutan di acara wisuda ketika menjadi Rektor IAINU Tuban. (Foto by Humas IAINU)

Berbagai trobosan, studi banding, dan diskusi dengan para ahli yang sukses memimpin perguruan tinggi pun ia lakoni. Mulai dari berdiskusi dengan Prof. Nur Syam, Prof. Maskuri, dan dengan siapa pun yang ia anggap memilki kapabilitas dalam mengembangkan kampus. Namun, menurutnya,  itu saja tidak cukup untuk membangun STITMA jika “sistem” tidak terbangun. Ia kemudian mencoba menerapkan pengalamannya yang sukses dalam mengelola sebuah usaha. Tidak lain dan tidak bukan ia harus membangun “sistem”.

Ia mencontohkan swalayan-swalayan yang ada di sekitar kita, seperti Indo Mart, Alfa Mart, dan yang lainnya bisa eksis tidak lain karna berhasil membangun “sistem”. “Menurut pengamatan saya,  yang membuat dia sukses, yakni kemampuannya membangun “sistem” di lingkungan usaha yang dia bangun,”ungkapnya.

Perlahan namun pasti, ia memulai membangun “sistem” di perguruan tinggi itu. Mulai dari sistem rekrutmen pagawai, tenaga pendidik atau dosen, sistem penggajian, dan sistem budaya akademik. Namun dalam perjalanannya  membangun “sistem” itu, ia merasakan banyak tantangan dan hambatan. Bukan karena apa-apa, tapi karena “sistem” yang ia bangun itu merupakan makhluk baru yang kemudian menjadi pedoman dalam pengelolaan kampus. Meski dengan ngos-ngosan dalam membangun “sistem”, dan dengan upaya yang sungguh-sungguh dengan didasari ruhul jihad, buah dari “sistem” yang ia bangun sudah mulai bisa dirasakan. “Dengan “sistem” ini, siapa pun yang menjadi pimpinan akan mudah dalam menjalankan dan mengoperasionalkan perguruan tinggi,” ungkapnya.

Di bawah kepemimpinannya, kampus berkembang dan terus berkembang. Perkembangan yang saat ini bisa dirasakan dan dilihat dengan kasat mata adalah perubahan dari STITMA menjadi IAINU Tuban. IAINU saat ini  memiliki empat fakultas, Fakultas Tarbiyah dengan tiga prodi, PAI, PGMI, dan PIAUD.

Fakultas Ekonomi Bisnis Islam dengan Prodi Perbankan Syariah. Fakultas Dakwah dengan Prodi Manajemen dakwah dan yang terakhir Fakultas Syariah dengan Prodi Hukum Islam Keluarga. Dengan bekal empat fakultas dan enam Prodi ini, menurut Akhmad Zaini, Rektor IAINU Tuban, tinggal menambah minimal dua prodi lagi bisa beralih menjadi Universitas. Semoga!

Penulis : M. Zaqin

Editor : Laili

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.