Oleh : Sri Wiyono
IAINUonline – Tulisan ini, sebenarnya saya buat jauh sebelum pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Jombang yang luar biasa itu. Tulisan ini untuk memenuhi permintaan Pengurus Besar Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB IKA PMII).
PB IKA PMII ingin memberikan sesuatu; semacam kado, cindera mata atau kontribusi dalam menyambut Muktamar ke-35. Sebab, Muktamar ini digadang-gadang, diharapkan, bahkan menjadi mimpi sebagian nahdliyin menjadi pintu masuk kembalinya kejayaan NU, martabat NU dan kembalinya NU pada semangat seperti awal jam’iyyah ini dibentuk.
Maka PB IKA PMII meminta seluruh kader untuk ikut menuliskan banyak soal NU. Baik pengalaman pribadi terkait NU, kritik, harapan dan sebagainya. Maka saya menulis artikel ini.
‘’Saya malu mengaku NU,’’ ujar salah satu kawan, ketika ketemu dalam sebuah majelis. Di tengah malam, duduk lesehan beralas terpal plastik yang digelar di sebuah tempat parkir salah satu perusahaan milik negara.
Kawan saya menjadi salah satu karyawan di perusahaan negara itu, dan menempati salah satu rumah dinas milik perusahaan. Dan, malam itu menggelar diskusi dengan meminjam tempat parkir tersebut. Bukan majelis mengaji, hanya sebuah diskusi dari sekumpulan orang yang punya hobi sama.
Ketika acara utama usai, kawan-kawan berkelompok sesuai dengan kawan terdekat di kanan kirinya. Entah siapa yang memulai. Setiap kelompok berdiskusi dengan tema bahasan yang berbeda. Termasuk saya dan beberapa kawan.
Ngobrol ngalor ngidul, mereview banyak hal termasuk teman sampai rasan-rasan syariah hehehehe…
Hingga, tetiba obrolan nyangkut hal yang lebih dalam. Ya, soal Nahdlatul Ulama (NU), sebab kami sama-sama berlatar belakang NU kultural hehehe…artinya kami biasa mengerjakan amaliyah NU; mulai tahlil, baca qunut di salat Subuh sampai gemar ziarah kubur.
Satu celetukannya membuat kaget :
‘’Entah rasanya saat ini saya merasa malu mengaku NU,’’ katanya.
Saya tertegun. Kawan saya ini bukan orang besar. Dia hanya orang biasa. Bahkan, mungkin keterlibatannya dalam NU, selain melaksanakan amaliyah NU, dia paling banter terlibat di kepengurusan NU tingkat ranting.
Saya terpana. Karena jujur, perasaan yang sama juga saya rasakan. Dan, banyak kawan lain satu persatu juga merasakan kegalauan yang sama. Setidaknya pada periode kepengurusan NU yang terakhir ini. Kepengurusan PBNU hasil Muktamar Lampung (sebelum Muktamar ke-35).
Entah kenapa hati rasanya perih, bahkan ada sedikit sakit hati, gemas, mangkel dan lain-lain, melihat organisasi yang kita sayangi berjalan tidak sesuai dengan ekspektasi. Minimal ekspektasi saya pribadi.
Dan, ternyata kegalauan saya itu ada yang merasakan juga. Kami melihat secara organisasi, NU sudah bergeser karakternya. Apakah itu disebabkan oleh pengurusnya yang kebetulan banyak tenaga-tenaga muda yang energik dan masih gemar mencari panggung atau sebab lain? Wallahu a’lam.
Kegaduhan yang terjadi di PBNU yang terus berlarut, bahkan sampai saat ini rasa-rasanya masih ada aura konflik, itulah salah satu penyebabnya. Pucuk pimpinan di PBNU sering mengeluarkan statemen yang mengagetkan umat di bawah. Baik statemen politik maupun statemen-statemen terkait internal organisasi. Lalu ditambah konflik Tanfidziyah-Syuriah, saling memecat, dan memecat tokoh yang dinilai tak sejalan, dan lain-lain.
Saya juga melihat salah satu pimpinan PBNU yang kebetulan pernah bareng-bareng menjalani pengkaderan di Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) yang digelar di salah satu kota di Jawa Timur sering muncul di media untuk memberikan statemen atasnama PBNU.
Sebagai kader di bawah kami kebingungan harus percaya pada yang mana, ketika para pemimpin itu berseberangan. Saling mempertahankan pendapatnya masing-masing dan saling menunjukkan taring dan kekuasaannya di dalam organisasi.
Ternyata, kegaduhan di PBNU tidak cukup. Warga NU yang ada di Kabupaten Tuban pun kemudian disuguhi drama di kepengurusan cabang. Ya, PCNU Tuban juga mengalami kegaduhan meski dalam skala yang berbeda. Bahkan, kegaduhan di PCNU dimulai sejak Konferensi Cabang (Konfercab) di gelar.
Saya yang terlibat dalam kepanitiaan di Konfercab saat itu menyaksikan sendiri bagaimana kelompok-kelompok itu bergerak untuk mengusung calonnya merebut posisi. Saya menyaksikan bagaimana dinamika mengumpulkan dukungan dan sebagainya dan sebagainya itu berlangsung.
Mendengar, menerima testimoni dan kesaksian kawan-kawan di daerah. Bahkan melihat dengan mata kepala sendiri saat salah seorang Ketua Ranting NU mengganti nama yang direkomendasikn di lokasi konferensi. Tentu, nama yang belakangan ditulis di surat dukungan itu berbeda dengan nama yang sebelumnya. Entah, nama yang didukung itu sudah merupakan hasil musyawarah atau tidak.
Lalu, kepengurusan yang dibentuk dari hasil Konfercab itu pun tak bertahan lama. Meski secara resmi kepengurusan itu masih ada, namun di dalam keropos. Sudah tidak kompak, bahkan masing-masing pengurus ada yang mufaroqoh dan ngumpul dengan kelompoknya sendiri-sendiri.
Rumor yang berkembang, ada kamar-kamar di internal. Belum lagi ditambah dengan dinamika organisasi lainnya, seperti yang pengurus harian yang mengundurkan diri serta konflik internal di organisasi membuat cuaca di organisasi semakin sumuk. Kabarnya seperti itu hehehe..karena saya bukan pengurus cabang.
Saya bukan lahir dari keluarga NU, kalau disebut keluarga NU adalah keluarga yang ngurus NU secara struktural. Namun, saya ingat persis, di ruang keluarga yang gandeng dengan ruang tamu rumah kakek saya dulu, di dinding dari papan di rumah itu terpasang lambang NU.
Ya, lambang NU versi lama yang masih ada bentuk bendera yang dipinggirnya ada semacam rumbai-rumbai. Ketika saya sudah bisa membaca, maka terbaca Nahdlatul Ulama. Tapi saya tidak tahu apa artinya, dan lambang apa itu.
Masa kecil saya berjalan layaknya anak-anak kampung. Pagi sekolah, siang sampai sore bermain, dan sore mengaji di langgar (musala). Daerah tempat tinggal saya termasuk daerah abangan. Belum banyak warga yang salat. Bahkan majelis minum tuak (khamer) di dekat rumah saya tak pernah putus berjalan. Dari pagi, siang dan sore sampai malam ada penjual tuak yang mangkal, dan selalu banyak yang mengerumuni.
Waktu itu saya sudah duduk di bangku SD, dan tertarik pergi ke langgar karena hampir setiap malam Jumat ada jajanan. Tradisi ini biasanya dibarengi dengan dziba’an atau berjanjen; membaca salawat Albarjanji. Saat kegiatan itu, banyak anak-anak yang ikut, tentu tujuan utamanya adalah mendapat jajanan hehehe…
Jujur saya mengenal NU lebih dalam saat di bangku Madrasah Aliyah (MA). Pelajaran Aswaja memberi pencerahan saya soal NU. Tahu makna dan arti lambang NU. Dan sejak saat itu hati saya tertancap dengan organisasi ini, terlebih sejak kecil rasanya sudah akrab dengan tradisi ke NU an ini.
Hingga kemudian saya pernah bersama beberapa kawan ngaji di kampung mendirikan Ranting IPNU pada era 1990 an, lalu setelah kuliah keterlibatan saya di NU secara struktural sampai membawa saya ke kepengurusan IPNU sampai di Cabang.
Pernah menjadi sekretaris PC IPNU Tuban. Lalu juga pernah menjadi pengurus PC Ansor Tuban, pengurus Cabang LP Ma’arif dan tentu di PC PMII Tuban serta sekarang masih menjadi pengurus di IKA PMII Cabang Tuban.
Kemudian, di NU saya sudah membatasi diri untuk terlibat di kepengurusan yang lebih luas (hahaha…alasan karena tak laku di cabang). Saya hanya menjadi pengurus di MWC NU Tuban, bahkan lebih semangat ikut mengurusi NU dan LazisNU tingkat Ranting.
Namun, akhir-akhir ini ghirah saya menjadi lemah, sudah lama tidak aktif di lailatul ijtima’ maupun pertemuan di LazisNU yang tiap bulan dilakukan sambil mengitung perolehan kaleng koin NU atau kaleng-kaleng LazisNU yang dititipkan di rumah-rumah warga. Semoga saya menerima hidayah, dan semoga NU dikembalikan Gusti Allah seperti tujuan awal organisasi ini dibentuk.
Lalu ketika kita melihat bagaimana Muktamar ke-35 NU itu berlangsung, dinamikanya, dan pimpinan yang terpilih menjadi pucuk pimpinan NU masa khidmah 5 tahun ke depan, perasaan apa yang Anda rasakan?
Dan, kabar terbaru setelah susunan pengurus di PBNU diumumkan, Gus Kikin, Ketua PBNU menyatakan target 100 hari pertama kerja PBNU adalah rekonsiliasi dengan pengurus NU di daerah. Artinya…?
Ah, saya juga belum pernah ketemu lagi kawan saya yang menyatakan malu mengaku NU itu, hingga sekarang. Malah banyak asupan informasi dari kawan-kawan berlatarbelakang NU dari banyak daerah yang mengungkapan kegalauannya.
‘’Ancen nganggo atribut NU iku saiki rasane koyo dibeset-beset rai.. dienggo wadanan ngalor-ngidul je..’’ tulis salah satu kawan dari luar kota dalam salah satu obrolan WA.
Saya ingin ketemu dan mendengar pendapat kawan yang pernah menyatakan malu mengaku NU itu soal Muktamar ke-35 NU di Jombang. Apakah masih malu mengaku NU, atau justru sebaliknya. Wallahua’lam.
