Oleh : Dr. Nurhaningtyas Agustin
IAINUonline – “Yang penting saya sudah linier.”
Kalimat itu sering terdengar dalam dunia pendidikan. Seorang guru merasa cukup percaya diri karena latar belakang pendidikannya sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan.
Guru IPA lulusan pendidikan IPA, guru matematika lulusan matematika, dan seterusnya. Secara administrasi, semuanya sudah dianggap tepat. Namun persoalannya, apakah linieritas keilmuan saja cukup?
Di sebuah kelas IPA, seorang siswa bertanya tentang AI, perubahan iklim, dan eksperimen sains sederhana yang ia lihat di internet. Guru hanya tersenyum kaku karena materi itu tidak pernah ia pelajari dulu saat kuliah. Akhirnya pembelajaran kembali hanya berisi definisi dari buku paket yang sudah bertahun-tahun digunakan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa linieritas keilmuan tidak akan banyak berarti jika guru berhenti belajar dan tidak mau memperbarui pengetahuannya.
Selama ini, dunia pendidikan sering terlalu fokus pada formalitas linieritas ijazah. Seolah-olah seseorang otomatis menjadi guru yang baik hanya karena jurusannya sesuai. Padahal realitas pendidikan jauh lebih kompleks daripada sekadar kesesuaian administrasi.
Ilmu pengetahuan terus berkembang, terutama dalam bidang sains dan teknologi. Guru yang tidak mau belajar hal baru perlahan akan tertinggal, bahkan dari peserta didiknya sendiri.
Hari ini siswa bisa memperoleh informasi dari internet, media sosial, video pembelajaran, hingga AI dalam hitungan detik. Jika guru hanya mengandalkan pengetahuan lama, pembelajaran akan terasa kaku dan tidak relevan dengan perkembangan zaman.
Ironisnya, ada guru yang sangat bangga dengan gelar dan linieritas akademiknya, tetapi jarang membaca perkembangan terbaru dalam bidangnya sendiri. Akibatnya, pembelajaran hanya berputar pada materi lama, hafalan, dan metode monoton tanpa inovasi.
Padahal dalam dunia pendidikan, guru seharusnya menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Jika dikaitkan dengan konsep lifelong learning, seorang pendidik harus terus belajar karena ilmu pengetahuan selalu berkembang. Guru bukan hanya profesi mengajar, tetapi profesi belajar tanpa henti. Ketika guru berhenti belajar, sebenarnya saat itu pula kualitas pembelajaran mulai berhenti berkembang.
Menurut teori konstruktivisme dari Lev Vygotsky, seorang psikolog asal Rusia yang terkenal sebagai pelopor teori sosiokultural. Ia menekankan bahwa perkembangan kognitif anak tidak terjadi secara mandiri, melainkan terbentuk melalui interaksi sosial, bahasa, dan budaya di lingkungan sekitarnya.
Pembelajaran terjadi melalui interaksi dan perkembangan sosial yang dinamis. Karena itu, guru harus mampu memahami konteks zaman tempat siswa hidup, bukan sekadar mengulang materi yang sama setiap tahun.
Fenomena ini sangat terlihat di era digital dan AI sekarang. Banyak siswa lebih cepat memahami teknologi baru dibanding gurunya. Anak-anak sudah mengenal AI, media digital, dan akses informasi global, sementara sebagian guru masih kesulitan keluar dari metode pembelajaran lama. Akibatnya, pembelajaran terasa jauh dari realitas kehidupan siswa.
Linieritas memang penting sebagai dasar kompetensi akademik. Namun tanpa pembaruan ilmu, kreativitas, dan kemauan belajar, linieritas hanya akan menjadi formalitas administratif semata.
Menurut John Dewey, yang seorang filsuf, psikolog, dan tokoh reformasi pendidikan asal Amerika. Ia dikenal sebagai pelopor gerakan pendidikan progresif dan pendiri utama aliran filsafat pragmatisme (atau instrumentalisme).
Menurutnya pendidikan harus selalu terhubung dengan perubahan masyarakat dan kehidupan nyata. Artinya, guru juga harus berkembang mengikuti perubahan zaman agar pembelajaran tetap hidup dan bermakna.
Guru yang baik hari ini bukan guru yang merasa paling tahu, tetapi guru yang tetap rendah hati untuk terus belajar. Guru yang mau membaca, berdiskusi, mencoba teknologi baru, memahami cara belajar generasi sekarang, dan terbuka terhadap perubahan.
Karena sesungguhnya, siswa tidak hanya membutuhkan guru yang “linier” di atas kertas. Mereka membutuhkan guru yang relevan dengan zamannya, memahami perkembangan ilmu, dan mampu membimbing mereka menghadapi dunia yang terus berubah.
Pada akhirnya, ijazah mungkin menunjukkan apa yang pernah dipelajari seseorang di masa lalu. Tetapi kemauan untuk terus belajar menunjukkan kualitas seorang guru di masa sekarang.
