IAINUonline – Riset tentang tradisi lokal, pendidikan Islam di pedesaan, dan kearifan masyarakat selama ini kerap dipandang memiliki ruang publikasi yang terbatas. Padahal, apabila dibangun dengan kerangka teori yang tepat, didukung metodologi penelitian yang kuat, serta diperkuat analisis data yang terukur, persoalan-persoalan lokal justru berpotensi menjadi kontribusi akademik yang diperhitungkan dalam percakapan ilmiah global.
Perspektif tersebut menjadi salah satu gagasan utama yang disampaikan Dr. Sholikah, M.Pd.I., dosen Universitas Nahdlatul Ulama Makhdum Ibrahim (UNUMA) Tuban, dalam Webinar Nasional bertajuk “Membuka Tabir Islam Secara Ilmiah di Era Sains Data: From Local Tradition to Global Paper”, Rabu (4/11/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) D Semester 5 UNUMA Tuban dalam rangka mata kuliah Riset Studi Keislaman tersebut dilaksanakan secara daring melalui zoom meeting. Seminar ini menghadirkan Dian Rustyawati, S.T., M.M.Pd sebagai pemateri kedua.
Dalam pemaparannya yang bertajuk “From Local Wisdom to Global Impact: Strategi Riset Inovatif dan Publikasi Ilmiah Bereputasi”, Sholikah yang juga tercatat pada 2021 sebagai wisudawan terbaik Prodi S3 Studi Islam Konsentrasi Pendidikan Agama Islam UIN Walisongo Semarang ini mengajak mahasiswa mengubah cara pandang terhadap penelitian keislaman.
Menurutnya, penelitian yang berangkat dari persoalan lokal bukan berarti memiliki cakupan akademik yang sempit. Justru, realitas sosial dan pendidikan Islam di daerah dapat menjadi sumber pengetahuan yang menawarkan perspektif berbeda terhadap persoalan global yang selama ini banyak dibicarakan dalam literatur internasional.
Ia menyoroti anggapan bahwa penelitian mengenai tradisi lokal atau problematika pendidikan Islam di wilayah pedesaan sulit diterima oleh jurnal bereputasi, khususnya jurnal nasional terakreditasi SINTA 1 dan SINTA 2 maupun jurnal internasional terindeks Scopus.
‘’Padahal, jurnal internasional membutuhkan perspektif yang khas, termasuk pengalaman masyarakat desa dan praktik kearifan lokal yang belum banyak dieksplorasi dalam publikasi akademik global,’’ ujar dosen yang juga Ketua Satgas PPKS (Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual ( Satgas PPPKS) UNUMA Tuban ini secara menyakinkan.
Menurut Sholikah, persoalan utamanya bukan semata-mata terletak pada objek penelitian, melainkan bagaimana peneliti membingkai persoalan tersebut agar memiliki relevansi dengan perkembangan teori dan diskursus keilmuan internasional.
Penelitian yang hanya mendeskripsikan fenomena lokal berpotensi berhenti pada laporan kontekstual. Sebaliknya, ketika fenomena tersebut dihubungkan dengan persoalan global, penelitian dapat menawarkan kontribusi teoretis yang lebih luas.
Untuk menjelaskan pendekatan tersebut, ia memberikan ilustrasi mengenai penelitian tentang hambatan guru Pendidikan Agama Islam di Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban. Topik yang semula dapat dirumuskan secara sederhana sebagai hambatan guru PAI di Kerek, menurutnya, dapat dikembangkan menjadi “Digital Divide and Religious Pedagogical Resistance: A Case Study of Islamic Teachers in Rural Java in Society 5.0 Era”.
Perubahan tersebut bukan sekadar mengganti judul penelitian dengan istilah berbahasa Inggris. Lebih dari itu, peneliti diajak menggeser fokus pertanyaan dari persoalan lokal menuju permasalahan akademik yang lebih luas.
Yakni kesenjangan digital, resistensi pedagogis, transformasi pendidikan keagamaan, dan keadilan akses teknologi di tengah perkembangan Society 5.0.
Sholikah juga memperkenalkan sejumlah kerangka teori yang dapat digunakan untuk memperkuat konstruksi penelitian tersebut, di antaranya Society 5.0, Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK), serta Digital Justice atau Digital Equity.
Melalui kerangka ini, pengalaman guru PAI di wilayah pedesaan tidak hanya dibaca sebagai persoalan keterbatasan fasilitas pembelajaran, tetapi juga sebagai bagian dari tantangan pemerataan akses teknologi dan transformasi pedagogi dalam pendidikan kontemporer.
Ia menekankan pentingnya membangun narasi penelitian yang dapat dipahami oleh komunitas akademik internasional. Salah satu contoh kalimat pengantar yang diperkenalkan dalam materi presentasinya adalah bahwa ketika diskursus global banyak berfokus pada Society 5.0, penelitian mengenai pendidikan Islam di wilayah pedesaan Indonesia menawarkan perspektif unik yang masih jarang dieksplorasi dalam literatur terindeks Scopus.
Dalam konteks ini, istilah lokal seperti Kerek dapat diperkenalkan sebagai bagian dari Rural Java, Indonesia, sementara Kitab Kuning dapat dijelaskan melalui konsep Indigenous Islamic Pedagogy.
Selain penguatan teori dan konstruksi masalah, Sholikah memberikan perhatian khusus terhadap aspek kebaruan penelitian atau novelty. Menurut pendekatan yang dipaparkannya, kebaruan tidak cukup hanya dinyatakan dalam bagian pendahuluan atau diklaim sebagai keunggulan penelitian.
Peneliti harus mampu memperlihatkan bukti yang mendukung kebaruan tersebut, salah satunya melalui pemanfaatan perangkat analisis data dan visualisasi hasil penelitian.
Dalam hal ini, ia memperkenalkan VOSviewer sebagai perangkat yang dapat digunakan untuk memetakan perkembangan literatur, keterhubungan antarkata kunci, jaringan penulis, serta kecenderungan tema penelitian. Perangkat tersebut dapat membantu peneliti mengidentifikasi topik yang telah banyak dikaji sekaligus menemukan ruang penelitian yang masih terbuka atau research gap.
Sholikah menjelaskan bahwa VOSviewer dapat dimanfaatkan sejak penyusunan kajian pustaka pada Bab II. Peneliti dapat mengumpulkan publikasi ilmiah yang relevan melalui Publish or Perish, kemudian menyiapkan metadata artikel dalam format RIS untuk diolah menggunakan VOSviewer. Dalam demonstrasi yang disampaikan, digunakan ilustrasi pengumpulan 200 artikel dari basis data Scopus sebagai bahan pemetaan literatur.
Melalui tiga bentuk visualisasi, yakni Network Map, Overlay Map, dan Density Map, peneliti dapat membaca perkembangan dan hubungan antartema secara lebih sistematis.
Network Map digunakan untuk mengidentifikasi keterhubungan topik, Overlay Map membantu melihat perkembangan tema berdasarkan periode publikasi, sedangkan Density Map memperlihatkan konsentrasi kajian sekaligus area yang relatif belum banyak dieksplorasi.
Sebagai contoh, peneliti dapat menelusuri apakah tema teknologi dan keadilan Islam telah banyak dihubungkan dalam penelitian sebelumnya serta bagaimana perkembangan pembahasan kecerdasan buatan (AI) dan ChatGPT pada periode 2024–2026.
Tidak berhenti pada analisis literatur, Sholikah juga memperkenalkan penggunaan perangkat analisis data kualitatif, seperti QDA Miner Lite dan NVivo. Kedua perangkat tersebut dapat membantu peneliti mengelola transkrip wawancara, melakukan proses pengodean (coding), mengidentifikasi frekuensi kemunculan tema, serta membandingkan pola temuan berdasarkan kelompok informan.
Dengan demikian, data wawancara yang semula berbentuk narasi dapat diorganisasikan menjadi temuan yang lebih sistematis dan mudah ditelusuri.
Sebagai ilustrasi penerapannya, ia memperlihatkan tahapan pengolahan enam transkrip wawancara guru.
Peneliti dapat memberikan kode pada pernyataan informan berdasarkan tema tertentu, seperti GAPTEK dan minim pelatiha. Hasil pengodean selanjutnya dapat dianalisis melalui frekuensi kemunculan tema dan matriks perbandingan antarkelompok.
Dalam contoh demonstrasi yang ditampilkan, terdapat ilustrasi perbandingan kecenderungan tema kesenjangan teknologi pada guru senior yang disebut mencapai 7,5 kali. Angka tersebut merupakan contoh hasil dalam skema demonstrasi materi, bukan temuan penelitian empiris yang dapat digeneralisasikan tanpa pengujian lebih lanjut.
Penggunaan perangkat analisis tersebut memperlihatkan bahwa teknologi dapat membantu meningkatkan keteraturan dan transparansi proses penelitian. Namun, perangkat lunak bukan pengganti kemampuan berpikir kritis peneliti. Peneliti tetap harus memahami konteks sosial, menafsirkan data secara bertanggung jawab, memeriksa validitas temuan, serta memastikan bahwa kesimpulan yang disusun benar-benar didukung oleh bukti penelitian.
Pada aspek publikasi, Sholikah menawarkan strategi peningkatan kualitas artikel secara bertahap. Peneliti dapat memulai dari jurnal nasional terakreditasi SINTA 4 atau SINTA 3 sebagai tahap pematangan penulisan dan penguatan fondasi penelitian.
Selanjutnya, peneliti diarahkan untuk meningkatkan kualitas artikel menuju SINTA 2 atau SINTA 1 melalui penguatan framing global, pemanfaatan referensi dari jurnal yang menjadi target publikasi, serta penajaman kontribusi penelitian. Tahap berikutnya adalah mengembangkan artikel berbahasa Inggris dengan dukungan data dan perspektif yang relevan untuk diarahkan ke jurnal internasional terindeks Scopus Q4 hingga Q3.
Dalam materi tersebut, ia juga menekankan pentingnya memahami perspektif reviewer ketika menilai sebuah artikel ilmiah. Setidaknya terdapat lima unsur yang perlu saling terhubung, yaitu masalah global yang menjadi konteks penelitian, kesenjangan penelitian lokal yang hendak dijawab, metode yang sesuai dan kuat, temuan unik yang didukung data, serta kontribusi ilmiah yang ditawarkan.
Sebagai contoh, isu Society 5.0 dapat menjadi konteks global, kondisi guru PAI di pedesaan menjadi ruang kesenjangan penelitian, sementara kombinasi pemetaan 200 artikel melalui VOSviewer dan analisis enam informan menggunakan QDA menjadi ilustrasi penguatan metodologis.
Untuk menghadapi proses revisi dari reviewer, Sholikah memperkenalkan rumus 3A, yakni Appreciate, Answer, dan Add Evidence. Strategi ini mengarahkan penulis agar terlebih dahulu menghargai masukan reviewer, memberikan jawaban yang relevan dan argumentatif, kemudian menambahkan bukti pendukung untuk memperkuat respons.
Dengan pendekatan tersebut, revisi tidak dipandang sebagai bentuk penolakan terhadap karya ilmiah, tetapi sebagai bagian dari proses peningkatan mutu dan kredibilitas penelitian.
Lebih lanjut, ia menyampaikan peta jalan praktis selama tujuh hari menuju pengajuan artikel ilmiah. Hari pertama dan kedua difokuskan pada pemetaan literatur menggunakan VOSviewer untuk memperkuat kajian pustaka. Hari ketiga dan keempat diarahkan pada pengolahan data kualitatif menggunakan QDA.
Hari kelima digunakan untuk menyusun abstrak dalam lima kalimat, sedangkan hari keenam dimanfaatkan untuk pengelolaan referensi menggunakan Zotero dan pemeriksaan kemiripan naskah melalui Turnitin.
Pada hari ketujuh, peneliti diarahkan untuk melakukan pengajuan artikel ke jurnal yang telah ditargetkan, dalam contoh materi tersebut adalah jurnal SINTA 2, ujar Ibunda dari Raisa Hisania Tunggadewi dan Amira Nisrin Fathina ini secara menyakinkan.
Melalui seluruh rangkaian materi tersebut, Sholikah menegaskan pentingnya mengintegrasikan kekuatan konteks lokal dengan standar metodologi dan komunikasi ilmiah global. Tradisi keislaman, praktik pendidikan pesantren, Kitab Kuning, serta dinamika pembelajaran agama di wilayah pedesaan merupakan sumber pengetahuan yang memiliki nilai akademik.
Tantangannya adalah bagaimana peneliti mampu mengonstruksi pertanyaan penelitian, memilih teori yang relevan, mengolah data secara sistematis, dan menjelaskan kontribusinya dalam bahasa yang dipahami komunitas ilmiah internasional.
Webinar yang diselenggarakan mahasiswa PAI D Semester 5 UNUMA Tuban ini menjadi ruang pembelajaran untuk mempertemukan studi keislaman dengan perkembangan metodologi penelitian berbasis data.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya diperkenalkan pada pentingnya memahami fenomena keislaman secara kontekstual, tetapi juga didorong untuk mengembangkan kemampuan riset yang lebih terstruktur, kritis, dan berorientasi pada publikasi ilmiah.
Gagasan From Local Wisdom to Global Impact pada akhirnya mengandung pesan penting bagi pengembangan tradisi akademik di perguruan tinggi. Penelitian berkualitas tidak selalu harus berangkat dari persoalan besar di pusat-pusat perkembangan ilmu pengetahuan dunia.
Persoalan yang tumbuh di desa, pesantren, ruang kelas, dan komunitas lokal pun dapat menjadi sumber pengetahuan yang bernilai global, selama dikaji dengan ketajaman pertanyaan, kekuatan metodologi, integritas akademik, dan kontribusi ilmiah yang jelas.
