IAINUonline – Universitas Nahdlatul Ulama Makhdum Ibrahim (UNUMA) Tuban menyelenggarakan International Webinar bertajuk “The Future of Islamic Education: Integrating Islamic Values, Global Competencies, and Digital Innovation” pada Senin (26/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom pukul 09.30–11.00 WIB ini merupakan bagian dari penguatan pembelajaran mata kuliah Ilmu Pendidikan Islam bagi mahasiswa kelas A dan C pada Program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah.
Webinar ini menghadirkan Ihyaul Lazib, S.H.I., M.A., Rais Syuriah PCINU Malaysia, dan Muslimin, S.Pd.I., M.Pd., dosen UNUMA Tuban yang mengampu mata kuliah Ilmu Pendidikan Islam kelas A dan B, sebagai narasumber.
Juga ada kelas C sebagai pelaksana sekaligus panitia webinar untuk penguat mata kuliah ilmu Pendidikan Islam yang diampu oleh Rr. Kusuma Dwi Nur Ma’rifati, M.Pd.I.
Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan pimpinan universitas Warek III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Jamal Ghofir, S.Sos.I,MA., yang didukung oleh Ka.Prodi PAI Isnawati Nur Afifah Latif, M.Pd.I, dan dosen UNUMA Tuban. Acara dipandu oleh Sani Latifatul Khilmina, mahasiswa semester tujuh, sebagai pembawa acara, serta M. Jawahiruddin Azzuhdi, mahasiswa semester tiga, sebagai moderator. Sementara itu, doa dipimpin oleh Moh. Mundzir, S.E., M.A., dosen Fakultas Tarbiyah UNUMA Tuban.
Webinar ini membahas pentingnya pengembangan pendidikan Islam yang mampu merespons perubahan sosial, budaya, dan teknologi tanpa meninggalkan prinsip-prinsip keislaman.
Pendidikan Islam tidak hanya dituntut untuk memperkuat pemahaman agama, tetapi juga perlu membekali peserta didik dengan kompetensi global serta kemampuan memanfaatkan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.
Dalam pemaparannya, Ihyaul Lazib S.H.I., M.A., menjelaskan tiga pilar utama masa depan pendidikan Islam, yaitu nilai-nilai Islam, kompetensi global, dan inovasi digital.
Ketiganya saling melengkapi dalam membangun sistem pendidikan yang berlandaskan nilai moral, mengembangkan kemampuan peserta didik, serta memanfaatkan kemajuan teknologi untuk mendukung proses pembelajaran.
Pilar pertama adalah nilai-nilai Islam yang mencakup iman, akhlak, adab, amanah, keadilan, dan tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi dalam membentuk peserta didik yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga karakter yang baik.
Dalam hal ini, guru dan dosen memiliki peran penting sebagai teladan dalam menanamkan nilai-nilai keislaman melalui sikap dan perilaku sehari-hari.
Pembahasan tersebut juga mengacu pada QS Luqman ayat 17–19, yang memuat pesan tentang mendirikan salat, mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, bersabar, menjauhi kesombongan, serta menjaga kesantunan. Nilai-nilai tersebut menegaskan bahwa pendidikan Islam perlu menempatkan pembentukan akhlak dan adab sebagai bagian penting dari proses pendidikan.
Pilar kedua adalah kompetensi global. Peserta didik perlu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, berkomunikasi, menguasai bahasa, memimpin, bekerja sama, dan memahami perbedaan budaya. Kompetensi tersebut menjadi bekal untuk menghadapi tantangan dunia yang semakin terhubung tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai Islam.
Integrasi ilmu agama dengan ilmu kontemporer juga menjadi bagian penting dalam pengembangan pendidikan Islam. Berbagai persoalan masa kini, seperti etika penggunaan kecerdasan buatan, transaksi digital, dan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, dapat dikaji dengan menghubungkan pengetahuan modern dan prinsip-prinsip keislaman.
Selain itu, kerja sama internasional, termasuk antara Indonesia dan Malaysia, dapat membuka peluang pertukaran pengalaman, penelitian bersama, dan pengembangan kualitas pendidikan.
Pilar ketiga adalah inovasi digital. Pemanfaatan Learning Management System (LMS), perpustakaan digital, video pembelajaran, kelas hibrida, dan aplikasi pendukung pembelajaran dapat membantu meningkatkan akses serta kualitas proses pendidikan.
Meski demikian, transformasi digital bukan sekadar memindahkan pembelajaran ke platform daring, melainkan memastikan teknologi benar-benar mendukung kebutuhan pendidik dan peserta didik.
Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) juga memiliki peluang untuk mendukung penyusunan materi, penerjemahan, latihan bahasa, pembuatan pertanyaan diskusi, dan pengorganisasian gagasan. Namun, penggunaannya harus disertai sikap kritis. Risiko informasi yang keliru, plagiarisme, ketergantungan terhadap teknologi, serta persoalan privasi dan keamanan data perlu menjadi perhatian.
Informasi keagamaan yang diperoleh melalui teknologi juga perlu diverifikasi berdasarkan Al-Qur’an, hadis, kitab-kitab otoritatif, dan pendapat ahli yang kompeten.
Sementara itu, Muslimin, S.Pd., M.Pd melalui materi bertajuk “Masa Depan Pendidikan Islam: Mengintegrasikan Nilai-Nilai Islam, Kompetensi Global, dan Inovasi Digital” menekankan bahwa tujuan akhir pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang mampu menyeimbangkan hubungan dengan Allah SWT (hablum minallah), hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas), serta tanggung jawab terhadap alam dan lingkungan.
Keseimbangan tersebut menjadi landasan penting dalam mengembangkan pendidikan Islam di tengah perubahan zaman. Masa depan pendidikan Islam membutuhkan penguatan nilai-nilai keislaman, penguasaan kompetensi global, dan pemanfaatan inovasi digital secara seimbang.
Ketiganya perlu berjalan beriringan agar pendidikan mampu menghasilkan generasi yang berpengetahuan, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Teknologi hendaknya tidak menggantikan nilai dan peran pendidikan Islam, tetapi menjadi sarana untuk memperkuat proses pembelajaran dan memperluas manfaat pendidikan Islam di tengah perkembangan zaman.
Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi perlu tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman serta diarahkan pada pembentukan karakter dan pengembangan potensi peserta didik.
Melalui webinar ini, mahasiswa diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai tantangan dan peluang pengembangan pendidikan Islam. Integrasi nilai-nilai Islam, kompetensi global, dan inovasi digital menjadi upaya untuk membangun pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan landasan keislamannya.
Pendidikan Islam masa depan tidak hanya dituntut untuk mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memastikan bahwa kemajuan tersebut tetap sejalan dengan tujuan pendidikan Islam.
Dengan menjadikan nilai-nilai keislaman sebagai landasan, mengembangkan kompetensi global, dan memanfaatkan teknologi secara bijak, pendidikan diharapkan mampu membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, bertanggung jawab, serta memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
Penulis: Nyssa Larissa Na’imatus Sa’adah (PAI A)
